Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconPemula

Sell in May and Go Away, Apa Hal yang Harus Diketahui Trader dan Investor?

9 Mei 2022, 17:24 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
sell in may and go away

Memasuki bulan Mei, ada fenomena musiman di pasar saham yang disebut dengan istilah sell in May and go away. Hal ini berangkat dari anggapan bahwa saham-saham berkinerja kurang baik pada bulan Mei hingga Oktober.

Bagi yang pertama kali dengar istilah ini, ada beberapa hal yang penting untuk diketahui. Lalu apa saja yang harus dipahami tentang fenomena ini? Apakah anggapan tersebut benar adanya? Cari tahu lebih lanjut dengan baca artikel ini sampai selesai.

Pengertian dan Sejarahnya

Sell in May and go away adalah strategi mengubah diversifikasi aset investasi pada bulan Mei hingga Oktober karena pasar saham dianggap memiliki kinerja yang kurang bagus pada periode tersebut. Fenomena ini biasanya terjadi di luar negeri namun seringkali berimbas pada bursa dalam negeri.

Secara historis, Sell in May and Go Away disebut mengacu ke kebiasaan orang Inggris yang cenderung meninggalkan negaranya pada Mei. Soalnya, periode Mei adalah ketika suhu di Inggris sedang panas-panasnya. Lalu, mereka baru kembali lagi pada St. Leger’s Day atau pada pertengahan September.

Di sisi lain, Sell in May and Go Away juga memiliki versi Amerika Serikat. Jadi, dulu kala, saham sektor pertanian memiliki bobot besar ke pasar saham di Negara Paman Sam. Nah, pergerakan indeks saham pun dipengaruhi oleh masa musim pertanian, dan kecenderungannya ada aksi ambil untung pada Mei. 

Sayangnya, kini bobot sektor pertanian ke pasar saham AS sudah kecil. Namun, Sell in May and Go Away tetap relevan. Pasalnya, ada rutinitas pembagian bonus pada pertengahan april yang membuat adanya aksi beli sepanjang bulan tersebut. 

Ditambah, April juga menjadi periode pengajuan pajak penghasilan. Kedua hal itu dianggap mempengaruhi aksi momentum Sell in May and Go Away. 

Dengan keberadaan Sell in May and Go Away, Pasar saham AS pun memiliki dua siklus utama. Pertama, periode pergerakan harga saham yang terbaik pada periode November-April. Kedua, periode pergerakan harga saham yang tidak begitu bagus pada Mei-Oktober. Kenapa bisa ada dua periode tersebut?

Baca juga: Rebalancing Portofolio: Seni Mengelola Risiko yang Harus Dilakukan Saat Berinvestasi

Sell in May and Go Away dan Dua Siklus Saham AS

Apa yang membuat pasar saham di bulan Mei sampai Oktober menjadi kurang perform dibandingkan bulan November sampai April? Ada beberapa alasan yang perlu diketahui di mana pada bulan November sampai April akan ada banyak sentimen positif yang tentunya membuat tren besar menjadi bullish. Di antaranya, yaitu:

1.       Window dressing

Window dressing merupakan strategi yang biasanya dilakukan fund manager untuk mempercantik portofolio investasi mereka. Caranya dengan menjual saham di bulan September dan Oktober lalu membeli kembali saham-saham berfundamental bagus yang terdiskon di bulan November dan Desember. Alhasil pada akhir tahun kinerja investasinya akan terlihat bagus.

2.       January effect

Alasan sell in May and go away selanjutnya adalah fenomena January effect. January effect merujuk pada optimisme investor bahwa bulan Januari membuka peluang profit di pasar saham. Biasanya ditandai oleh IHSG yang cenderung menguat di mana Sebagian besar harga saham mengalami kenaikan dibandingkan bulan lain. Selengkapnya tentang January effect dapat dibaca di artikel berikut ini.

Baca juga: Apa itu January Effect? Memahami Tren Musiman di Pasar Saham

3.       Rilis Laporan Keuangan Tahunan

Pada bulan Januari, Februari, dan Maret akan ada banyak perusahaan yang merilis laporan keuangan untuk bulan Desember tahun sebelumnya. Contohnya laporan keuangan tahun 2021 dirilis di sekitar awal tahun 2022.

Biasanya laporan keuangan kuartal keempat hasilnya akan lebih bagus daripada kuartal pertama, kedua, dan ketiga. Sebab pada kuartal pertama perusahaan masih dalam tahap perencanaan. Kemudia kuartal kedua perusahaan sudah mulai mengiplementasikan rencana tersebut, lalu di kuartal ketiga hasilnya baru mulai terlihat. Hal ini lantas membuat hasil pada kuartal keempat menjadi jauh lebih jelas.

Selain ketiga alasan di atas, ada sentimen lain dari big fund yang mulai melakukan profit taking pada pertengahan tahun, lebih tepatnya mulai bulan April. Oleh karena itu market bergerak stagnan pada di bulan April dan Mei.

Baca juga: 3 Momen Profit Taking Terbaik dalam Trading Saham

Strategi Sell in May and Go Away Secara Historis

Beberapa kali performa saham di bulan November hingga April terbukti lebih unggul dibandingkan bulan lainnya. Berikut adalah return historis bulanan indeks S&P 500 dari tahun 1928 hingga September 2020 menurut Yardeni Research.

sell in may and go away

Berdasarkan grafik di atas, total return bulan November hingga April mencapai 5,2%. Sementara itu return enam bulan setelah bulan Mei hanya 2,4%. Uniknya jika kita perhatikan lagi, periode Mei sampai Oktober mencatatkan penguatan dan pelemahan terbesar secara historis. Di sisi lain saham-saham di bulan November sampai April tampak berkinerja secara lebih konsisten.

Lalu bagaimana dengan IHSG? Apakah sell in May and go away terjadi di bursa dalam negeri?

sell in may and go away

sell in may and go away

Merujuk pada data di atas, efek fenomena sell in May and go away terasa sampai ke dalam negeri. Terlihat peluang penurunan di bulan Mei secara historis memang lebih besar dibandingkan dengan kenaikan.

Baca juga: 3 Mindset Trading Saham Agar Profit Lebih Maksimal

Menakar Peluang Sell in May and Go Away 2022

Pada tahun ini, peluang terjadinya sell in May and go away terbuka cukup lebar. Hal ini sangat wajar melihat ada sejumlah risiko ekonomi yang sejauh ini semakin meningkat intensitasnya. Sehingga investor dan trader perlu mengelola ekspektasi dikarenakan downside lebih besar dibandingkan upside-nya.

Sentimen-sentimen pendorongnya:

  • Potensi kenaikan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia (BI) sebagai respons dari peningkatan inflasi dan Fed Fund Rate (FFR)

  • Dampak konflik Rusia-Ukraina

  • Target pertumbuhan global direvisi turun oleh World Bank dan IMF

  • Market overpriced, valuasi IHSG tertinggi di Asia Pasifik

Baca juga: Technical Rebound Saham: Pengertian dan Cara Identifikasinya

Demikian penjelasan mengenai fenomena sell in May and go away di pasar saham yang harus kamu ketahui. Melihat adanya potensi penurunan pada tahun ini, hal apa saja yang penting dilakukan trader dan investor? Yuk, upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade.

Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelPemula

Perhitungan Break Even Point Supaya Kamu Tahu Sudah Untung atau Belum

13 Jan 2023, 16:28 WIB
article
ArtikelTeknikal

Ciri-Ciri Saham yang Menarik untuk Trading Saat Market Turun

10 Jan 2023, 15:32 WIB
article
ArtikelPemula

Istilah Price In Harga Saham, Apa Maksudnya?

10 Nov 2022, 16:18 WIB
price in harga saham
ArtikelPemula

Aset Safe Haven Emas, Pahami Maksud dan Keuntungannya Di Sini

11 Nov 2022, 16:21 WIB
aset safe haven emas
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi