Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-icon

TA 2. Dasar Analisis Teknikal : Dow Theory

7 Feb 2022, 16:17 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Analisis teknikal berawal dari Dow Theory, yaitu sekumpulan hasil pemikiran oleh Charles H Dow (1851 - 1902) dan Edward Jones yang ditulis dalam koran Wall Street. Dow adalah seorang wartawan sekaligus editor dari Wall Street Journal. Menariknya, Dow pernah melakukan penelitian dengan membagi saham di Wall Street menjadi 2 kelompok, yaitu Industrial dan Transportation Index. 

Akhirnya, ide cemerlang dari Charles Dow beserta mitranya Edward Jones diterbitkan dalam Wall Street Journal dan hingga saat ini menjadi pegangan utama bagi seluruh technicalist untuk melakukan analisis. 

Terdapat enam teori dasar dalam Dow Theory ini, antara lain : 

  1.  Price Discounts All News 


Seperti yang sudah diulas dalam poin “Mengapa Menggunakan Analisis Teknikal”, bahwa segala sesuatu yang terjadi di pasar mempengaruhi tindakan dari trader dan investor sehingga semua aktivitas itu tercermin dalam harga saham

Bahkan, dengan menggunakan analisis teknikal secara benar, seorang pemula bisa untung dari beli jual saham (ataupun instrument lain), tanpa banyak memahami berita, analisis makro maupun mikro (fundamental perusahaan).

Baca juga: Cara Mengetahui Likuiditas Saham Lewat Bid dan Offer

  1. There are Three Kinds of Market Cycles

Teori analisis teknikal dari Dow Theory selanjutnya adalah harga saham bergerak dalam sebuah siklus. Ada siklus besar, menengah dan kecil.

  • Primary movement / siklus besar, rentang waktu sekitar 5 tahun, bisa dimanfaatkan untuk investasi jangka panjang.

  • Secondary movement / siklus menengah, dengan rentang waktu sekitar 6 bulan, untuk semi investing, ataupun untuk super trading.

  • Minor movement / siklus jangka pendek, dengan rentang waktu < 1 bulan, dimanfaatkan untuk swing trading.

 


Ada pula siklus yang lebih besar dari primary movement, yaitu siklus 10 tahunan, dan siklus 30 tahunan. Semakin besar sebuah siklus, maka jika terjadi koreksi harga saham pun akan semakin dalam seperti yang terjadi pada tahun 1929, 1998, 2008 dan 2020.

 

Memahami posisi kita dalam sebuah siklus adalah hal terpenting bagi kita dalam melakukan analisis teknikal, sebelum melihat trend, dan juga harga dan volume secara lebih detil.


Baca juga: 3 Momen Terbaik Profit Taking Terbaik dalam Trading Saham


  1. Each Cycle has Three Phases / Trends

Baik dalam siklus besar, menengah, maupun kecil, terdiri dari tiga fase (trend), yaitu : 

  • Tren naik (uptrend), adalah fase ketika harga saham bergerak dalam kecenderungan arah naik. 

  • Tren turun (downtrend), adalah fase ketika harga saham bergerak dalam kecenderungan arah turun. 

  • Tidak naik ataupun turun (no trend / sideways), adalah fase ketika harga saham bergerak dalam pergerakan yang random (tidak naik maupun turun)

 

Hal kedua yang perlu dilakukan setelah memahami posisi kita dalam sebuah siklus adalah memahami tren yang sedang terjadi saat ini seperti apa. Jika harga saham naik, namun sedang dalam tren turun, hal tersebut menunjukkan risiko masih cukup besar. Demikian pula sebaliknya, ketika harga saham turun, dalam trend besar yang sedang naik, maka bisa jadi hal tersebut merupakan kesempatan.

 

Baca juga: Cara Tahu Area Retracement, Boleh Beli Habis Naik?

  1.  Indices Must Confirm Each Other 

Indeks merupakan perhitungan rata-rata dari kumpulan saham yang dihitung dengan mempertimbangkan kapitalisasi / ukuran dari saham yang beredar. 

 

Setiap indeks yang terkait harus saling mengkonfirmasi satu sama lain. Pemikiran ini berangkat dari hasil penelitian dan pengamatan Dow bahwa ketika kondisi perusahaan manufaktur menguat , maka indeks perusahaan terkait juga akan ikut naik. 

 

Hal inilah yang mendasari pemahaman bahwa ketika berbagai bisnis dalam iklim yang baik , maka indeks sektoral akan menguat, demikian pula dengan indeks harga saham secara keseluruhan. 

Baca juga: Value Trap: Ada dan Bagaimana Cara Menghindarinya?

  1. Volume Must Confirm the Trend


Prinsipnya, pergerakan harga dan volume harus saling mengonfirmasi satu sama lain. Yang artinya ketika harga naik dan diiringi dengan volume yang meningkat hal itu menunjukkan bahwa tren yang sedang berlangsung kuat. Demikian pula sebaliknya. 

 

Volume menjadi sebuah data yang sangat penting sekali, dan kita akan bahas lebih dalam lagi pada sub topik “Price & Volume Analysis”.


Baca juga: Gap dalam Chart Saham: Pengertian dan Jenis-Jenisnya

 

  1. Trends Persist Until a Clear Reversal Occurs 

Tren harga sebuah saham akan selalu melanjutkan pergerakan yang terjadi sebelumnya

selama tren masih berlangsung dan sampai nampak tanda pembalikan arah. 

 

 

Tanda pembalikan arah ini bisa kita ketahui dengan menarik garis support dan resisten yang menjadi batas dari setiap tren.

 

Memahami sinyal pembalikan arah lebih awal memungkinkan kita untuk

  • Mengenali kapan tren  turun mulai terjadi, menghindari kerugian ketika harga saham mulai turun / mengawali tren turun.

  • Mengenali kapan tren naik mulai terjadi membuat kita lebih siap saat membeli saham tersebut.

  • Mengenali kapan tren naik masih berlangsung bertujuan untuk bisa hold saham tersebut lebih lama dan dapat keuntungan lebih besar.

  • Dan mengenali kapan trend sideways terjadi bertujuan untuk meminimalisir risiko karena kondisi ketidakpastian saat sideways.


Baca juga: Cara Baca Laporan Keuangan Saham, Apa yang Harus Diperhatikan?


Note : Strategi Super Trader memanfaatkan trend saham dalam jangka menengah, sehingga ketika terjadi turunnya harga saham dalam jangka pendek, dengan volume transaksi rendah, hal itu menunjukkan koreksi normal dan tetap hold saham. Namun jika harga saham mulai turun dengan volume transaksi tinggi, hal itu menunjukkan mulai adanya tanda reversal / berakhirnya trend naik, dan menunjukkan sinyal jual untuk Super Trader

 

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

 

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.


emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.






 



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi