Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconPerencanaan Keuangan

4 Prinsip Dasar dalam Financial Planning yang Penting untuk Diterapkan

31 Okt 2022, 16:41 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Financial planning dianalogikan seperti peta yang membantu kita mencapai tujuan hidup. Penerapannya mencakup berbagai aktivitas seperti mengontrol pengeluaran, pendapatan, dan investasi untuk mengelola keuangan pribadi.

Selain itu financial planning yang baik memudahkan dalam hal pengambilan keputusan praktis yang berkaitan dengan arus kas dan tabungan. Hal ini semakin mendekatkan kita dengan apa yang akan dituai di masa depan, yaitu kebebasan finansial.

Berikut adalah prinsip dasar financial planning menurut Ellen May, Founder dan CEO Emtrade.

Penghasilan Lebih Besar Daripada Pengeluaran

Prinsip pertama yang paling penting adalah jangan besar pasak daripada tiang. Alias jangan belanjakan uang yang nominalnya lebih besar daripada penghasilan kita. Kalau pengeluaran lebih besar daripada penghasilan, itu artinya arus kas atau cash flow jadi negatif. Kalau negatif, sebagian besar orang akan memilih untuk berutang. Dengan begitu beban kita justru bertambah dan siklus ini akan terus berputar tidak ada habisnya.

Ini alasannya mengapa menjaga arus kas tetap positif itu penting, Emtraders. Dari sini kita bisa mengalokasikan sisa penghasilan untuk ditabung atau bahkan investasi. Lalu apa yang harus dilakukan?


Salah satu cara untuk mengubah kebiasaan ini adalah dengan melacak setiap pengeluaran. Sehingga bisa dijadikan bahan evaluasi untuk kemudian disesuaikan dengan budget yang dimiliki. Misalnya setelah lihat catatan ternyata uang yang dikeluarkan untuk hiburan menghabiskan hampir 50% penghasilan. Nah, berhubung hiburan sifatnya hanya keinginan dan bukan kebutuhan dasar, kamu bisa pangkas budget tersebut.

Baca juga: Lifestyle Inflation Bikin Susah Bebas Finansial, Benarkah?

Active Income Sebelum Passive Income

Prinsip berikutnya adalah prioritaskan active income sebelum passive income. Banyak orang yang terpikir ingin dapat passive income sampai-sampai lupa belum punya active income. Sebagai informasi, active income merupakan uang atau gaji yang diterima saaat bekerja. Sedangkan passive income lebih seperti penghasilan yang tetap bisa diperoleh sekalipun tidak aktif bekerja. Misalnya, dividen saham, sewa properti, dan lain sebagainya.

Kenapa harus prioritaskan active income? Sederhananya tanpa active income, tidak ada sumber modal untuk mendapatkan passive income. Mau untung dari saham, tentu harus beli sahamnya dulu. Dari mana modalnya? Dari active income yang didapat dari pekerjaan penuh waktu.

Jika investasi pakai uang panas seperti hasil ngutang, hampir bisa dipastikan keuntungan yang diperoleh sulit untuk bisa sustain. Belum lagi ada tekanan yang mengharuskan untuk cuan dalam waktu cepat karena harus melunasi utang tersebut. Otomatis keputusan yang diambil jadi kurang objektif karena terbawa emosi. Oleh sebab itu sebaiknya fokus mencari active income dulu.

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Piramida Keuangan dan Gimana Urutannya?

Investasi

Kalau active income sudah aman, baru kita bisa berinvestasi dengan hati yang tenang. Berbeda dengan menabung, berinvestasi mendatangkan keuntungan yang lebih besar yang bikin nilai uang bertambah seiring berjalannya waktu. Sehingga sering kali dijadikan pilihan orang-orang yang mau mengakumulasikan nilai kekayaan mereka.

Instrumen investasi terbaik bukan yang potensi cuannya paling besar. Melainkan yang sesuai dengan toleransi risiko kita. Jadi pertama-tama harus tahu dulu apakah kamu tipe konservatif, moderat, atau agresif? Pilihan investasi untuk masing-masing profil risiko bisa dibaca di artikel berikut ini.

Baca juga: 3 Macam Profil Risiko, Kamu yang Mana?

Prinsipnya Secara Psikologi

Berbicara tentang investasi, investasi itu lebih ke psikologi daripada numbers. Menurut buku Psychology of Money, sepintar apa pun kita dalam hitung-hitungan financial planning kalau secara psikologi masih belum beres, keuangan  juga tidak akan beres.

Ada satu prinsip psikologinya, yaitu seberapa kita mencukupkan diri dengan apa yang ada di diri kita. Contohnya saat punya saham nyangkut di perusahaan yang fundamentalnya kuat. Selama kebutuhan hidup selalu berkecukupan, seharusnya tidak perlu terlalu dipikirkan karena dalam jangka panjang masih berpotensi naik.

Nah, hal ini juga yang memungkinkan kita untuk terhindar dari masalah-masalah keuangan. Dengan merasa cukup, kita tidak perlu berutang ke sana-sini. Hidup tenang dengan apa yang dimiliki.

Baca juga: Delayed Gratification: Rahasia Menuju Financial Freedom

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi