Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconFundamental

Book Value: Pengertian, Contoh, dan Cara Menghitungnya

24 Mei 2022, 10:21 WIB
Bagikan s
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
book value adalah

Jika kamu seorang investor saham yang familiar dengan analisis fundamental, pasti sudah tidak asing dengan rasio price to book value. Rasio ini digunakan untuk mencari valuasi saham dari sektor tertentu, biasanya perbankan, serta saham yang belum menghasilkan laba bersih.

Namun sebelum mempelajari PBV lebih jauh, sebaiknya kita pahami dulu tentang apa itu book value yang menjadi komponen dalam perhitungan rumus PBV. Untuk itu mari simak penjelasan selengkapnya di artikel ini.

Pengertian Book Value

Book value atau yang dalam Bahasa Indonesia-nya nilai buku, juga dikenal sebagai ekuitas yang mana dalam pengertian akuntansi merupakan nilai kekayaan bersih perusahaan. Ekuitas dapat diketahui dari selisih sisa kepemilikan aset dengan liabilitas dan aset tidak berwujud. Selain itu book value juga bisa dihitung dengan cara mengurangi nilai aset terhadap akumulasi atau penyusutannya. Informasi ini biasanya disajikan di dalam laporan neraca keuangan pada bagian aktiva.

Kenapa disebut nilai buku? Sebenarnya nilai buku berasal dari istilah akuntansi di mana neraca keuangan dikenal sebagai “buku” perusahaan. Bahkan dulu akuntansi disebut dengan istilah pembukuan. Dengan demikian nilai buku sama seperti nilai akuntansi. 

Dalam konteks saham, book value atau nilai buku berfungsi untuk melihat berapa harga per saham dari total ekuitas yang dimiliki perusahaan. Nantinya book value per share (BVPS) dihitung untuk menentukan price to book value (PBV) yang gunanya untuk menunjukkan nilai dari aset perusahaan yang akan diterima pemegang saham jika perusahaan tersebut dilikuidasi. apakah saham dari perusahaan tersebut diperdagangkan di atas atau di bawah harga pasar. 

Untuk diketahui, market value seringkali lebih besar dibandingkan book value. Alasannya karena book value hanya menghitung biaya untuk likuidasi aset tetap dan saham perusahaan serta tidak mengikutsertakan aset tidak berwujud seperti paten, kekayaan intelektual, nilai merek, dan sebagainya. 

Selain itu book value juga tidak memperhitungkan human capital serta bagaimana suatu aset akan menghasilkan keuntungan dan pertumbuhan dari waktu ke waktu. Maka dari itu market value atau nilai pasar yang umumnya mempertimbangkan semua hal tersebut, akan lebih tinggi dibandingkan book value.

Baca juga: Value Trap: Apa dan Bagaimana Cara Menghindarinya?

Faktor Penyebab Perubahan Book Value

Dikutip dari Warta Ekonomi, perubahan book value suatu perusahaan disebabkan oleh tiga hal:

  • Adanya investasi baru dari pemilik perusahaan yang akan menambah aset perusahaan sekaligus menambah modal pemilik pada sisi pasiva. Sehingga hal ini akan meningkatkan book value perusahaan. Berlaku sebaliknya di mana pemilik menarik modalnya yang menyebabkan penurunan pada nilai aset dan modal pemilik. Dengan demikian nilai perusahaan akan turut mengalami penurunan.

  • Adanya revaluasi atau penilaian kembali terhadap aktiva atau harta perusahaan. Apabila revaluasi tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan nilai aset, maka nilai modal pemilik dan book value akan ikut meningkat. Begitu pun sebaliknya.

  • Perusahaan memperoleh laba. Laba tentu akan meningkatkan nilai aset serta nilai modal pemilik yang pada gilirannya akan berdampak pada book value yang ikut bertambah. Namun jika perusahaan membukukan kerugian, maka hal ini dapat menurunkan nilai aset dan nilai modal pemilik yang berarti pula menurunkan book value.

Baca juga: Nilai Intrinsik Saham: Pengertian, Manfaat, dan Cara Menghitungnya

Contoh Book Value dan Cara Menghitungnya

Untuk menghitung book value, kita membutuhkan dua data, yaitu ekuitas dan jumlah saham beredar.

Ekuitas merupakan informasi terkait modal keseluruhan yang dimiliki perusahaan dalam tahun keuangan berjalan. Cara mencarinya di laporan keuangan ada di halaman Ekuitas bagian Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Sebab komposisi modal perusahaan dapat berasal dari pihak luar yang berinvestasi sebagai bentuk kerjasama bisnis, sehingga tidak bisa diakui sebagai modal perusahaan induk. Atau penanaman modal dari perusahaan anak yang juga tidak bisa diakui oleh perusahaan induk.

Sedangkan jumlah saham beredar pada dasarnya adalah total saham yang diterbitkan oleh pihak perusahaan. Jumlahnya akan berkurang apabila terdapat saham treasuri. Selain itu aksi korporasi seperti stock split dan rights issue juga akan memengaruhi jumlah saham beredar yang biasanya dijelaskan dalam laporan keuangan bagian Catatan.

Agar lebih jelas, perhatikan contoh laporan keuangan dari PT Astra International Tbk. (ASII) untuk tahun 2021 di bawah ini.

book value adalah

Berdasarkan data dari laporan keuangan di atas, total ekuitas ASII sebesar Rp172,053 miliar pada bagian Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Kemudian untuk data jumlah saham beredar juga sudah disajikan pada Modal ditempatkan dan disetor penuh, yaitu sebanyak 40.483.553.140 saham. Dengan begitu kita sudah dapat menghitung book value dari ASII seperti berikut ini:

Book Value = Ekuitas / Jumlah Saham Beredar

Book Value = Rp172.053.000.000.000 / 40.483.553.140 saham

= Rp4.249 per saham.

Baca juga: Cara Membaca Laporan Keuangan Perusahaan Tbk

Book Value untuk Analisis Fundamental Saham

Dalam melakukan analisis fundamental, book value bersamaan dengan harga saham dihitung untuk mengetahui valuasi dari saham yang diterbitkan perusahaan. Rasio perhitungannya disebut PBV atau Price to Book Value.

Biasanya rasio ini digunakan untuk menghitung valuasi saham sektor perbankan yang modal intinya jadi salah satu faktor kondisi keuangan perusahaan. Atau bisa juga untuk perusahaan yang belum memperoleh laba. Rumus PBV adalah sebagai berikut:

PBV = Harga Saham / Nilai Buku Per Saham

Nah, karena nilai buku atau book value ASII sudah diketahui, kita bisa langsung menghitung PBV-nya saja. Menggunakan harga penutupan hari Jumat kemarin (20/05) sebesar Rp7.125, maka PBV dari ASII:

PBV = Rp7.125 / Rp4.249 = 1,6 x

Untuk mengetahui apakah dengan PBV 1,6x saham ASII terdiskon, fair value, atau sudah kemahalan, bandingkan PBV-nya secara historis 3-5 tahun ke belakang. Atau secara sektoral di mana PBV ASII dibandingkan dengan PBV dari perusahaan lain yang ada di industri yang sama.

Baca juga: 3 Cara Mengetahui Big Investor Masuk ke Saham Tertentu

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan s
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Deretan Saham Big Caps yang Terdiskon, Mana yang Potensial?

18 Apr 2024, 16:47 WIB
article
ArtikelInsight

Adu Kuat Kinerja Big Bank Hingga November 2023

17 Jan 2024, 08:59 WIB
article
ArtikelInsight

Mana Saham Properti yang Valuasinya Paling Murah? Cek di Sini!

11 Jan 2024, 13:38 WIB
article
ArtikelFundamental

Laba Bersih vs Arus Kas, Mana yang Lebih Penting?

6 Des 2022, 15:37 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi