Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Saham IPO AMMN Jadi Big Caps di Hari Pertama Listing, Begini Prospek Bisnisnya

7 Jul 2023, 13:27 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Hari ini PT Amman Mineral International Tbk (AMMN) resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham AMMN langsung masuk ke dalam jajaran big caps kurang dari satu jam listing dengan kapitalisasi di atas Rp100 triliun.


Berdasarkan data pukul 9.20 WIB, AMMN sudah naik 2,60% ke level Rp1.730 dari harga IPO di Rp1.695. Kapitalisasi pasar pun melesat mencapai Rp124,41 triliun. Angka ini hampir mendekati kapitalisasi pasar PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Di mana, saat ini market cap-nya sebesar Rp132,07 triliun. 


Selain itu, IPO AMMN adalah yang terbesar sepanjang 2023. Emiten tambang grup Medco ini menerbitkan 6,32 miliar saham atau setara 8,8% saham yang dilepas ke publik. Dengan begitu nilai penawaran umumnya mencapai Rp10,73 triliun.


Pertanyaannya, apakah prospek AMMN cukup menarik? Mari kita simak ulasannya di bawah ini.

Profil AMMN

AMMN merupakan perusahaan induk yang berbasis di Indonesia dan aktif dalam kegiatan eksplorasi, pembangunan, penambangan, pemrosesan, dan di masa mendatang, pengolahan dan pemurnian di Indonesia melalui anak perusahaan dan entitas terkait Perseroan. 


Melalui anak perusahaan, yaitu PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), AMMN mengoperasikan tambang terbuka yang dikenal sebagai tambang Batu Hijau di Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. 


Tambang Batu Hijau menghasilkan konsentrat tembaga berkualitas tinggi yang juga mengandung emas dan perak sebagai mineral pengekor, yang merupakan bahan mentah yang sangat diminati oleh pabrik peleburan di seluruh dunia. Hingga 31 Desember 2022, tambang Batu Hijau telah menghasilkan secara total 9.400 juta pon tembaga dan 9,5 juta ons emas.


Menurut laporan Wood Mackenzie “Copper and Gold Markets and Asset Benchmarking Report” yang terbit pada bulan Mei 2022, tambang Batu Hijau yang dioperasikan oleh AMNT adalah produsen tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia setelah tambang Grasberg yang dioperasikan oleh PT Freeport Indonesia, dan memiliki cadangan tembaga terbesar kelima di dunia apabila dikombinasikan dengan Cebakan Elang.


Baca juga: Prospek VKTR: Anak Usaha Bakrie yang Mau IPO, Apakah Cerah?

Prospek AMMN

Permintaan Tembaga Melebihi Produksi

Wood Mackenzie memperkirakan pada tahun 2027 permintaan primer untuk tembaga akan melebihi produksi dari tambang yang beroperasi saat ini dan proyek terkira. Kekurangan pasokan tembaga diperkirakan akan meningkat dari 0,7 Mt pada tahun 2027 menjadi 15,5 Mt pada tahun 2040.


Dengan permintaan yang lebih besar dibandingkan produksi dalam jangka panjang, ada potensi harga tembaga ke depannya mengalami lonjakan dan akan menguntungkan AMMN sebagai penambang tembaga.

Pemenuhan untuk Kebutuhan EV

Permintaan tembaga dunia saat ini didorong oleh pertumbuhan sektor energi terbarukan terutama kendaraan listrik (EV). Goldman Sachs memperkirakan permintaan tembaga dari sektor EV mencapai 1 juta ton di tahun ini dan naik menjadi 1,5 juta ton di 2025. 


Untuk diketahui, pada tahun 2022 lalu produksi EV berkontribusi dua pertiga dari peningkatan permintaan tembaga global. Adapun kemungkinan EV akan menyumbang 27% dari konsumsi tembaga tambahan sepanjang dekade berikutnya.


Hal ini dapat menjadi peluang bagi AMMN untuk memperkuat posisi sebagai salah satu produsen tembaga terbesar di dunia. Adapun cadangan bijih AMMN untuk tambang Batu Hijau dan proyek eksplorasi Elang per tanggal 31 Desember 2022 sesuai JORC Code 2012 (Australasian Joint Ore Reserves Committee) adalah sebesar 17,12 miliar pon tembaga dan 23,2 juta ons emas.


Namun, yang perlu digaris bawahi adalah harga acuan tembaga di London Metal Exchange (LME) terkoreksi 7,5% pada kuartal II/2023 lantaran pemulihan permintaan di China yang lambat dan kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi dunia.


Dalam jangka panjang, penggunaan tembaga untuk EV juga diperkirakan turun dengan jumlah tembaga per EV menjadi 65 kg per unit pada 2030 dibandingkan dengan 73 kg pada 2022.

Biaya C1 Cash Cost Rendah

AMMN merupakan salah satu operator penambangan dan pemrosesan tembaga dan emas dengan biaya C1 cash cost terendah di dunia. Hal ini didukung oleh kandungan emas dan perak yang tinggi dari cadangan bijih serta peningkatan produktivitas dan efisiensi operasional.




Biaya C1 Cash Cost, termasuk kredit dari emas dan perak sebagai mineral pengikutnya, diperkirakan sebesar US$(1,28) per lb pada tahun 2023, memposisikan tambang Batu Hijau sebagai tambang tembaga dengan biaya terendah di dunia.


Dengan biaya tunai produksi yang rendah, ini akan meningkatkan profitabilitas bagi bisnis perusahaan.


Baca juga: Distributor Coca-Cola (GRPM) Siap IPO, Gimana Prospeknya?

Rencana Penggunaan Dana IPO

  • Rp 1,79 triliun akan digunakan sebagai penyetoran modal kepada PT Amman Mineral Industri (AMIN) untuk membiayai pengeluaran modal atas proyek smelter dan pemurnian logam mulia di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

  • Rp 3,05 triliun akan digunakan untuk melunasi utang kepada AMNT

  • Sisa dana akan digunakan untuk penyetoran modal kepada AMNT untuk membiayai pengeluaran modal proyek ekspansi pabrik konsentrator dan proyek pembangkit listrik tenaga gas dan uap di KSB, Provinsi NTB.

Kinerja Keuangan AMMN

AMMN mencatatkan peningkatan laba bersih yang mencapai 244,90% sepanjang 2022 menjadi US$1,09 miliar dari US$317,04 juta. Peningkatan laba bersih didukung oleh pertumbuhan pendapatan yang signifikan sebesar 117,86% menjadi US$2,83 miliar dari US$1,29 miliar.


Rinciannya, pendapatan AMMN mayoritas ditopang oleh segmen tembaga sebesar US$1,61 miliar. Jumlah ini tumbuh 56,10% dari sebelumnya Rp1,03 miliar. Sedangkan segmen emas menghasilkan US$1,22 miliar atau naik 354,81% dari sebelumnya US%268,60 juta. Penjualan keduanya dilakukan ke wilayah luar negeri.


Pertumbuhan profitabilitas diikuti beban pokok penjualan yang meningkat 197% menjadi US$1,92 miliar dari US$646,21 juta. Namun, laba kotornya masih naik 151,03% menjadi US$1,64 miliar dari US$652.85 juta.


Baca juga: Kepentingan Non-Pengendali pada Laporan Keuangan itu Apa Sih?

Kondisi Neraca AMMN

Tahun lalu aset AMMN naik 24,91%  menjadi  US$6,49 miliar dari US$5,20 miliar. Posisi kas dan setara kas juga mengalami peningkatan % menjadi US$817,75 dari US$557,81 miliar. 


Di sisi lain utang bertambah 6,70% menjadi US$2,89 miliar dari US$2,71 miliar. Total modal atau ekuitas juga mengalami kenaikan menjadi 45,90% menjadi US$3,53 miliar dari US$2,71 miliar.


Maka dapat disimpulkan ekuitas positif karena besarnya utang tidak melebihi total ekuitas yang dimiliki. 


Rasio utang terhadap aset (debt to asset/DAR) dan utang terhadap ekuitas (debt to equity/DER) sepanjang tahun 2022 mengalami penurunan masing-masing menjadi 0,3x dan 0,5x. Ini menjadi pertanda bagus bagi kesehatan keuangan perusahaan. Sebagai informasi, DER terus mengalami penurunan sejak tahun 2020.


Baca juga: Kegunaan Rasio Solvabilitas dalam Investasi Saham

Kebijakan Dividen

Sejak tahun 2019 sampai saat ini, AMMN belum membagikan dividen kepada para pemegang saham. Perolehan laba bersih difokuskan untuk memperkuat likuiditas.


Menurut manajemen, keputusan pembagian dividen akan bergantung pada beberapa faktor, termasuk pendapatan dan laba perseroan dalam periode tersebut, ketersediaan dana cadangan wajib, kebutuhan belanja modal, dan rencana investasi perseroan. 


Pertimbangan juga meliputi kinerja operasional, kondisi keuangan, arus kas, dan likuiditas perseroan, peluang akuisisi, prospek bisnis di masa depan, kepatuhan terhadap hukum dan peraturan, serta persyaratan lainnya.

Valuasi AMMN

Pada tahun 2022, AMMN mencatatkan laba bersih sebesar US$1,09 miliar. Dengan jumlah saham yang beredar sebanyak 6,3 miliar dan asumsi nilai tukar sebesar Rp15.000 per dolar AS, valuasi AMMN mencapai 7,4 kali price to earnings (P/E) 2022. Angka ini mengindikasikan diskon sebesar 17,7% dibandingkan dengan rata-rata industri. Sementara itu, rasio EV/EBITDA AMMN sebesar 5,2 kali, atau 3,6% lebih tinggi dari rata-rata industri.


Baca juga: Cara Menentukan Harga Wajar Saham, Sudah Tahu Belum?


Bagaimana menurutmu? Apakah AMMN cukup menarik? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2023, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi