Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Resesi 2023 Dinilai Mirip Krisis Perang Teluk, Begini Sejarah dan Persamaannya

14 Okt 2022, 15:58 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
krisis perang teluk

Baru-baru ini IMF dan World Bank kembali meningkatkan sinyal resesi global yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2023. Saat ini pun negara adidaya Amerika Serikat (AS) sudah mulai memasuki era perlambatan ekonomi, imbas dari kebijakan moneter yang dijalankan guna menahan laju inflasi.

Jika kita kilas balik, perekonomian dunia memang beberapa kali sempat menghadapi kondisi yang sulit. Termasuk resesi yang terjadi pada tahun 1970 atau biasa disebut krisis Perang Teluk karena banyak dipicu oleh upaya invasi dan aneksasi Irak terhadap Iran dan Kuwait.

Tahukah kamu? Digadang-gadang potensi resesi 2023 bakal mirip dengan resesi 1970 saat dunia dilanda krisis minyak yang akhirnya meningkatkan angka inflasi. Lantas, sebenarnya apa yang terjadi pada saat itu? Dan seberapa parah krisis ekonomi yang menimpa dunia?

Sejarah Singkat Perang Teluk

Jauh sebelum Perang Teluk berlangsung, Inggris berencana untuk meninggalkan kawasan Teluk Persia pada akhir tahun 1960-an. Kala itu Inggris menjajah sejumlah negara di sekitar Teluk Persia yang akhirnya memicu perubahan geopolitik di wilayah tersebut.

Di sisi lain Irak dan Iran berselisih akibat permasalahan teritorial. Ketegangan di antara dua negara ini pun muncul kembali sepanjang tahun 1970-an. Hal ini dipicu oleh sengketa wilayah Shatt Al-Arab dan Khuzestan. 

Shatt Al-Arab merupakan sungai yang lokasinya tepat berada di perbatasan Irak dan Iran, yaitu Teluk Persia. Sementara itu Khuzestan menjadi wilayah sengketa karena memiliki sumber daya alam yang berlimpah berupa minyak. Nah, wilayah ini diklaim oleh Irak karena Inggris sudah menyerahkan daerah tersebut ketika Irak merdeka dari jajahannya.

krisis perang teluk

Selain itu perang senjata antara kedua negara dipicu oleh revolusi Islam di Iran. Irak khawatir revolusi akan menyebar ke negara-negara Arab lainnya.

Beberapa tahun setelah peperangan di Teluk Persia, Irak kembali menyerang Kuwait yang menjadi awal dimulainya Perang Teluk II pada tahun 1990-an.

Baca juga: Krisis Global 2008: Latar Belakang, Kronologi, dan Upaya Pemerintah

Dampak Luas Perang Teluk

Dari segi ekonomi, Perang Teluk menghasilkan kerugian sebesar US$500 juta pada kedua negara yang terlibat. Pemulihan kondisi ekonomi di masing-masing negara pun terhambat karena kondisi ladang minyak yang hancur akibat perang.

Alhasil produksi minyak menurun signifikan dan harganya mulai melambung. Harga minyak melonjak dari harga rata-rata sebelum invasi US$18 per barel menjadi US$40 per barel.

Dampak dari Perang Teluk terasa bahkan hingga beberapa tahun setelahnya. Perubahan suplai minyak dan kenaikan harganya menyebabkan angka inflasi melesat tajam serta pelemahan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di sejumlah negara.

Inflasi AS dari 2,4% pada Agustus 1972 menjadi 7,4% setahun kemudian. The Fed terpaksa menaikkan suku bunga menjadi 10% pada akhir 1972 hingga pertengahan 1973 demi menjinakkan liarnya kenaikan inflasi.

Kemudian kebijakan moneter di negara-negara maju lainnya turut diperketat seperti Jepang, Italia, Jerman, dan Inggris. Akibatnya, angka pengangguran ikut naik. Di AS pengangguran mencapai 9% pada Mei 1975. Adapun sejumlah negara di Amerika Latin menghadapi krisis di mana mereka kesulitan membayar utang imbas dari naiknya suku bunga global dan jatuhnya harga komoditas.

Baca juga: Cara Investor Dunia Tetap Cuan Saat Resesi 2008, Ada Warren Buffett!

Persamaan Kondisi Saat Ini dengan Krisis Perang Teluk

Dikutip dari Brookings, berikut adalah persamaan antara krisis Perang Teluk dengan kondisi ekonomi global saat ini pada tiga aspek, yaitu:

  • Perlambatan ekonomi setelah resesi global

Ekonomi global telah bangkit dari resesi pandemi Covid-19 tahun 2020 seperti yang terjadi selama periode stagflasi setelah resesi 1975. Inflasi rata-rata global selama tahun 1973-1983 sebesar 11,3% per tahun. Sementara kenaikan inflasi sejak resesi Covid-19 memang tidak terlalu curam jika dibandingkan setelah resesi 1975. 

Namun, pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan terbilang cukup lemah. Antara tahun 2021-2024, pertumbuhan global diproyeksikan melambat sebesar 2,7%, lebih dari dua kali lipat antara tahun 1976 dan 1979.

krisis perang teluk

  • Disrupsi suplai pasca akomodasi kebijakan moneter

Gangguan pasokan pangan dan energi yang disebabkan oleh pandemi dan perang geopolitik Rusia-Ukraina menyerupai guncangan minyak pada tahun 1973 dan 1979-1980. Faktanya, kenaikan harga energi pada tahun 1970-an dan periode 2020-2022 merupakan yang terbesar dalam 50 tahun terakhir.

krisis perang teluk

  •  Kondisi pasar dan ekonomi negara berkembang

Kondisi di tahun 1970-an, awal 1980-an, dan sekarang dinilai serupa. Utang tinggi, inflasi tinggi, dan posisi fiskal yang lemah membuat pasar dan ekonomi negara berkembang (EMDE/emerging market and developing economies) rentan terhadap pengetatan kondisi keuangan.

Stagflasi 1970-an bertepatan dengan gelombang akumulasi utang global pertama dalam setengah abad terakhir. Suku bunga riil global yang rendah serta perkembangan pasar pinjaman sindikasi mendorong lonjakan utang EMDE, terutama di Amerika Latin dan negara lain berpenghasilan rendah.

Sementara itu tahun 2010-an hingga saat ini menunjukkan adanya gelombang lanjutan dari akumulasi utang global dengan peningkatan terbesar, tercepat, dan paling luas dalam hal utang pemerintah EMDE selama 50 tahun terakhir.

Baca juga: Risiko Fluktuasi Kurs Rupiah, Begini yang Harus Dilakukan Investor

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelPemula

Perhitungan Break Even Point Supaya Kamu Tahu Sudah Untung atau Belum

13 Jan 2023, 16:28 WIB
article
ArtikelPemula

Istilah Price In Harga Saham, Apa Maksudnya?

10 Nov 2022, 16:18 WIB
price in harga saham
ArtikelPemula

Aset Safe Haven Emas, Pahami Maksud dan Keuntungannya Di Sini

11 Nov 2022, 16:21 WIB
aset safe haven emas
ArtikelPemula

Ekonomi AS Diprediksi Double-Dip Recession, Apa Maksudnya?

2 Nov 2022, 15:45 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi