Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Tantangan dan Potensi Pasar Saham di 2022

31 Jan 2022, 11:12 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Memasuki awal tahun 2022, beberapa orang yang aktif di pasar saham biasanya akan mulai mencari tahu terkait berbagai macam hal yang bisa memengaruhi keadaan pasar. Alasannya karena kedua hal tersebut secara bersamaan dapat dijadikan sebagai panduan mereka dalam melakukan transaksi saham pada tahun berjalan.

Untuk membantu menopang pertumbuhan aset portofolio di 2022, artikel kali ini akan memberi ulasan secara mendalam terkait tantangan dan potensi pasar saham. Kira-kira apa saja yang perlu diantisipasi oleh investor?

Tantangan 2022 yang Perlu Diwaspadai

  • Ancaman Varian Omicron

Pada tahun 2022, Omicron tetap menjadi salah satu tantangan yang akan membayangi pasar saham. Varian yang berasal dari Afrika Selatan ini memiliki tingkat penyebaran yang cukup tinggi. Berdasarkan data yang diambil dari Financial Times, jika dibandingkan dengan varian delta dan beta, Omicron dapat menyebar dengan lebih cepat. Namun sejauh ini tingkat risikonya memang lebih ringan seperti flu biasa.


Adapun Kemenkes yang memberikan keterangan terkait ancaman gelombang ketiga dari varian Omicron di Indonesia. Puncak dari penyebaran diprediksi terjadi pada bulan Februari-Maret 2022, imbas dari liburan Natal dan tahun baru kemarin yang ikut mendorong terjadinya penyebaran.

Di bawah ini adalah data kasus global, Amerika, dan Australia yang diambil dari Google Statistik.




Baca juga: Rewind Pasar Saham 2021: Saham Teknologi Muncul, IPO dan Rights Issue Cetak Rekor

  • Inflasi Amerika Serikat

Hal lain yang perlu diwaspadai adalah inflasi yang sangat berkaitan dengan pertumbuhan perekonomian. Sebagai salah satu pemimpin ekonomi global, Amerika Serikat mencatat rekor inflasi tertinggi sejak tahun 1985. Data di bawah menunjukkan inflasi AS sempat bergerak turun saat awal pandemi Covid-19 dan kemudian melonjak tinggi di akhir Desember 2021 menjadi 7%.


Inflasi berpotensi mendorong fleksibilitas The Fed untuk menormalisasi balance sheet dengan cara meningkatkan suku bunga The Fed. Maka yang menjadi tantangan investor di sini adalah transisi dari kebijakan The Fed.

Di tahun 2020 ke 2021, The Fed memiliki kecenderungan dengan kebijakan yang Dovish atau longgar. Sedangkan pada tahun 2021 ke 2022, kebijakannya menjadi Hawkish atau ketat guna mengontrol inflasi. Dari kebijakan itu, akan ada potensi percepatan tapering yang pada gilirannya menaikkan tingkat suku bunga The Fed.


Sumber: Samuel Sekuritas Research

Jika kita kilas balik, The Fed awalnya berencana tapering sebesar $15 miliar tapi kemudian dinaikkan menjadi $30 miliar. Ini berarti tapering yang semula diprediksi selesai pada akhir tahun 2022, otomatis berpotensi selesai di bulan Februari atau Maret 2022. Dan ketika kenaikan suku bunga terjadi, negara-negara lain seperti Indonesia akan terdorong untuk mengikuti kebijakan dari The Fed.

  • Risiko Pertumbuhan GDP Dunia

Meskipun perekonomian sudah terlihat membaik, ancaman varian baru Covid-19 tetap menjadi salah satu tantangan pertumbuhan GDP dunia tahun 2022. Berdasarkan data World Bank, pertumbuhan ekonomi global diprediksi melambat di level 4,1% di 2022 dan 3,2% di 2023.

World Bank juga memberikan proyeksi mengenai perekonomian negara maju seperti Amerika Serikat, Cina, dan Wilayah Eropa  yang akan melambat di tahun 2022 akibat penyebaran kasus virus Omicron.


  • Krisis Energi Masih Berlanjut

Krisis energi yang terjadi pada tahun 2020-2021 berpeluang untuk lanjut di tahun 2022. Menurut data dari Bloomberg, harga CPO dan batu bara sudah naik secara signifikan, bahkan batu bara sempat mencapai harga tertinggi. Dan meskipun saat ini bergerak turun, harga batu bara tetap memiliki peluang untuk mengalami kenaikan harga lagi.

Harga CPO


Harga Batu Bara


Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi perusahan yang menggunakan CPO dan batu bara sebagai bahan baku utama mereka. Kenaikan komoditas otomatis akan mendorong penyesuaian harga jual barang menjadi lebih mahal, sehingga mengganggu pemulihan ekonomi yang diharapkan.

Baca juga: Strategi Investasi Saham, Pilih DCA atau Lump Sum?

  • Kelangkaan Kontainer Mengganggu Distributor

Batu bara biasanya ramai diekspor ke luar negeri seperti Cina, Jepang, dan Korea Selatan saat musim dingin tiba dan dikirim menggunakan kapal atau kontainer. Sayangnya, saat ini sedang terjadi kelangkaan kontainer yang berpeluang mengganggu distribusi ekspor.

Ketika ini terjadi, maka biaya sewa kontainer akan naik yang nantinya juga turut memberatkan kinerja bottom line perusahaan. Sedangkan untuk sisi shipping logistic sendiri diperkirakan akan tetap meningkat di tahun 2022 mengingat kebutuhan batu bara masih cukup menarik ke depannya.

  • Kelanjutan UU Cipta Kerja

Mahkamah konstitusi menyatakan UU Cipta Kerja sebagai institusional dan memberikan waktu dua tahun untuk mengulang proses pembentukan UU Cipta Kerja dari awal. Maka dari itu, peraturan pelaksanaannya perlu dikaji ulang supaya bisa menguntungkan dari sisi perusahaan dan pekerja. Sebab hal ini akan berkaitan dengan pertumbuhan dan perbaikan perekonomian kita ke depannya.

Peluang di Tahun 2022

  • Indonesia Ada di Tahap Pertumbuhan Ekonomi


Terlepas dari tantangan dari Omicron, Indonesia sudah tidak lagi dalam tahap pemulihan, melainkan sudah di tahap pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia menargetkan GDP tahun 2021 tumbuh 3,2-4,0%. Sedangkan 2022 sebesar 4,7-5,5%. Di sisi lain, pemerintah memprediksi ekonomi Indonesia tahun 2022F di level 5-5,5%.

Baca juga: Prospek Saham Blue Chip yang Katanya Cocok Untuk Pemula

  • Inflasi Stabil, Indeks Kepercayaan Konsumen Optimis

Salah satu kekhawatiran ketika perekonomian pertumbuhan adalah ancaman inflasi dari tingginya permintaan konsumen yang berangkat dari pemulihan daya beli. Sedangkan dari sisi produsen, biasanya mereka belum sepenuhnya pulih. Oleh karenanya, ada potensi lonjakan inflasi.

Jika inflasi Amerika Serikat naik signifikan pasca pandemi Covid-19, inflasi dalam negeri sendiri masih berada di bawah 2% atau pada bulan Desember 2021 kemarin masih ada di sekitaran 1,87%. 


Angka itu lebih kecil daripada inflasi sebelum pandemi Covid-19. Maka jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, inflasi di Indonesia masih terpantau stabil.Dengan begitu perekonomian dalam negeri bisa lebih bertumbuh dan kekhawatiran akan inflasi tidak akan begitu besar.

Berbicara tentang inflasi tidak lepas dengan IKK atau Indeks Kepercayaan Konsumen. Pada bulan Oktober-Desember 2021 terjadi kenaikan dan memasuki level di atas 100. Hal ini menunjukkan masyarakat sebagai konsumen sudah mulai optimis dengan kondisi perekonomian Indonesia. Sayangnya, ketidakpastian dari varian Omicron masih menghantui dan berpeluang memengaruhi optimisme masyarakat di tahun 2022.

  • Komoditas Perkokoh Ekonomi Indonesia

Seperti yang diketahui, Indonesia merupakan negara penghasil komoditas yang cukup besar. Mengingat permintaan komoditas global masih tinggi, komoditas berpotensi menjadi penopang ekonomi di Indonesia. Batu bara dan CPO adalah penunjang ekspor terbesar.

Baca juga: Emtrade Research: Tahun Baru, Ekspektasi Baru! Bagaimana Tren Sektor Banking 2022?

  • Covid dan Vaksinasi