Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Menakar Arah IHSG Jelang Lebaran

2 Apr 2024, 12:02 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Pada perdagangan hari Senin kemarin (02/04) IHSG ditutup melemah -1,15% ke level 7205. Penurunan didorong oleh saham-saham perbankan seperti BRIS -5,9%, BMRI -4,8%, BBNI -4,2%, BBTN -4,2%, BBCA -2,2%, dan BBRI -2%.


Hal ini sejalan dengan investor asing yang mencatatkan net sell hingga Rp1,54 triliun di pasar reguler. Saham blue chip menjadi saham yang paling banyak dijual asing, yaitu:

  • BMRI Rp667,5 miliar

  • BBRI Rp331,7 miliar 

  • BBCA Rp329 miliar 

  • TLKM Rp185,1 miliar

  • BBNI Rp156,2 miliar


Dengan demikian, ini mengakumulasi total net sell asing sebesar Rp1,77 triliun dalam sebulan terakhir. Adapun IHSG ikut terkoreksi 1,70% pada periode yang sama.


Sebagai informasi, saat ini pengaruh keluar-masuk modal asing di pasar saham Indonesia masih cukup besar. Alasannya karena asing cenderung punya modal bernominal fantastis, sehingga bisa menggerakkan market, apakah turun atau naik. 


Biasanya ketika asing net buy, maka market berpotensi naik karena menandakan demand yang tercermin dari tekanan beli cukup besar. Begitu pun sebaliknya, ketika asing net sell, maka market berpotensi turun karena tekanan jual cukup tinggi. Jadi, tidak heran jika data net foreign buy dan sell sering kali dijadikan “indikator” tambahan dalam mengambil keputusan di market.


Nah, aksi net sell asing ini disebabkan oleh sentimen nilai tukar rupiah yang lanjut melemah. Kemarin rupiah ditutup turun 0,22% di angka Rp.15885/US$. Penurunan didorong oleh:

  • Surplus neraca dagang Indonesia turun di kuartal I/2024 dari US$3 miliar per bulan jadi US$1,8 miliar per bulan. Ketika surplus berkurang, artinya ada lebih sedikit dolar AS yang masuk ke Indonesia dari hasil ekspor. Ini mengurangi jumlah dolar AS yang tersedia di pasar valuta asing domestik, yang dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah.

  • Asing outflow di obligasi pemerintah, di mana pada 18-21 Maret net sell Rp8,2 triliun. Ketika investor asing menjual obligasi pemerintah Indonesia, mereka mengonversi rupiah ke dolar AS. Sehingga ini bisa menambah tekanan pada rupiah karena meningkatnya permintaan terhadap dolar. 

  • Sentimen The Fed yang belum juga menurunkan suku bunga. Jika The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, maka dolar AS akan menjadi lebih menarik bagi investor karena potensi return yang lebih tinggi. Hal ini meningkatkan permintaan terhadap dolar AS, dan sebagai konsekuensinya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah.

  • Libur Lebaran seringkali diikuti dengan peningkatan impor barang konsumsi, serta kebutuhan dolar AS untuk berbagai keperluan transaksi dan perjalanan. Meningkatnya permintaan terhadap dolar AS dalam negeri menjelang Lebaran dapat menekan nilai tukar rupiah, karena lebih banyak individu dan perusahaan yang membutuhkan dolar AS untuk transaksi.


Penjelasan lebih lanjut terkait dampak pelemahan rupiah ke pasar saham bisa dibaca di artikel berikut ini.


Baca juga: Waspada Pelemahan Rupiah, Gimana Efeknya ke Saham?

Sentimen Rilis Data

Beberapa hari terakhir terdapat sejumlah data ekonomi yang baru dirilis, baik itu dari luar negeri maupun dalam negeri yang penting untuk diperhatikan. Di antaranya adalah:

PMI China


Source: Trading Economics


Manufaktur di China mengalami ekspansi pada Maret 2024, pertama kali sejak September 2023. Hal ini menandakan perbaikan ekonomi terbesar kedua di dunia (setelah AS). PMI meningkat dari 49,1 menjadi 50,8 di bulan Maret. 


Angka di atas 50 menandakan manufaktur di China mengalami ekspansi dan memberikan indikasi adanya pemulihan pertumbuhan ekonomi. Perusahaan-perusahaan yang banyak ekspor ke China berpotensi diuntungkan karena permintaan dari China bisa pulih. Biasanya sektor yang terkait adalah komoditas.

Manufaktur Indonesia


Source: Trading Economics


Manufaktur Indonesia mencatatkan kenaikan signifikan pada Maret 2024, dengan PMI mencapai 54,2, angka tertinggi dalam 2,5 tahun terakhir. Kenaikan ini menunjukkan ekspansi dalam sektor manufaktur.


Hal ini mendorong perusahaan untuk meningkatkan produksi dan pembelian bahan baku, mencapai tingkat pertumbuhan tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Meskipun supplier menaikkan harga dan nilai tukar rupiah melemah, industri manufaktur tetap optimis.

Inflasi Indonesia


Source: Trading Economics


Inflasi di bulan Maret 2024 ada di level 3,05% YoY  dari sebelumnya 2,75% YoY pada bulan Februari 2024. Inflasi inti juga naik menjadi 1,75% YoY dari 1,68% YoY.


Efek inflasi sudah pernah dibahas di artikel berikut ini.


Baca juga: Inflasi Turun Jadi 2,57% di Januari 2024, Simak Dampaknya ke Pasar Saham

Potensi IHSG

Data historikal IHSG di bulan lebaran:

  • 2019: -3,81%

  • 2020: +0,79%

  • 2021: -0,80%

  • 2022: -1,11%

  • 2023: +1,62%


*2019-2022: Mei, 2023: April 


Berdasarkan data tersebut, IHSG terhitung naik sebanyak dua kali di bulan lebaran sejak tahun 2019. Dengan demikian, secara rata-rata, IHSG tercatat turun -0,66% 


Lalu, bagaimana dengan lebaran tahun ini?


Secara teknikal IHSG masih rawan terbawa sideways di range 7140-7300.


Baca juga: BUMN Karya Bakal Merger, Gimana Nasib Sahamnya?


Jadi, apakah IHSG akan ditutup naik atau turun nantinya? Saham apa saja yang tetap menarik untuk beli dan jual? Bagaimana strategi trading agar keuntungan tetap optimal? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. 


Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

BBRI Masih Nyaman di Level 4000-an, Apa yang Mesti Dilakukan Holder?

29 Apr 2024, 14:20 WIB
article
ArtikelInsight

Harga Nikel Cetak Rekor, Sahamnya Menyala

22 Apr 2024, 16:23 WIB
article
ArtikelInsight

Rupiah Ambruk ke Level Terendah Empat Tahun, Begini Korelasinya ke IHSG Secara Historis

17 Apr 2024, 11:51 WIB
article
ArtikelInsight

Seberapa Besar Dampak Konflik Timur Tengah yang Kian Memanas ke Pasar Saham?

16 Apr 2024, 10:54 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi