Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Modal Inti Bank Digital Jadi Rp3 Triliun, Apa Dampaknya ke Kinerja Fundamental?

15 Des 2022, 07:54 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Emtraders, siapa nih yang hold saham bank, terutama bank digital mini? Sudah tahu belum kalau ada ketentuan tentang modal inti minimum bank sebesar Rp3 triliun? Ini penting soalnya bisa saja saham kamu berubah status jadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) kalau belum memenuhi persyaratan hingga akhir tahun ini, lho! Kok bisa?

Perlu diketahui, perubahan Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) menjadi Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) mengharuskan sejumlah bank memenuhi ketentuan besaran modal inti yang baru. Pada BUKU 1 bank kecil harus punya minimal Rp1 triliun modal inti. Sedangkan ketentuan baru pada KBMI 1 modal inti minimum bertambah menjadi Rp6 triliun.

Walaupun begitu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak langsung mewajibkan modal inti bank sebesar Rp6 triliun. Bank cukup memenuhi aturan modal inti sebesar Rp3 triliun yang wajib dipenuhi hingga batas waktu akhir tahun 2022. Jika tidak, maka mau tidak mau harus turun status jadi BPR. Bahkan tidak menutup kemungkinan konsekuensi lainnya, seperti merger paksa atau likuidasi sukarela.

Memang apa sih dampak ketentuan ini ke kinerja fundamental perusahaan? Sebelum itu, cek dulu yuk deretan bank yang sudah memenuhi modal inti.

Bank yang Sudah Memenuhi Modal Inti

Berikut adalah beberapa bank yang sudah memenuhi modal inti sebesar Rp3 triliun.

BBYB berhasil memenuhi aturan modal inti setela melakukan aksi penambahan modal melalui right issue hingga mengalami oversubscribed atau kelebihan permintaan. Dengan aksi ini, perseroan meraup dana segar sebesar Rp1,7 triliun di mana pada kuartal III/2022 ekuitas BBYB tercatat Rp2,25 triliun.

Kemudian ada BACA yang mendapatkan dana segar dari private placement untuk pemenuhan aturan modal inti. Pengendali sahamnya, PT Capital Global Investama menyerap seluruh private placement yang digelar tersebut senilai Rp1,3 triliun. Dengan modal inti yang sebelumnya telah dikantongi sebesar Rp2,08 triliun, BACA telah memenuhi ketentuan modal inti minimum Rp3 triliun.

Baca juga: Saham Bank Umum vs Daerah, Mana yang Lebih Bagus?

Per September 2022 modal inti DNAR tercatat Rp2,96 triliun. Kemudian pada Oktober 2022 right issue dilaksanakan dengan raupan dana sebesar Rp500 miliar. Otomatis total modal inti yang dimiliki per Oktober sudah mencapai Rp3,47 triliun

AMAR menjalankan penambahan modal dengan skema right issue. Sebanyak 4,56 miliar saham baru diterbitkan dengan Tolaram Group sebagai pembeli siaga. Dengan rights issue itu, perseroan membidik perolehan dana mencapai Rp1,27 triliun. Jika ditambah dengan modal inti yang sudah dimiliki Rp2 triliun, maka AMAR mampu memenuhi aturan modal inti.

Adapun BGTG yang melakukan right issue dengan total dana yang diperoleh diperkirakan sebesar Rp900 miliar. Sebelumnya perseroan memiliki modal inti Rp2,1 triliun per Juni 2022.

Baca juga: Bedah Sektor Perbankan, Lebih Menarik Konvensional atau Digital?

Dampaknya ke Kinerja Fundamental

Dampak dari aturan modal inti minimum Rp3 triliun tentu saja akan membuat struktur permodalan perbankan menjadi semakin kuat. Selain itu, perseroan juga bisa melakukan ekspansi apabila ada sisa dana dari aksi right issue yang sebelumnya dilakukan untuk mencari tambahan dana.

Kegiatan ekspansi di bank biasanya bertujuan untuk menambah pembiayaan atau penyaluran kredit. Harapannya jika penyaluran kredit bisa tetap ekspansif, maka NIM akan tetap positif. Sebagai informasi NIM (Net Interest Margin) adalah selisih antara laba bersih dengan pendapatan.

Di mana apabila NIM positif artinya keuntungan perbankan ada potensi untuk menguat. Sebab pada dasarnya keuntungan bank berasal dari dari selisih suku bunga kredit yang disalurkan dikurangi suku bunga simpanan. Sehingga semakin atraktif kinerja penyaluran kreditnya, potensi dapat keuntungan lebih banyak pun jadi lebih tinggi.

Namun, tetap perlu perhatikan kondisi likuiditas dan kualitas asetnya juga. Soalnya, saat ini ada risiko sistematik di kondisi suku bunga yang sedang naik.

Baca juga: Punya Saham Bank? Ini Deretan Indikator yang Wajib Dipantau

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi