Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconFundamental

Punya Saham Bank? Ini Deretan Indikator yang Wajib Dipantau

10 Okt 2022, 17:05 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Saham perbankan bisa dibilang salah satu saham defensif, terutama empat saham big caps, yakni BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Pergerakan harga saham keempat bank besar itu pun sering seirama dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Soalnya, bisnis perbankan sangat berhubungan erat dengan kondisi ekonomi makro secara keseluruhan.

Kalau kamu termasuk holder saham perbankan, ada beberapa indikator dari makroekonomi dan keuangan yang wajib dipantau. Soalnya, kinerja harga sahamnya akan banyak terpengaruh oleh indikator ini. Apa saja?

Kebijakan Moneter BI

Kebijakan moneter yang dimaksud di sini mengacu pada segala langkah yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral guna mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang baik secara berkelanjutan. Pada dasarnya kebijakan BI akan berdampak sistematik pada perbankan. Di mana kebijakan tersebut akan terlebih dahulu mempertimbangkan angka PDB (Produk Domestik Bruto) dan inflasi nasional, terutama inflasi inti.

Contohnya seperti sekarang di mana BI sedang gencar menaikkan tingkat suku bunga akibat angka inflasi yang kian meninggi. Perbankan sebagai leading indicator bagi pertumbuhan ekonomi nasional akan sangat diuntungkan dalam jangka pendek. Soalnya, suku bunga yang naik dapat memicu kenaikan pada bunga kredit yang bakal mengerek pendapatan bunga perbankan.. 

Apalagi, pendapatan terbesar bank berasal dari pendapatan bunga yang diperoleh dari selisih bunga kredit dikurangi bunga deposito, jadi jika suku bunga kredit meningkat akan mendorong penghasilan dari perbankan.

Meski demikian kenaikan suku bunga kredit bisa jadi menambah risiko kredit karena kreditur tidak mampu bayar. Selain itu dengan naiknya suku bunga kredit bisa membuat permintaan kredit turun.

Selain suku bunga, ada juga kebijakan moneter lainnya, yakni Giro Wajib Minimum (GWM) yang merupakan simpanan minimum yang disimpan bank dalam bentuk saldo rekening giro di BI. 

Sehingga apabila GWM naik, otomatis nilai GWM yang harus ditempatkan jadi lebih tinggi dan bisa membuat jumlah uang beredar di bank yang siap disalurkan jadi kredit berkurang. Dengan begitu, bank akan menaikkan bunga deposito untuk mendapatkan likuiditas, lalu uang beredar di masyarakat juga bisa masuk ke sistem bank karena tergiur dengan bunga deposito yang tinggi.

Efeknya ke bank, kalau GWM naik dan suku bunga deposito juga naik, berarti beban pendanaan ataui cost of fund juga naik. Artinya, bisa menggerus pendapatan bunga bersih bank. 

Baca juga: Sektor Banking 101: Pemahaman dan Cara Analisinya

Indikator Rasio Perbankan

  • CASA

CASA (Current Account Saving Account) adalah dana murah yang diperoleh bank dari tabungan giro. Disebut dana murah karena bank hanya perlu bayar bunga yang kecil untuk menghimpun dana dari masyarakat. Contoh CASA adalah tabungan dan giro yang bunganya sangat kecil, bahkan hampir 0%..

Sebagai holder saham bank, penting untuk perhatikan rasio CASA di mana akan semakin baik jika nilainya semakin tinggi. Dengan CASA yang makin besar, berarti operasional bank dalam menghimpun dana sangat efisien karena cost of fund yang rendah. Bahkan, ketika BI menaikkan suku bunga, bank dengan CASA tinggi bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan bunga bersih lebih bagus.. Nilai CASA rata-rata industri sebesar 60,76% per Maret 2022.

  • CAR

Perhatikan pula struktur permodalan yang bisa dilihat dari rasio kecukupan modal atau CAR (Capital Adequancy Ratio). Semakin tinggi CAR, berarti bantalan modal bank untuk hadapi risiko tidak terduga makin bagus. Soalnya. CAR berguna untuk menampung risiko kerugian yang mungkin dihadapi oleh bank. 

Meskipun begitu, jika CAR bank terlalu tinggi, bisa membuat tidak efisien secara bisnis juga. Nilai CAR rata-rata per Maret 2022 26%.

  • LDR dan LFR

Adapun tingkat likuiditas yang bisa dilihat dari rasio LDR (Loan to Deposit Ratio). LDR menunjukkan seberapa longgar ruang likuiditas bank yang masih tersisa untuk disalurkan kredit. Jika angka LDR makin mendekati 100%, berarti tingkat likuiditas makin ketat dan menjadi pertanda ruang penyaluran kredit bank makin terbatas. 

Namun, jika LDR bank cuma 60%, berarti bank kurang optimal dalam menjalankan fungsi intermediasinya karena bermain aman dengan menempatkan dana deposito dan tabungan nasabahnya di obligasi negara atau surat berharga Indonesia yang risikonya jauh lebih rendah daripada penyaluran kredit.

Sejauh ini, BI menentukan standar LDR perbankan Indonesia itu sekitar 78% sampai 92%. 

Lalu, ada juga Loan to Funding Ratio (LFR), apa bedanya dengan LDR? Dalam perkembangannya, bank diizinkan mencari sumber penghimpunan dana lain selain dari masyarakat lewat penerbitan Negotible Certificate Deposit (NCD) yang bisa dibeli oleh investor institusi. Lalu, juga bisa menerbitkan surat utang seperti Medium Terms Notes (MTN), dan obligasi. Hingga mendapatkan utang dari pihak ketiga, seperti BBNI yang mendapatkan fasilitas kredit Rp7 triliun. 

Nah, jika bank mendapatkan pendanaan di luar penghimpunan dana dari masyarakat akan dihitung menjadi loan to funding ratio atau LFR. 

  • NPL

Selanjutnya perhatikan juga rasio NPL (Non Performing Loan) atau rasio kredit bermasalah. Salah satu risiko bisnis perbankan adalah jika debitur atau penerima kredit mulai menunggak kredit. Nah, jika tunggakkannya sudah beberapa bulan berturut-turut, itu bisa masuk ke dalam NPL. Semakin tinggi NPL bank, berarti semakin tidak bagus untuk kinerja keuangan bank. 

Soalnya, ketika NPL bank naik, emiten bank bakal menaikkan tingkat pencadangan yang bisa menggerus laba bersihnya. Selain itu, NPL yang terlalu tinggi juga bisa menganggu likuiditas bank. Salah satu standar regulator terkait NPL adalah sekitar 5%. Nilai NPL industri bank per Maret 2022 berada di 3,1%.

  • Loan Growth

Loan growth menunjukkan tingkat penyaluran kredit yang dilakukan oleh bank.Kredit yang tumbuh memberi dampak pada pendapatan bunga. Sebab pada dasarnya pendapatan bank berasal dari selisih bunga kredit yang disalurkan dikurangi bunga simpanan. Namun, pertumbuhan kredit yang naik drastis juga berisiko menjadi NPL di kemudian hari. Untuk itu, bank cenderung menjaga agar pertumbuhan kreditnya stabil.

Baca juga: Tren Suku Bunga Naik Dimulai, Gimana Nasib Saham Bank?

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Deretan Saham Big Caps yang Terdiskon, Mana yang Potensial?

18 Apr 2024, 16:47 WIB
article
ArtikelInsight

Adu Kuat Kinerja Big Bank Hingga November 2023

17 Jan 2024, 08:59 WIB
article
ArtikelFundamental

Berapa Beban Operasional Emiten yang Ideal? Baca Penjelasannya di Sini

3 Jan 2023, 13:32 WIB
article
ArtikelFundamental

Kepentingan Non-Pengendali pada Laporan Keuangan itu Apa sih?

27 Des 2022, 18:31 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi