Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconPemula

Ekonomi AS Diprediksi Double-Dip Recession, Apa Maksudnya?

2 Nov 2022, 15:45 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Apa itu Double-Dip Recession?

Double-dip recession adalah kondisi ekonomi yang mengalami kontraksi selama dua periode dan dipisahkan oleh periode ekspansi yang singkat. Jadi resesi kategori ini terbentuk ketika suatu negara masuk ke resesi dan kemudian ekonomi jatuh kembali dengan lebih cepat sesaat setelah fase pemulihan.

Resesi biasa dan resesi double-dip merupakan bagian dari siklus bisnis. Selama resesi, aktivitas ekonomi terhenti, jumlah pengangguran meningkat, pengeluaran konsumen menurun, dan investasi yang dilakukan perusahaan menjadi lebih sedikit. Biasanya berlangsung selama berbulan-bulan, dan dalam beberapa kasus bahkan hingga bertahun-tahun.

Berikut adalah double-dip recession yang pernah dialami AS sejak tahun 1850-an beserta durasinya.


(sumber: Forbes)

Salah satu indikator yang bisa dicermati untuk mengetahui tanda-tanda double-dip recession adalah ketika pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) turun kembali setelah beberapa kuartal tumbuh positif.


(sumber: CNBC Indonesia)

Baca juga: Ekonomi Indonesia Tahan Banting, Kata Siapa Akan Resesi? Ini Alasannya

Penyebab Terjadinya Double-Dip Recession

Berikut adalah faktor yang menyebabkan terjadinya double-dip recession berdasarkan data histori.

  • Tahun 1930an

Kala itu pemerintah AS menghabiskan banyak uang dalam upaya untuk menyelamatkan perekonomian dari Great Depression. Alhasil dari tahun 1933 sampai 1936 ekonomi tumbuh rata-rata 9% dan tingkat pengangguran turun dari 25% menjadi 14%.

Namun, pada tahun 1937 The Fed meningkatkan persyaratan cadangan untuk bank karena muncul kekhawatiran inflasi. Sehingga ada lebih banyak uang yang dipegang bank daripada yang dipinjamkan ke nasabah. Akhirnya AS masuk ke jurang resesi lagi.

  • Tahun 1980

Pada tahun 1980 inflasi AS berkisar 15% mengikuti lonjakan harga minyak yang disebabkan oleh negara-negara penghasil minyak berhenti memasok untuk AS dan negara-negara lain. Suku bunga The Fed dinaikkan dan bank saling meminjamkan uang guna memperketat jumlah uang beredar.

Dampaknya, AS resesi walaupun hanya terjadi dalam waktu yang singkat. Kemudian masa pemulihan dimulai pada akhir tahun 1980. Sayangnya, pemulihan tersebut juga tidak berlangsung lama. The Fed menaikkan suku bunga pinjaman bank yang membuat AS kembali resesi hingga paruh kedua tahun 1982.

Baca juga: Cara Membaca Laporan Keuangan Perbankan

Contoh Double-Dip Recession

Double dip recession terakhir kali dialami AS pada 1980an. Resesi pertama terjadi pada kuartal I sampai III tahun 1980. Kemudian yang kedua pada kuartal III tahun 1981 dan berlangsung hingga kuartal IV tahun 1982.

Resesi itu disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kenaikan harga minyak, pengetatan kebijakan moneter AS dan negara maju lainnya serta krisis utang Amerika Latin.

Upaya The Fed dalam mengangani hal tersebut tidak mampu memulihkan ekonomi secara berkelanjutan. Inflasi kembali meningkat dan akhirnya masuk ke masa double-dip recession. Angka pengangguran AS naik menjadi 10,8% pada akhir 1982. Adapun PDB AS juga turun sebesar 2,9%.

  • Resesi: Pada Januari 1980 ekonomi AS masuk ke fase resesi yang berlangsung selama 6 bulan.

  • Ekspansi/pemulihan: Pada Juli 1980 ekonomi AS kembali tumbuh positif dan berada di fase ekspansi selama 12 bulan.

  • Double-dip recession: Pada Juli 1981 AS sekali lagi jatuh ke dalam resesi yang parah. Berlangsung selama 16 bulan.

BACA JUGA: Perhitungan Break Even Point Supaya Kamu Tahu Sudah Untung atau Belum

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Yang bisa dilakukan investor ritel di tengah-tengah potensi double-dip recession adalah dengan mengevaluasi kembali portofolio investasi. Mungkin bisa mulai pertimbangkan untuk memperbesar porsi saham-saham defensif atau dividend player yang punya kinerja kuangan cukup solid. Sehingga akan lebih baik kalau view-nya untuk jangka panjang.

Pastikan juga alokasi untuk saham, obligasi, dan instrument lainnya di dalam portofolio sudah sesuai dengan tujuan dan profil risiko kita.

Baca juga: Saham Potensial Window Dressing 2022

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelPemula

Perhitungan Break Even Point Supaya Kamu Tahu Sudah Untung atau Belum

13 Jan 2023, 16:28 WIB
article
ArtikelPemula

Istilah Price In Harga Saham, Apa Maksudnya?

10 Nov 2022, 16:18 WIB
price in harga saham
ArtikelPemula

Aset Safe Haven Emas, Pahami Maksud dan Keuntungannya Di Sini

11 Nov 2022, 16:21 WIB
aset safe haven emas
ArtikelPemula

Saham Gocap: Pengertian, Ciri-Ciri, Strategi Trading, dan Risikonya

21 Okt 2022, 17:16 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi