Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconPemula

Siklus Ekonomi, Fakta di Balik Terjadinya Rotasi Sektoral di Saham

21 Mar 2022, 15:27 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Trader saham pasti sudah paham kalau pergerakan saham itu berotasi secara sektoral. Misalnya, ketika pandemi Covid-19, saham teknologi jadi primadona, tapi setelah masuk pemulihan ekonomi justru saham-saham old economy manggung lagi. Penyebab rotasi sektoral itu adalah keberadaan siklus ekonomi. 


Memahami Rotasi Sektoral dalam Saham


Rotasi sektoral dalam saham adalah pergerakan uang yang berputar di pasar saham dari satu sektor ke sektor lain yang secara bersamaan. Aksi perpindahan dari satu sektor ke sektor lainnya ini terjadi karena investor dan trader mengantisipasi perubahan siklus ekonomi. 


BACA JUGA: Apa Itu Greenshoe, Skema yang Digunakan Dalam IPO GoTo


Seperti siklus harga saham, siklus ekonomi juga bergerak dan bisa mendukung atau malah menekan sektor-sektor saham tertentu sehingga terciptanya sebuah rotasi. Siklus itu sudah terjadi sejak beberapa ratus silam sehingga sudah terbentuk pola historis yang sama. 


Menurut catatan, teori rotasi sektoral dan siklus ekonomi ini muncul dari analisis data National Bureau of Economic Research pada 1854. Mereka menunjukkan adanya siklus ekonomi yang cukup konsisten sejak saat itu. 


Dengan mengikuti pola historis setiap siklus ekonomi, akhirnya ada kesamaan strategi investasi saham yang membuat beberapa sektor saham cenderung menguat dan ada yang tertekan. Dengan penguatan dan penurunan harga saham itu, trader dan investor yang tidak konsentrasi dengan siklus ekonomi juga tanpa sadar mengikuti arus yang ada.


4 Siklus Ekonomi


Sejak awal ditemukan, strategi investasi yang mengikuti siklus ekonomi ini cenderung relevan untuk pasar Amerika Serikat. Namun, setidaknya, trader dan investor di Indonesia juga bisa mencerna data-data ekonomi makro di Indonesia untuk melakukan rotasi sektoral yang lebih relevan. 


Dalam historis siklus ekonomi, ada beberapa sektor yang secara spesifik terdampak signifikan dari perubahan setiap siklusnya. 


Berikut ini adalah 4 tahapan dasar siklus ekonomi, serta sektor saham yang cenderung berkembang setiap siklusnya. 


1. Puncak Resesi

Resesi adalah ketika pertumbuhan ekonomi suatu negara mencatatkan posisi negatif selama dua kuartal berturut-turut. Dengan kondisi itu, bukan jadi waktu yang tepat untuk ekspansi bisnis. 


Penurunan ekonomi membuat suku bunga acuan bank sentral diturunkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dan konsumsi masyarakat. Soalnya, kepercayaan konsumen sudah mencapai titik terendah. 


Nah, secara historis ada beberapa sektor bisnis atau saham yang trennya justru naik ketika masa resesi puncak tersebut. berikut sektor yang diuntungkan: 


- Cyclical dan Transportasi 

- Teknologi

- Industri


2. Pemulihan Awal

Di sini, pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Industri mulai ekspansi dan posisi suku bunga sudah mencapai titik terendah. 


Secara historis, sektor-sektor yang diuntungkan pada siklus ini antara lain:


- Industri

- Industri dasar

- Energi


3. Pemulihan Lanjutan

Saat memasuki periode pemuliah ekonomi lanjutan, bank sentral mulai menaikkan suku bunga dengan agresif. Namun, tingkat kepercayaan konsumen sudah mulai menurun. 


Produksi industri juga sudah mulai melambat. Dalam periode itu, ada beberapa sektor yang diuntungkan: 


- Energi

- Consumer Goods

- Services


4. Awal Resesi

Saat ekonomi masuk periode awal resesi, data-data makro ekonomi terlihat buruk. Tingkat kepercayaan konsumen terus merosot cukup dalam. 


Tingkat produksi industri juga mengalami penurunan terdalam. Di sini, ada beberapa sektor yang trennya diuntungkan:


- Service

- Utilities

- Cylical dan transportasi


Catatan: data historis yang memperlihatkan sektor diuntungkan dari setiap siklus ekonomi dengan mengacu ke data-data historis di Amerika Serikat. 


Perbedaan Siklus Ekonomi dan Siklus Harga Saham


Pasar saham tidak bergerak mengikuti siklus ekonomi, tetapi justru mengantisipasi siklus ekonomi ke depannya. Soalnya, sifat pasar saham adalah forward looking atau melihat ke depan. 


Berikut 4 siklus pasar saham: 

Stage 1: periode akumulasi dengan tren cenderung sideways

Stage 2: periode partisipasi dengan tren cenderung uptrend atau bullish

Stage 3: periode distribusi dengan tren cenderung sideways

stage 4: periode kapitulasi dengan tren cenderung downtrend atau bearish


Sebagian besar, pelaku pasar saham memprediksi keadaan ekonomi setiap tiga bulan hingga enam bulan ke depan. Artinya, siklus harga saham akan terjadi jauh sebelum siklus ekonomi terjadi. 


Tren Rotasi Sektoral di Pasar Saham Indonesia


Pasar saham Indonesia pun juga perlahan mengalami rotasi sektoral, terutama jika  membandingkan tren 2022 dengan 2021 silam. Pada 2021, tren saham teknologi begitu booming dan ditunjukkan dengan tren harga saham sektor itu yang meroket. 


Bahkan, secara sektoral, indeks saham teknologi di BEI mencatatkan kenaikan hingga 392,61% pada 2021. Namun, di awal 2022, saham teknologi malah mencatatkan penurunan terdalam dibandingkan dengans sektor lainnya, sebesar 12,6%. 




Lalu, sektor energi yang mulai mencuat sejak akhir 2021 menjadi yang paling perkasa hingga Maret 2022. Indeks saham energi naik 21,69%. 


Dari sini, rotasi sektoralnya cukup terlihat. Walaupun, kita semua tahu harga saham komoditas melejit karena tren harga komoditas juga meroket hingga saat ini. 


Namun, perubahan harga komoditas itu bisa jadi mengikuti siklus ekonomi. Soalnya, siklus ekonomi bisa membentuk supply dan demand pasar yang menggerakkan harga. 


Siklus Ekonomi Sebagai Mindset


Siklus ekonomi bisa dijadikan menjadi salah satu indikator untuk membantu screening saham secara sektoral. Tujuannya, untuk mengantisipasi potensi perubahan siklus ekonomi ke tahap selanjutnya. 


Namun, untuk memutuskan saham apa yang layak dikoleksi, trader dan investor tetap harus menganalisis secara teknikal dan fundamental agar bisa masuk pada waktu yang tepat dan saham yang potensial. 


Mau belajar trading saham yang praktis?


Untuk kamu yang ingin belajar lebih lanjut, upgrade ke VIP user untuk menikmati fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP user, kamu bisa menikmati konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan. Klik di sini untuk upgrade VIP user Emtrade


emtrade.id/disclaimer


-SR-
Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi