Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Starlink Milik Elon Musk Siap Beroperasi di Indonesia, Jadi Ancaman Buat Sektor Telko?

15 Sep 2023, 17:20 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Starlink, jaringan satelit orbit bumi rendah (low earth orbit/LEO) milik perusahaan Elon Musk, Space X, dikabarkan akan mengoperasikan layanan business-to-customers (B2C) di Indonesia. 


Untuk saat ini, Starlink sudah masuk ke Indonesia melalui kerja sama dengan Telkomsat (anak perusahaan TLKM) untuk layanan business-to-business (B2B). Telkomsat dan Smartfren menggunakan Starlink untuk mendukung backhaul mereka.


Namun, untuk layanan B2C, Starlink masih dalam proses pengurusan izin sebagai penyedia layanan internet (internet service provider/ISP).


Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi menyebutkan pihaknya masih melakukan kajian terhadap kehadiran Starlink di Indonesia terkait regulasi yang berlaku. Ia juga menyebutkan, setelah Starlink memperoleh nomor registrasi lisensi sebagai ISP, nantinya Starlink bisa menjual layanan mereka secara langsung kepada pengguna. Artinya, dalam hal B2C, Starlink tidak perlu bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi dalam negeri.


Berdasarkan publikasi yang dipasang di laman resmi Starlink, calon pelanggan yang tertarik untuk memesan layanan internet Starlink sudah bisa melakukan deposit sebesar US$9 atau sekitar Rp138 ribu (asumsi kurs USD/IDR Rp15.300). Disebutkan juga bahwa Starlink menargetkan layanan di wilayah Indonesia mulai tahun 2024, namun ketersediaannya masih harus menunggu persetujuan regulator.



Baca juga: Prospek Saham E-Commerce di Tengah Isu Pelarangan Social Commerce TikTok


Menurut riset Trimegah Sekuritas terhadap layanan Starlink yang sudah lebih dulu ada di Malaysia, diyakini bahwa Starlink lebih cocok untuk daerah terpencil seperti pedesaan yang belum terjangkau oleh konektivitas fiber.


Dari sudut pandang harga, biayanya terbilang cukup mahal. Di Malaysia, pelanggan Starlink harus beli perangkat keras supaya bisa terhubung dengan satelit Starlink, seharga MYR2,300 (IDR7,5 juta) untuk model standar dan MYR11,614 (Rp38 juta) untuk model performa tinggi. Adapun biaya bulanan mulai dari MYR220 per bulan (Rp722 ribu per bulan) dengan kecepatan unduh sekitar 100 mbps. 


Angka tersebut jauh lebih besar dari average revenue per unit (ARPU) dari layanan fiber-to-the-home (FTTH) di Indonesia sebesar Rp250 ribu per bulan. 


Sebagai perbandingan, PDB/kapita Indonesia sebesar Rp6 juta pada tahun 2022. ARPU FTTH sebesar Rp250 ribu mewakili 4% pengeluaran rumah tangga bulanan, sedangkan ARPU sebesar Rp720 ribu mewakili 12% pengeluaran rumah tangga bulanan, yang dinilai terlalu berlebihan. Sehingga Starlink bisa jadi kurang kompetitif.



Sumber: Trimegah Sekuritas


Selain itu, Starlink lebih rentan terganggu oleh hujan, angin kencang, dan lainnya. Sedangkan internet fiber memiliki risiko gangguan cuaca yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan ketahanan Starlink tidak seunggul fiber.


Dengan mempertimbangkan harga dan kecepatan, Starlink sepertinya akan sulit menjaring konsumen perorangan untuk kebutuhan internet pribadi. Terutama di kota-kota besar yang punya opsi provider lebih beragam dan harga lebih murah. Sehingga diyakini pasar potensial layanan Starlink ada di segmen enterprise. 


Sebagai konteks tambahan, konsumen segmen enterprise hanya menyumbang 10,7% dari total konsumen Indihome. Adapun Indihome menguasai 70% pasar fixed broadband di Indonesia. Maka dapat diperkirakan pasarnya cukup kecil.


Dengan demikian Trimegah Sekuritas memandang bahwa Starlink bukan merupakan ancaman yang signifikan bagi para penyedia internet fiber di Indonesia, khususnya operator telekomunikasi, yang selama ini berkonsentrasi pada strategi FMC (fixed mobile convergence). Di antaranya seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT)


Sebaliknya, Starlink akan lebih berfungsi sebagai layanan pelengkap konektivitas fiber terutama untuk daerah-daerah terpencil karena kondisi geografis dan kendala belanja modal yang tinggi. Hal ini pada akhirnya akan menguntungkan konsumen Indonesia yang membutuhkan layanan internet di daerah pedesaan. Sedangkan dari sisi operator, kehadiran Starlink dapat membantu backhaul mereka.


Sekadar informasi, per kuartal II/2023 TLKM masih memimpin pangsa pasar sebesar 49%. Diikuti ISAT 32% dan EXCL 19%.


Grafik pangsa pasar saham telko berdasarkan jumlah pelanggan:



Baca juga: 5 Golden Rules Money Management Saham Supaya Cuan Maksimal


Mau tahu saham-saham yang saat ini lagi potensial untuk buy? Dan bagaimana strateginya? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Jelang Lebaran, Gimana Potensi dan Kinerja Emiten Poultry Secara Historis?

4 Apr 2024, 11:55 WIB
article
ArtikelInsight

HRUM Makin Fokus ke Nikel, Diproyeksikan Bisa Dorong Laba Bersih Naik 33% di 2024

27 Mar 2024, 13:44 WIB
article
ArtikelInsight

Unboxing Saham Terkait Program Prabowo-Gibran, Seberapa Diuntungkan?

16 Feb 2024, 16:33 WIB
article
ArtikelInsight

Pemilu di Depan Mata, Ini Deretan Emiten yang Terafiliasi Masing-Masing Paslon

13 Feb 2024, 12:11 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi