Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Begini Pendorong Laba Bersih AUTO Tumbuh 99%

11 Nov 2022, 17:59 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Sempat terdampak oleh pengaruh krisis Chip, PT. Astra Otoparts (AUTO) berhasil membukukan kinerja yang gemilang pada sembilan bulan pertama tahun 2022 . Dari sisi pendapatan, AUTO mampu membukukan kenaikan pendapatan sebesar 21,8% Rp13,4 triliun dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, yang diikuti oleh pertumbuhan laba menjadi Rp910 miliar atau melonjak hampir 100%. Lantas, bagaimana prospek Astra Auto? Berikut ulasannya.

Chip shortages, margin sempat terkompresi

Pada tahun 2021, bergejolaknya negara-negara yang merupakan produsen chip semikonduktor seperti Ukraina, China, dan Taiwan membuat terjadinya fenomena krisis chip semikonduktor di pasar global.

Hal ini membuat jalur distribusi barang semikonduktor terhambat dan membuat banyak perusahaan manufaktur mengalami kendala di inventory produksinya. Terbatasnya distribusi semikonduktor ini, yang diikuti oleh tingginya permintaan, membuat nilai barang komponen semakin mahal dan memberatkan produsen-produksen otomotif dan barang elektronik yang sebagian besar membutuhkan semikonduktor tersebut.


BACA JUGA: Begini Pengertian Safe Haven yang Wajib Kamu Pahami Salah satu manufaktur yang terdampak adalah AUTO, yang merupakan perusahaan manufaktur komponen otomotif nasional yang sebagian bahan bakunya merupakan impor. Pada kuartal I/2022, tepat sejak Rusia menginvasi Ukraina, kinerja bisnis AUTO tercatat mengalami kemunduran meski penjualan perusahaan tercatat bertumbuh. Naiknya pendapatan sebesar 26,6% secara tahunan ternyata tidak diikuti oleh peningkatan di margin untung perusahaan (gross margin) yang justru melambat menjadi 12,46% dari 12,75% di tahun sebelumnya. Padahal, AUTO tetap mencetak kenaikan laba menjadi Rp239 miliar di kuartal I/2022 atau tumbuh hampir 40%. Namun, terkompresinya marjin membuat pelaku pasar sempat memvonis prospek emiten AUTO bahwa penurunan marjin untung akan berlanjut seiring dengan berlangsungnya lamanya konflik antara Rusia dan Ukraina hingga pada hari ini. Alhasil, saham AUTO tercatat mengalami penurunan tepat setelah rilisnya laporan kinerja kuartal I/2022 lalu. Harga saham AUTO yang sempat tercatat di 1185 kembali terkoreksi ke level Rp1.095 per saham di periode bulan April dan Mei 2022 lalu. Figure 1: Performa saham AUTO



Sumber: Google Finance Meski demikian, manajemen AUTO pada kuartal II/2022 bertekad untuk mencari jalan keluar dari isu ini dan melakukan inisiasi untuk memperbaiki kinerja yang terdampak oleh sentimen eksternal tersebut. Inisiasi tersebut adalah melakukan multisourcing atas vendor yang selama ini tertuju hanya terhadap beberapa vendor utama saja. Artinya, dengan vendor yang lebih banyak, maka perusahaan dapat meminimalir dampak negatif dari terbatasnya distribusi barang di salah satu vendor seandainya terjadi krisis semikonduktor tersebut. Atas dari strategi ini, AUTO berhasil mencatatkan pemulihan kinerja bisnis yang optimal pada semester I tahun 2022. Secara penjualan, meski pertumbuhan penjualan hanya 20% secara tahunan menjadi Rp8,5 triliun namun AUTO berhasil mencatatkan pemulihan marjin kotor menjadi 13,11% dari 12,45% di semester 1 tahun 2021. Pemulihan bisnis ini ternyata berlanjut sampai pada kinerja sembilan bulan pertama di 2022 (9M22), dimana marjin untung perusahaan kembali meningkat menjadi 14,21% dari 12,58% sebelumnya. Bukan hanya itu, penjualan di kuartal 3 (3Q22) merupakan penjualan tertinggi sejak tahun 2019. Ini artinya, bisnis AUTO terkonfirmasi telah melampaui level sebelum Covid-19! Figure 2: Kinerja pendapatan kuartalan AUTO



Sumber: Astra Auto, Emtrade. Bukan hanya itu, AUTO juga mencatatkan quantum leap pada laba bersih yang melonjak hampir 100% pada 9M22, dimana laba bersih menembus Rp910 miliar. Dan bukan hanya karena penjualan serta margin untung yang meningkat, namun perusahaan juga mampu menjaga efisiensi operasional lebih solid. Figure 3: Kinerja laba kuartalan AUTO Sumber: Astra Auto, Emtrade. Hal ini terefleksi pada komposisi beban operasional terhadap penjualan AUTO pada Januari-September 2022 yang tercatat hanya 10,53% terhadap penjualan, dibanding 10,96% pada Januari-September 2021.

Prospek: Penjualan Mobil Meroket, sparepart akan ikutan terbang?

Hingga bulan September 2022, data laporan dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebut bahwa volume penjualan mobil dari pabrik ke dealer (wholesale) di pasar domestik telah mencapai 99.986 unit. Penjualan bulan September tersebut dinilai merupakan rekor tertinggi sejak awal pandemi Covid-19 terjadi pada tahun 2020 terakhir. Bahkan, secara akumulatif selama periode Januari hingga September 2022 tercatat bahwa volume penjualan mobil telah mencapai 758.216 unit. Maka tidak heran, Gaikindo menaikan target penjualan mobil di tahun 2022 dari sebelumnya 900.000 unit menjadi 960.000 unit. Optimisme tingginya penjualan mobil di tahun 2022 sebenarnya memberikan gambaran positif terhadap prospek bisnis AUTO yang kegiatan usahanya sangat berkaitan dengan output produksi otomotif di tanah air. AUTO, yang merupakan anak usaha dari Astra Group yang memproduksi merek-merek otomotif beken seperti Toyota, Daihatsu, Isuzu, Peugeut, BMW, Lexus, hingga sepeda motor Honda juga merupakan perusahaan distribusi komponen atas produksi komponen atas mobil produksi tersebut. Apalagi, Toyota masih menjadi kontributor terbesar penjualan mobil di pasar domestik. Maka dengan demikian, prospek AUTO masih diprediksikan tumbuh gemilang di tahun 2022 hingga 2023 mendatang. Dan membaiknya daya daya beli masyarakat hingga atraktifnya harga komoditas akan menjadi pemantik bagi sektor otomotif untuk tetap menarik hingga akhir tahun ini.

Kenaikan Laba membuat Valuasi AUTO Atraktif


Dengan pencapaian laba mencapai Rp910 miliar di 9M22, maka diasumsikan bahwa AUTO dapat menutup laba bersih mencapai Rp1,21 trilin (atau tambahan Rp303 miliar laba di 4Q22). Dengan demikian, maka laba per saham (EPS) yang diekspektasikan akan berkisar pada Rp252/lembar. Dengan harga penutupan AUTO di 1500, maka Price to Earnings Ratio (P/E) perusahaan hanya berkisar di 5,96x! Ini juga belum mempertimbangkan rasio price to book value (P/BV) yang tercatat bawah dibawah 1x, atau 0,64x.

AUTO in Brief: Neraca, Portfolio Segmen, dan Revenue Breakdown

AUTO merupakan salah satu manufaktur komponen otomotif terbesar di Indonesia yang menjalan dua segmen bisnis yaitu manufaktur dan perdagangan. Hingga Januari-September 2022, segmen perdagangan menyumbang total pendapatan total sebesar 46,15% dimana sisanya disumbang oleh segmen manufaktur sebesar 53,8%. Namun demikian, dari sisi profitabilitas segmen perdagangan menyumbang marjin kotor yang lebih tinggi atau mencapai 21,6% dibanding 8,95% dari segmen manufaktur. Ini artinya, sebagian besar laba perusahaan disumbang oleh segmen perdagangan dibanding segmen manufakturnya sendiri. Dari sisi neraca, AUTO juga nilai cukup atraktif. Hingga Januari-September 2022, perusahaan mengakumulasi total kas mencapai Rp2 triliun yang merupakan 25% dari total asetnya. Sehingga, dengan kapitalisasi pasar AUTO sebesar Rp7,9 triliun maka nilai aktual Enterprise Value perusahaan hanyalah Rp6,4 triliun atau 18% lebih rendah dari penawaran kapitalisasi pasarnya. Dari sisi rasio solvabilitas pun, AUTO mencatatkan rasio yang terpantau cukup terjaga dimana hingga Januari-September 2022, rasio Debt-to Equity (DER) perusahaan masih dibawah dari 1x mengingat lebih tingginya ekuitas perusahaan dibanding total liabiltiasnya. Menurut Emtraders, berdasarka kinerja Januari-September 2022 tersebut apakah AUTO cocok untuk masuk portfolio investasi ? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, morning dan day briefing, cryptoclass, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-WS-


emtrade.id/disclaimer


Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Update Data Makro: Inflasi AS & China dan IKK Indonesia, Apa Implikasinya?

13 Mar 2024, 15:55 WIB
article
ArtikelInsight

Keluar dari MSCI, Indeks FTSE Siap Tampung CUAN

19 Feb 2024, 14:10 WIB
article
ArtikelInsight

Kembangkan Bisnis FTTH, ISAT Akuisisi Pelanggan MNC Play

21 Nov 2023, 12:01 WIB
article
ArtikelInsight

Adu Kinerja Marketing Sales Emiten Properti di Kuartal III/2023, Siapa Juaranya?

24 Okt 2023, 17:14 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi