Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconRisk Management

Tips Mengatur Portofolio Investasi Saat Ada Potensi Resesi

19 Okt 2022, 16:20 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Alih-alih panik karena ada proyeksi resesi global, sebagai investor ritel sebaiknya kita mempersiapkan diri mulai dari sekarang. Salah satunya adalah dengan mengevaluasi kembali portofolio investasi agar risiko tetap terjaga. 


Pertanyaannya, gimana caranya? Nah, di tengah-tengah ketidakpastian ekonomi seperti sekarang, penting untuk menjadi lebih konservatif. Selain itu juga harus disesuaikan lagi dengan skill dan profil risiko kita.Supaya lebih mudah dipahami, simak tips mengatur portofolio saat ada potensi resesi menurut Ellen May, Founder dan CEO Emtrade berikut ini.

Portofolio Konservatif

Bagi yang sama sekali belum siap dengan risiko fluktuasi di pasar saham, disarankan untuk memilih berinvestasi di instrumen obligasi fixed rate pemerintah dengan tingkat imbal hasil antara 5,9-7% lebih. Selain besaran bunganya tetap, risikonya juga terbilang rendah untuk pemula karena dijamin oleh pemerintah. Sehingga investor akan merasa lebih aman, mengingat adanya kepastian pembayaran pokok dan kupon obligasi.

Kemudian selama obligasi tidak dijual kembali, maka sebenarnya tidak ada risiko fluktuasi harga di situ. Kecuali obligasi dijual di pasar sekunder sebelum jatuh tempo. Harga obligasi yang berfluktuasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perubahan inflasi dan suku bunga. Jadi supaya bisa terhindar dari risiko pasar, lebih baik simpan obligasi sampai mature. 

Baca juga: 5 Cara Manajemen Saham yang Harus Kamu Tahu

Portofolio Moderat

Kemudian untuk yang punya profil risiko moderat atau cenderung berani menghadapi floating loss, bisa dipertimbangkan untuk investasi reksa dana. Lebih tepatnya adalah reksa dana campuran. Produk investasi ini terdiri dari maksimal 79% instrumen pasar uang, obligasi, dan saham dengan imbal hasil yang ditawarkan rata-rata per tahun 10-15%.

Portofolio Agresif

Untuk yang sudah terbiasa dengan investasi saham minimal 1 tahun, boleh berinvestasi di pasar saham dengan catatan komposisi portofolio diatur dengan baik. Sebagai referensi, porsi portofolio saham up to 50% dialokasikan untuk perusahaan perbankan besar dicampur dengan beberapa blue chip lainnya. 

Mungkin beberapa pilihannya seperti ASII dan TLKM yang mana secara valuasi sudah cukup murah per Oktober 2022. Sedangkan saham big bank masih bisa tunggu turun lagi untuk beli di posisi itu. 

Jadi kembali lagi dalam mengatur portofolio saham penting untuk perbesar porsi di saham-saham yang memang cenderung disukai oleh investor institusi, bukan sekadar kapitalisasi besar. Bisa dilihat beberapa perusahaan teknologi yang masuk ke dalam kategori big cap harganya terus mengalami penurunan. Sebab investor-investor besar seleranya masih cenderung ke perusahaan yang fundamentalnya solid seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. 

Kenapa perbankan besar? Perbankan besar memiliki operasional yang lebih efisien, seperti tingkat likuiditas yang baik maupun rasio dana murah (giro dan tabungan) yang solid yang membuat cost of fund (COF) rendah.. . 

Porsi investasi saham di big bank bisa sekitar 50-60%. Semakin pemula semakin diperbesar. Dan semakin turun, semakin dibeli. Cara belinya pun bukan sekaligus. Melainkan bertahap misalnya setiap bulan pas harganya turun. 

Baca juga: Tips Memilih Saham dan Menyusun Portofolio untuk Pemula

Selebihnya sekitar 30-40% dari modal investasi bisa digunakan untuk investasi jangka panjang di saham-saham yang valuasinya masih murah dari berbagai sektor. Contohnya, sektor ritel, properti, pulp and paper, dan poultry. Adapun industri semen yang sekarang juga masih murah, terlihat secara teknikal trennya masih kurang bagus tetapi kita bisa menabur benih di situ sedikit demi sedikit.

Dan mungkin sisanya dapat dialokasikan untuk trading sekitar 20-30%. Angka persentase ini bukan satu angka yang pasti dan tidak harus diikuti. Sifatnya hanya sebagai gambaran saja. Semakin pemula, maka porsi saham-saham yang fundamentalnya bagus semakin besar. Sedangkan porsi di saham-saham trading atau second liner diperkecil karena geraknya lebih volatil. 

Baca juga: 4 Ciri Portofolio Saham yang Ideal dan Cara Mengaturnya Agar Menjadi Ideal

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.


Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelRisk Management

4 Ciri Portofolio Saham yang Ideal dan Cara Mengaturnya Agar Menjadi Ideal

17 Okt 2022, 16:38 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi