Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Kompak Turun Berjamaah, Ada Apa dengan Saham Bank Digital?

17 Okt 2022, 16:53 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Harga saham bank-bank digital masih kompak turun sepanjang 2022. Berdasarkan data kinerja saham dari BEI hingga penutupan 17 Oktober 2022, harga saham Bank Jago (ARTO) telah menyusut 70,75%, saham Allo Bank Tbk (BBHI) turun 60,99%, dan saham Bank Raya Tbk (AGRO) turun 73,59%. 


Saham bank digital lainnya seperti Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) juga merosot 72,81% dan saham Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) turun 38,43%.  Kira-kira hal apa yang menjadi penyebab turunnya saham bank digital tersebut? 


Risiko Sistematik Kenaikan Suku Bunga Acuan BI  

Menurut kami, turunnya harga saham bank digital masih merupakan respons dari kekhawatiran pelaku pasar akan kinerja bank digital yang potensi turun karena Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan. Mengapa demikian? 


Suku bunga acuan BI yang naik biasanya akan memicu suku bunga simpanan dan kredit jadi naik. Padahal suku bunga simpanan dari bank digital ini termasuk yang cukup tinggi dibandingkan bank konvesional (Figure 1) 



Sedangkan di satu sisi, bank juga tidak bisa buru-buru menaikkan suku bunga kredit karena bisa menganggu minat kredit masyarakat. Alhasil, kondisi ini bisa membuat potensi margin keuntungan bank digital jadi berkurang, dampaknya bisa ke laba berkurang atau bisa jadi rugi. 


BACA JUGA: Cara Mengatur Portofolio Saham Biar Menjadi ideal


Loan to Deposit Ratio (LDR) di atas 100% 

Alasan lainnya, kami menyoroti pada loan to deposit ratio (LDR) yang merupakan indikator untuk mengukur seberapa banyak likuiditas bank untuk mempertahankan operasional bisnisnya. Likuiditas yang baik adalah di level level LDR yang moderat, yang menurut Bank Indonesia di rentang 72% sd 92%. 


Realitanya untuk beberapa saham bank digital LDR masih cukup tinggi. Salah satu contohnya dari ARTO yang mencatatkan LDR mencapai 119% hingga semester 1/2022. LDR lebih dari 100% menunjukkan nilai penyaluran kredit yang jauh lebih tinggi dibandingkan simpanannya.


Kenapa bisa gitu? ini terjadi karena ARTO punya permodalan yang tinggi dilihat dari Capital Adequacy Ratio (CAR) di 109% yang lebih tinggi dari rata-rata industri di 24%. DenganJadi ARTO punya kemampuan buat penyaluran kredit yang lebih banyak diluar dari dana simpanannya. 


Walaupun begitu, LDR yang tinggi ini kalau terlalu lama dibiarkan bisa jadi risiko juga, apalagi ditengah risiko resesi yang menjadi kekhawatiran pasar, jika banyak nasabah menarik uangnya ini menganggu likuiditas jadi semakin terbatas. 


Valuasi Masih Premium & Rotasi Sektoral 

Alasan selanjutnya, jika menilai dari sisi valuasi bank digital saat ini memang  masih  premium atau mahal. Ini terjadi karena di 2021 lalu ekspektasi pelaku pasar akan saham bank digital terlalu tinggi akibat potensi layanan bank digital yang atraktif di tengah Pandemi Covid-19. Ditambah, kondisi tahun lalu pendaan masih murah karena banyaknya insentif yang disediakan pemerintah. 


Namun beda cerita dengan 2022, ketika suku bunga acuan naik dan ada masalah geopolitik yang berdampak ke krisis energi, membuat fokus pasar bergeser ke sektor energi yang dinilai lebih atraktif dan lebih tahan dengan risiko. Padahal bank digital ini masih di masa pertumbuhan yang membutuhkan pendanaan banyak untuk dibakar supaya bisa menarik minat masyarakat. 


Gimana Prospek Bank Digital?

Menurut kami, jika hingga akhir tahun BI masih akan menaikkan suku bunga dampaknya masih negatif ke bank digital karena belum bisa diharapkan memberikan perofitabilitas yang tinggi. Jadi, investor masih mengalihkan minatnya ke sektor lainnya yang lebih atraktif. 


Namun, untuk ke depan tentu saja masih ada potensial upside dari bank digital mengingat masih ada harapan dari sisi pengguna dan transaksi yang potensi meningkat, apalagi kebiasaan masyarakat yang sudah beralih jadi lebih suka transaksi secara digital. 


Selain itu, ditambah dengan integrasi ekosistem dan pengembangan teknologi yang lebih baik di masa depan, seperti ARTO bisa mengoptimalkan ekosistemnya bersama GoTo, BBYB bersama dengan Akulaku, BBHI yang potensi kerjasama dengan Traveloka, AGRO dengan holding bank BRI, dan masih banyak lagi. 


Mau belajar trading dan investasi saham secara praktis? yuk upgrade ke VIP member Emtrade. 

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, morning dan day briefing, cryptoclass, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-TN-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Inflasi Indonesia DIproyeksi Melandai, Gimana Prospeknya?

30 Jan 2023, 14:50 WIB
article
premium-iconArtikelInsight

Saham Menarik Ketika Natal dan Tahun Baru, Gimmick atau Fenomena?

24 Des 2022, 10:27 WIB
article
premium-iconArtikelInsight

Kenaikan Suku Bunga BI Mulai Melandai, Begini Efeknya ke Saham

22 Des 2022, 15:00 WIB
article
premium-iconArtikelInsight

Kilas Balik Pasar Saham 2022: Nikel dan Kendaraan Listrik Jadi Primadona?

22 Des 2022, 15:02 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2023, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi