Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Saham SIDO Turun Dalam, Sudah Murah atau Belum Nih?

14 Okt 2022, 15:58 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
saham sido

PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido muncul Tbk. (SIDO) lagi-lagi menjadi perhatian pelaku pasar pasca turunnya harga saham produsen Tolak Angin tersebut sebesar 23,7% sepanjang 2022. Bahkan, bila dihitung dalam tiga bulan terakhir, saham SIDO sendiri sudah turun 32,4%. Atas penurunan ini, apakah keputusan untuk akumulasi saham SIDO sudah tepat?


Keputusan untuk akumulasi maupun wait and see memang menuai banyak respon pro dan kontra bagi para pelaku pasar yang menganggap SIDO sebagai salah satu perusahaan konsumer pilihan yang disebut cukup resilien di kondisi ekonomi yang menantang. Adapun yang menjadi pertanyaan disini adalah: Apakah sebenarnya penyebab penurunan saham SIDO ? Dan apakah memutuskan untuk akumulasi saham SIDO dianggap tepat saat ini? 


BACA JUGA: Begini Cara Tahu Valuasi Saham Lagi Murah atau Mahal


Mari kita bahas beberapa kemungkinan berdasarkan fakta-fakta data tersebut.


Performa Penjualan diekspektasikan kembali melempem pada kuartal III/2022

Meski alasan lebih dalam tentang penurunan belum diketahui, namun kami menduga bahwa terkoreksinya harga saham SIDO karena adanya kemungkinan bahwa turunnya kinerja penjualan lebih lanjut pada periode kuartal III/2022 akan terjadi. 


Sebagai catatan, penjualan SIDO sebelumnya telah turun 2,58% secara tahunan menjadi Rp1,61 triliun di semester I/2022. Dari sisi laba bersih juga demikian, di mana SIDO mencatatkan penurunan laba sebesar 11,24% secara tahunan menjadi Rp502 miliar.


Landasan pandangan kami bahwa kinerja akan turun kembali di kuartal III/2022 terdorong pasca rilisnya data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode September 2022 yang mencatatkan terkoreksinya indeks IKK menjadi 117,2 dari sebelumnya di 124,7. Bahkan bila diteliti lebih dalam, penurunan IKK terbesar disumbang oleh responden dengan pengeluaran Rp4,1 juta hingga Rp5 juta, yang merupakan kelas pasar milik SIDO. 


Maka karena itulah, kami menganggap adanya kemungkinan distraksi pada penjualan SIDO pada 3Q22, yang juga didukung oleh inflasi yang lebih tinggi pasca naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada awal September lalu. 


Disisi lain, turunnya kebutuhan imunitas di era new normal juga dianggap sedikit menurunkan prospek penjualan jamu herbal milik SIDO di beberapa kuartal mendatang.

Keputusan investasi di SIDO setelah turun 24%, tepatkah?

Mungkin beberapa pembaca menganggap membeli SIDO di harga psikologis Rp600an per saham cukup strategis mengingat sebelumnya SIDO pernah diperdagangkan di titik tertinggi pada 1070. Tapi benarkah SIDO dianggap murah untuk saat ini?


Untuk menjawab ini, kita dapat melihat secara sederhana valuasi SIDO yang saat ini dihargai dengan Price to Earnings Ratio (P/E) sebesar 22 kali. Apakah investor dapat mewajarkan untuk membeli SIDO di P/E 22 kali dengan perbandingan bahwa investor dapat berinvestasi pada perusahaan di industri yang sama seperti PT. Ultra Jaya Milk Industry (ULTJ) yang hanya dihargai pada P/E 12,8 kali di industrinya? 


Atau investor juga dapat menganggap bahwa dengan perbandingan valuasi P/E dari PT. Unilever Indonesia (UNVR) di 26,7 kali maupun PT. Indofood CBP (ICBP) di 26 kali, maka valuasi SIDO dianggap cukup atraktif. Hal itu juga tidak keliru, karena keputusan perbandingan valuasi P/E SIDO yang cenderung lebih rendah dari kelas kompetitornya.


Meski demikian, investor dapat memonitor efek lanjutan dari ekspektasi turunnya kinerja SIDO yang dianggap dapat kembali mempengaruhi harga sahamnya dalam beberapa minggu mendatang. Artinya, bila ruang downside masih terbuka lebar, kenapa harus buru-buru untuk akumulasi?


Namun, investor juga dapat menganggap pembelian secara bertahap pada saham SIDO di saat ini cukup tepat apabila bersandar pada fakta bahwa SIDO memberikan penawaran rasio dividen payout yang cukup atraktif. Sebagai pengingat, SIDO menawarkan yield sebesar 5,78% dividen yield pada rasio payout dividen yang terakhir.


Jadi, demikian analisis singkat kami terkait penurunan saham SIDO serta rekomendasi bagi investor. Menurut Emtrader, buy or hold nih?


Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, morning dan day briefing, cryptoclass, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-WS-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.




Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Inflasi Indonesia DIproyeksi Melandai, Gimana Prospeknya?

30 Jan 2023, 14:50 WIB
article
premium-iconArtikelInsight

Saham Menarik Ketika Natal dan Tahun Baru, Gimmick atau Fenomena?

24 Des 2022, 10:27 WIB
article
premium-iconArtikelInsight

Kenaikan Suku Bunga BI Mulai Melandai, Begini Efeknya ke Saham

22 Des 2022, 15:00 WIB
article
premium-iconArtikelInsight

Kilas Balik Pasar Saham 2022: Nikel dan Kendaraan Listrik Jadi Primadona?

22 Des 2022, 15:02 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2023, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi