Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconPemula

10 Istilah yang Muncul Saat Harga Saham Naik, Sudah Tahu Artinya?

11 Nov 2022, 16:21 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
harga saham naik

Kebiasaan trader dan investor kerap menjadi terlalu euforia saat harga saham naik dan khawatir saat harga saham turun. Padahal saham bergerak dalam sebuah siklus yang terus berulang. Jadi tidak selamanya saham akan naik dan tidak selamanya saham akan turun. Ada waktu di mana saham yang sebelumnya naik akan turun. Begitu pun saham yang sebelumnya turun akan naik.

Nah, di artikel kali ini kita akan mengulik 6 istilah yang sering muncul saat harga saham naik. Pemula wajib simak sampai selesai, ya!

Uptrend / Bullish

Uptrend adalah kondisi di mana harga suatu saham cenderung mengalami kenaikan dari waktu ke waktu jika dilihat berdasarkan garis lurus yang ditarik dari titik terendahnya. Secara teknikal saham yang sedang uptrend harus memiliki beberapa higher low atau titik rendah yang lebih tinggi dari titik rendah sebelumnya dan higher high atau puncak yang lebih tinggi dari puncak sebelumnya.

Semakin banyak higher low dan higher high yang terbentuk, sinyal uptrend bisa dibilang semakin kuat. Ditambah lagi jika volumenya meninggi tiap kali harga saham mengalami kenaikan.


Uptrend memiliki makna yang sama dengan bullish. Istilah bullish berasal dari kata “bull” dalam Bahasa Inggris yanga rtinya banteng. Kenapa disebut bullish? Karena banteng biasanya menyerang dengan cara menyerundukkan tanduknya kea rah atas. Sehingga dalam konteks saham, bullish menggambarkan kondisi pasar tengah menguat.

Baca juga: 7 Faktor yang Memengaruhi Pergerakan Harga Saham

Breakout

Sebelum bahas breakout, Emtraders mesti paham dulu dengan istilah support dan resisten. Dalam analisis teknikal, support adalah level psikologis harga yang akan menahan supaya saham tidak turun lebih dalam. Sedangkan ressiten adalah level psikologis harga yang akan menahan supaya saham tidak naik terlalu signifikan.

Ketika harga saham menyentuh resisten, maka kenaikannya berpotensi tertahan dan akan berbalik arah menuju turun. Walaupun begitu terkadang titik ini berhasil tertembus yang biasa disebut dengan breakout. Jadi breakout adalah kondisi di mana harga saham bergerak melewati level resisten sehingga membuat level resisten lama menjadi support yang baru.

Apabila resisten berhasil ter-breakout, indikasinya saham akan melanjutkan kenaikan ke level harga yang lebih tinggi. Maka dari itu breakout kerap menjadi sinyal positif bagi trader dan investor yang ingin memanfaatkan peluang kenaikan harga saham.

Baca juga: Buy on Breakout: Beli Saham Saat Naik, Apakah Potensial?

ARA

ARA adalah singkatan dari Auto Reject Atas yang bermakna batas atas pergerakan harga saham dalam satu hari. Suatu saham dinyatakan ARA kalau naik signifikan dalam persentase tertentu yang sudah diatur pada Jakarta Automated Trading System Next Generation (JATS-Next G). Bisa dibaca di sini.

Salah satu faktor yang bisa bikin harga saham meroket hingga ARA adalah sentimen dari aksi korporasi. Saham dengan likuiditas yang kecil juga lebih mudah ARA karena harganya sangat mudah digerakkan. Selain itu biasanya saham yang ARA memiliki market cap middle to low. Di orderbook, saham ARA tidak punya order di antrian jual atau offer.

Baca juga: Cara Screening Saham Uptrend

Profit Taking


Ada kalanya sentimen positif yang berseliweran membayangi kenaikan harga saham secara tajam, bahkan sampai reli terus-menerus. Tetapi perlu diketahui bahwa ketika posisi harga saham sudah terlalu tinggi, biasanya sangat rawan terkoreksi dalam waktu dekat. Untuk itu sebagai antisipasi, kita bisa amankan modal terlebih dahulu dengan cara profit taking.

Profit taking adalah aksi ambil untung yang dilakukan oleh trader dan investasi melalui penjualan saham yang dimiliki. Istilah profit taking juga kerap disebut sebagai take profit dengan makna yang sama.

Idealnya setelah membeli saham, kita harus sudah menentukan kapan keuntungannya akan direalisasikan. Namun hal ini akan sangat bergantung pada karakter atau gaya berinvestasi yang dipakai. Ada yang memilih untuk menjadi trader, tapi ada juga yang lebih nyaman menjadi investor.

Nah, untuk trader biasanya ada tiga pilihan strategi, yaitu scalping, swing, dan trend following di mana masing-masing punya posisi profit taking bisa jadi berbeda.

Baca juga: Cara Profit Taking Saham Tanpa Takut Sahamnya Naik Lagi

Sell on Strength

Sell on strength adalah strategi profit taking yang dilakukan ketika harga saham naik dan mulai tertahan oleh resisten. Penerapannya sangat bermanfaat untuk mengamankan profit yang didapat jika ternyata harga saham akan turun. Namun kekurangan dari strategi ini adalah kemungkinan traderyang hilang barang kalau ternyata saham lanjut mengalami penguatan.

Bagaimana cara menerapkan sell on strength? Baca selengkapnya di artikel berikut ini.

Baca juga: Sell on Strength Artinya: Strategi Jual yang Wajib Diketahui Swing Trader

Fase Partisipasi

Harga saham yang naik belum tentu berada di fase partisipasi karena bisa jadi hanya bersifat sementara di tengah-tengah tren yang lebih besar seperti downtrend atau sideways. Namun, saham yang terkonfirmasi memasuki masa uptrend berada di fase partisipasi atau stage 2 dari siklus harga saham.

Fase partisipasi merupakan siklus kedua yang akan muncul setelah saham mengalami sideways di fase akumulasi. Fase ini biasa disebut dengan bullish continuation yang artinya kelanjutan kenaikan. Akan ada banyak higher low dan higher high yang terbentuk pada fase ini selama saham masih lanjut bergerak naik.

Baca juga: 3 Tanda Saham yang Akan Naik ke Fase Partisipasi

Bullish Continuation

Bullish continuation adalah istilah saham yang menggambarkan kelanjutan tren naik dan mengonfirmasi adanya uptrend. Dalam siklus harga saham, bullish continuation terjadi di stage 2 atau fase partisipasi. 


Indikator lain juga bisa dilihat dari candlestick yang berbentuk white marubozu, rising three, three white soldiers, upward gap tasuki, dan lain-lain. Selengkapnya bisa dibaca di sini.


Sedangkan pola chart yang menunjukkan adanya bullish continuation antara lain cup with handle, bullish pennant dan bullish flag, base on base, ascending scallop, channeling up, bullish rectangle, dan lain-lain. Selengkapnya bisa dibaca di artikel di bawah ini.


Baca juga: Bullish Continuation Pattern, Apa dan Bagaimana Cara Identifikasinya?

Bullish Reversal

Bullish reversal muncul sebelum bullish continuation karena sinyalnya menunjukkan pembalikan harga saham menuju kenaikan. Jika dilihat dari siklus saham, bullish reversal berada di stage 1 fase akumulasi yang tren besarnya bergerak sideways setelah penurunan tajam di stage 4.


Jenis candlestick yang membawa sinyal ini antara lain piercing line, bullish harami, bullish engulfing, morning star doji, dan sebagainya. Baca selengkapnya di artikel ini.

Sedangkan pola chart bullish reversal terdiri dari V pattern, double bottom, triple bottom, inverse head and shoulders, rounding bottom, dan sebagainya. Cara mencermati adanya reversal menuju uptrend melalui pola chart bisa dibaca pada artikel di bawah ini.


Baca juga: Bullish Reversal adalah Peluang bagi Trader. Pahami Polanya

Beli di Pucuk / Kejar Harga


Selanjutnya ketika pasar saham lagi uptrend, biasanya ada fenomena ‘beli di pucuk’ alias kejar harga tepat di posisi yang sudah tinggi. Ini terjadi karena pelaku pasar ingin ikut euforia dari masa uptrend tapi telat masuk. Kenapa dibilang telat? Karena saham yang sudah tinggi sangat rawan aksi profit taking dari mereka yang beli di bawah.


Nah, tingginya tekanan jual ini yang bisa bikin harganya terkoreksi dalam. Makanya, sering kali yang kejar harga di atas malah berakhir nyangkut mengingat sahamnya sudah terjun bebas. Inilah pentingnya memahami analisis teknikal supaya kita tahu kapan timing yang bagus untuk beli saham.

Haka

Haka merupakan kependekan dari hajar kiri yang artinya beli saham dengan memasang harga bid sesuai dengan harga yang ada di kolom offer tertinggi atau harga pasar. Tujuannya supaya bisa segera dapat saham tanpa perlu antre karena banyak seller yang offer di harga pasar. Biasanya haka dilakukan dengan keyakinan bahwa harga saham bakal naik.


Baca juga: 2 Tanda Saham yang Siap Haka atau Hajar Kanan

Mau tahu bocoran saham yang harganya berpotensi naik? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelPemula

Perhitungan Break Even Point Supaya Kamu Tahu Sudah Untung atau Belum

13 Jan 2023, 16:28 WIB
article
ArtikelPemula

Istilah Price In Harga Saham, Apa Maksudnya?

10 Nov 2022, 16:18 WIB
price in harga saham
ArtikelPemula

Aset Safe Haven Emas, Pahami Maksud dan Keuntungannya Di Sini

11 Nov 2022, 16:21 WIB
aset safe haven emas
ArtikelPemula

Ekonomi AS Diprediksi Double-Dip Recession, Apa Maksudnya?

2 Nov 2022, 15:45 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi