Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Cara Mengetahui Rotasi Sektoral di Pasar Saham

1 Okt 2022, 13:24 WIB
Bagikan s
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Bank sentral di seluruh dunia mulai agresif menaikkan tingkat suku bunga. Termasuk Bank Indonesia (BI) yang terakhir kali menaikkan 50 basis poin menjadi 4,25%.

Kondisi perubahan kebijakan bank sentral ini akan mendorong potensi rotasi sektoral di pasar saham. Ditambah lagi baru-baru ini perekonomian global juga diprediksi akan masuk ke masa resesi pada 2023.

Lalu, gimana caranya supaya tetap bisa menghasilkan profit di market saati kondisi seperti ini? Sektor apa yang bisa dilirik?

Siklus Ekonomi


Fase ekonomi tidak bisa lepas dari masa kenaikan dan penurunan. Biasanya akan diawali oleh masa depression di mana kondisi ekonomi sedang tidak bagus, lalu mulai recover sampai akhirnya masuk ke tahap boom. Namun umumnya dalam jangka panjang trennya cenderung akan naik. Sama seperti saham bergerak di dalam siklus harga yang terus berulang. Jadi tidak selamanya naik atau turun terus.


Jika ditelusuri lebih detil, fase siklus ekonomi dibagi menjadi empat, yaitu:

  • Early: Contohnya saat awal pandemi Covid-19. The Fed langsung menurunkan suku bunga dan melakukan quantitative easing yang akhirnya membuat activity rebound pada PDB (produk domestik bruto), industrial production, kredit, pendapatan perusahaan, dan lain-lain.

  • Mid: Pertumbuhan mulai slow down.  Sedangkan pertumbuhan kredit masih solid tapi profit growth sudah tidak bisa naik terlalu tinggi lagi. Selain itu kebijakan The Fed juga sudah mulai netral, tidak bisa cut rate dan tambah quantitative easing.

  • Late/boom: Pertumbuhan terbatas dan suku bunga perlahan naik.

  • Recession: Aktivitas ekonomi dan permintaan kredit mulai turun.

Baca juga: Resesi Global Menanti, Ini 3 Nasihat Warren Buffett untuk Investor

Posisi Ekonomi Saat Ini

Saat ini boleh dibilang kita ada di masa late yang cukup challenging. Terlihat dari aktivitas ekonomi AS dan global yang turun dan harga komoditas terutama energi naik di AS dan Eropa. Kendati demikian karena inflasi lagi tinggi, bank sentral tidak bisa melakukan policy eases. Hal ini direspon oleh pasar saham yang menjadi sangat lemah.

Berdasarkan dot plot dari The Fed, kemungkinan besar bulan Desember 2022 suku bunga akan berhenti dinaikkan. Sedangkan pada bulan Oktober dan November masih akan naik berturut-turut sebesar 75 basis poin dan 50 basis poin. Dengan ini, The Fed sudah membawa suku bunga ke level 4,5%, level yang dinilai cukup ideal.

Namun yang perlu diperhatikan adalah kenaikan suku bunga The Fed dari 0,25% ke 4,5% dalam waktu satu tahun itu terbillang cepat. Hal ini berpotensi menimbulkan efek di tahun 2023.

Terlepas dari itu, data tenaga kerja di AS masih solid dan harga properti mulai melemah. Apalagi, efek dari kenaikan suku bunga sudah mulai berimbas kepada harga mobil bekas dan properti yang mulai turun.. Dengan berbagai data itu, The Fed kemungkinan akan berhenti menaikkan tingkat suku bunga acuannya pada Desember 2022.

Baca juga: Ekonomi Dunia Diprediksi Akan Resesi, Ini Sejarah 5 Resesi Global Terakhir

Rotasi Sektoral

Penting untuk diketahui bahwa market cenderung bergerak mengikuti ekspektasi, sehingga akan mendahului ekonomi. Misalnya, ketika ekonomi masih resesi tapi market mulai bottoming dan naik. Ketika ekonomi berada di posisi puncak, market sudah pelan-pelan turun. Inilah pentingnya mengetahui psikologi pasar.

Rotasi sektoral terjadi di masing-masing fase:

  • Market bottom: keuangan, teknologi, siklikal

  • Bull market: teknologi, industri, bahan dasar

  • Market top: bahan dasar, energi, consumer staples

  • Bear market: energi, consumer staples, healthcare

  • Late bear market: healthcare, utilitas, keuangan

BACA JUGA: Deretan Saham Big Caps yang Terdiskon, Mana yang Potensial?

Deretan Sentimen yang Mendorong Rotasi Sektoral

  • Sepanjang tahun ini dolar ASmenguat cukup signifikan sebesar 22%. Berdasarkan data historis, setiap kali dolar AS naik di atas 15-20% secara tahunan biasanya akan terjadi sesuatu. Contoh: krisis tech bubble, housing bubble, dan lain sebagainya. Jika nanti sentral bank dan pemerintah sudah merespon, kemungkinan USD akan mulai melemah dan market mulai bullish.


  • Tahun 2022 menjadi tahun dengan volatilitas harga minyak mentah yang paling tinggi dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Harga minyak dalam sehari bisa bergerak lebih dari US$5 per barrel. Oleh sebab itu investasi di sektor riil pun menipis sehingga suplai menurun.

  • Setelah masa boom komoditas di 2012, suplai metals turun karena belanja modal perusahaan pertambangan juga turun. Padahal ke depannya transisi green energy tetap membutuhkan dirty energy. Ditambah lagi demand terhadap komoditas bisa kembali meningkat apabila China mulai recover.


  • Inventori metals cukup berisiko (inventory deflation).


  • Produksi copper dan alumunium global yang rendah bisa menimbulkan multiplier effect . Perusahaan komoditas atau metals tidak bisa menurunkan kapasitas produksi karena ada perhitungan harga ke depannya apakah akan sustain atau tidak.

  • Coal yang diprediksi beberapa tahun lagi memasuki periode sunset justru nyatanya masih sangat dibutuhkan secara global. Untuk itu cari saham coal Indonesia yang akan beralih ke sektor green ke depannya atau diversifikasi ke sumber energi lain seperti tenaga surya dan hydro power. Karena diprediksi sektor green adalah sektor yang butuh modal banyak untuk invest di suplainya. Jika pemain di pasar masih sedikit dan ternyata booming, valuasinya bisa mahal seperti teknologi di tahun lalu.

TONTON: Recording Cuantastik Cara Tahu Rotasi Sektoral untuk Investasi Saham

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan s
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Deretan Saham Big Caps yang Terdiskon, Mana yang Potensial?

18 Apr 2024, 16:47 WIB
article
ArtikelInsight

Adu Kuat Kinerja Big Bank Hingga November 2023

17 Jan 2024, 08:59 WIB
article
ArtikelFundamental

Berapa Beban Operasional Emiten yang Ideal? Baca Penjelasannya di Sini

3 Jan 2023, 13:32 WIB
article
ArtikelFundamental

Kepentingan Non-Pengendali pada Laporan Keuangan itu Apa sih?

27 Des 2022, 18:31 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi