Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconPemula

Cara Mendeteksi Pergerakan Big Fund di Pasar Saham

10 Sep 2022, 13:43 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Emtraders, perlu diketahui bahwa pasar saham digerakkan oleh adanya supply (penawaran) dan demand (permintaan). Jika demand lebih besar daripada supply, harga saham berpotensi naik. Sebaliknya jika supply lebih besar daripada demand, harga saham berpotensi turun.

Dari mana asalnya supply and demand? Jawabannya dari semua pelaku pasar termasuk ritel. Hanya saja dengan adanya big fund yang punya modal besar, harga saham akan lebih mudah bergerak baik itu naik maupun turun. Maka dari itu akumulasi dan distribusi big fund sangat penting untuk diketahui supaya bisa membaca arah pergerakan harga saham.

Gimana cara tahu akumulasi dan distribusinya secara teknikal? Langsung saja simak pembahasannya di artikel ini. 

Big Fund vs Bandar vs Smart Money

Mungkin Emtraders sudah cukup familier dengan istilah big fund atau bandar. Pertanyaannya, sebenarnya mereka ini siapa sih? Big fund atau bandar juga biasa disebut sebagai market maker, seorang individu baik secara personal atau institusi yang melakukan beli dan jual saham dalam jumlah yang besar. Tentu nominalnya lebih besar daripada investor ritel. 

Lalu apa bedanya dengan smart money? Smart money adalah modal yang diinvestasikan oleh investor institusi dalam skala yang jauh lebih besar dari investor ritel. Disebut smart money karena mereka punya informasi yang lebih baik dibandingkan ritel. Oleh karena itu mereka pintar dalam hal menempatkan uang di saham yang dilihat secara fundamental dan teknikal menarik. 

Smart money juga bisa disebut sebagai manajer investasi yang biasanya masuk ke bagian perusahaan reksa dana, bank, pengelola dana pensiun, atau asset management.

Bandar dan smart money adalah big fund karena sama-sama punya uang yang lebih besar daripada ritel. Namun tidak semua big fund itu bandar, bisa jadi indvidu atau institusi tersebut punya duit besar tapi tidak mau menggerakkan harga sahamnya. Dan tidak semua big fund adalah smart money. 

Smart money di sini melakukan pengambilan keputusan jual-beli yang tidak hanya berdasarkan makroekonomi dan laporan keuangan, tapi juga riset langsung ke lapangan. Misalnya datang ke perusahaan untuk mengenal manajemen lebih jauh dan mendatangi klien dari pengguna produk atau jasa dari perusahaan. 

Apakah dengan mereka punya informasi lebih baik bisa dapat harga di luar harga pasar? Bisa. Smart money biasanya tidak membeli di pasar reguler melainkan pasar negosiasi, sehingga bisa dapat harga lebih murah dan pergerakannya tidak terdeteksi oleh ritel. Namun terkadang mereka melibatkan ritel dengan melakukan pembelian di pasar reguler supaya ritel yang membaca pergerakannya terpancing untuk ikut beli juga dan sama-sama membuat harga saham naik.

BACA JUGA: Cara Mengetahui Saham yang Lagi Aktif Diperjualbelikan

Legalitas Market Maker di Indonesia

Market maker di AS:

  • Disebut sebagai liquidity provider untuk menjaga likuiditas. 

  • Sebuah perusahaaan yang siap untuk beli dan jual saham secara teratur dan terus menerus pada harga tertentu.

  • Lembaga Designated Primary Market Maker (DPM) adalah market maker khusus yang disetujui oleh bursa untuk menjamin bahwa mereka akan melakukan beli dan jual baik itu saham, opsi atau indeks ssuai dengan yang sudah ditetapkan.

Bagaimana dengan di Indonesia?

  • Berdasarkan informasi terakhir dari Bisnis.com BEI menyebutkan regulasi market maker akan meluncur di 2022. Namun faktanya sejauh ini belum ada informasi lebih lanjut. Sehingga statusnya masih belum legal. 

  • Market maker di Indonesia bisa melakukan pembelian di pasar negosiasi tapi tidak bisa dilihat di bid-offer dan volume dalam chart.

  • Sudah tidak bisa mendeteksi pergerakan dari kode broker karena sudah ditutup. 

BACA JUGA: Berapa Minimal Cuan dari Trading Saham?

Berpikir Seperti Smart Money

Harus lihat dari big picture dulu. Big picture market seperti apa? Bisa dilihat dari sisi makroekonomi apakah sedang baik, kurang baik, atau buruk? Nantinya ini akan berdampak pada pergerakan IHSG.

Kemudian breakdown lagi ke sectoral rotation. Dari kondisi ekonomi seperti ini, kira-kira sektor apa yang diuntungkan? Contoh krisis energi Eropa yang diakibatkan oleh gas alam dari distribusi Rusia ke Jerman sedang dihentikan. Maka otomatis mereka membutuhkan batu bara karena digunakan untuk pembangkit listrik. Dengan begitu saham dari sektor energi yang merujuk pada batu bara cukup prospektif.

Lalu kita harus forward looking juga. Sampai kapan krisis energi ini terjadi? Setelah melihat saham batu bara berpotensi naik, kira-kira sektor lain apa yang akan diuntungkan?

Perhatikan juga sisi value investing perusahaan tersebut dan apakah harganya terdiskon? Biasanya ketika harga batu bara naik, sektor apa yang akan ikut naik? Cek lagi saham dari sektor tersebut valuasinya masih diskon atau tidak.

Baca juga: 3 Cara Mengatahui Big Investor Masuk ke Saham Tertentu

Cara Mendeteksi Pergerakan Big Fund Secara Teknikal

Berhubung kode broker sudah ditutup, kita tetap bisa melihat pergerakan big fund dengan cara analisis volume chart. Volume menggambarkan supply and demand di market sehingga dari sini kita bisa melihat konfirmasi harga saham akan naik atau turun.


Nah, sebelum membahas proses akumulasi dan distribusinya, pahami dulu siklus harga saham yang terdiri dari stage 1 (bullish reversal), stage 2 (bullish continuation), stage 3 (bearish reversal), dan stage 4 (bearish continuation). Namun kita akan fokus ke stage 1 dan stage 3 yang menjadi fase terjadinya proses akumulasi dan distribusi oleh big fund.


Proses Akumulasi

Proses akumulasi terjadi di pasar negosiasi. Seperti yang disebutkan, transaksi di pasar negosiasi tidak bisa terdeteksi secara real time market. Meski begitu saat penutupan perdagangan, ritel bisa lihat datanya misal dari RTI. Dan ketika sudah terlihat melalui chart di mana harga menembus resisten (breakout) dengan volume besar dari stage 1, ini menjadi sinyal ritel ritel untuk ikut beli. 

Secara teknikal pola akumulasi didahului oleh tren turun dari stage 4. Kemudian ketika mulai landai, harganya turun disertai volume semakin kecil. Dan ketika harganya menuju breakout, muncul lonjakan volume yang semakin besar.


Ada juga beberapa saham yang pola akumulasinya ketika harga turun volume juga ikut turun. Hal ini menandakan bahwa ada pembalikan harga menuju naik. Dan ketika harga naik volume naik, artinya masih akan lanjut naik.


Di bawah ini adalah contoh pola bullish reversal yang biasanya terbentuk di stage 1.


Baca juga: Cara Mengetahui Bandar Sedang Akumulasi Saham

Proses Distribusi

Terkadang saat big fund sudah keluar, ritel terjebak dengan masih pegang sahamnya. Alhasil rugi karena harga saham turun setelah distribusi selesai. Maka dari itu penting untuk mengantisipasi proses distribusinya.

Harga saham turun menembus support (breakdown) di peralihan stage 2 ke stage 3 dengan volume besar artinya distribusi mulai terjadi. Kemudian akan ada mark up di mana harga naik dengan volume kecil yang sebenarnya smart money masih ingin jual tapi supaya ada ritel yang nampung di market otomatis harganya dinaikkan dulu. Volume kecil menunjukkan daya beli yang rendah jadi ritel harus waspada karena kenaikan hanya sementara dan berpotensi turun.


Ketahui juga bahwa semakin besar kapitalisasi semakin lama proses distribusi. Semakin kecil maka akan semakin cepat. Biasanya saham third liner kalau smart money sudah selesai distribusi biasanya akan terjadi ARB selama beberapa kali di mana harga saham terkoreksi ke level 6%.

Baca juga: Ciri-Ciri Saham Sideways di Fase Distribusi, Wajib Tahu untuk Antisipasi!

Di bawah ini adalah contoh pola bullish reversal yang biasanya terbentuk di stage 3.


Tonton: Recording Cuantastik Kenali Pola Akumulasi dan Distribusi Big Fund untuk Trading Optimal

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-


emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelPemula

Cara Mengetahui Saham yang Lagi Aktif Diperjualbelikan

7 Nov 2022, 15:54 WIB
article
ArtikelPemula

Berapa Minimal Cuan dari Trading Saham?

2 Nov 2022, 15:48 WIB
article
ArtikelPemula

Mau Buka Rekening Saham? Begini Ciri-Ciri Sekuritas yang Bagus

26 Sep 2022, 15:54 WIB
sekuritas yang bagus
ArtikelPemula

Tips Memilih Saham dan Menyusun Portofolio untuk Pemula

23 Sep 2022, 16:06 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi