Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconFundamental

Kinerja Keuangan Emiten Big Caps vs Second-Liner Melejit, Lebih Baik Koleksi yang Mana?

5 Sep 2022, 15:47 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Sebagai investor seringkali kita dihadapkan pada berbagai macam jenis karakter saham mulai dari saham berkapitalisasi besar (big caps), saham lapis dua (second liner), hingga saham lapis tiga (third liner) atau biasa disebut saham “gorengan”.Menariknya, saham-saham third liner dan second liner seringkali malah mencatatkan keuntungan (return) yang lebih besar dibandingkan saham big caps


Misalnya saja saat ini, di era commodity supercycle yang menguntungkan saham di sektor batubara seperti PT. Adaro Energi Indonesia (ADRO) yang merupakan saham big caps mencatatkan return sebesar 68% sepanjang 2022.


Di sisi lain, kinerja saham PT Bumi Resources (BUMI) yang tergolong saham third liner justru melonjak 164,18% sepanjang 2022. Walaupun keduanya kompak menguat, tapi saham third liner malah berhasil mencatatkan rekor keuntungan bagger. Kok bisa ?


BACA JUGA: Laba Bersih Naik 8.000%, Begini Prospek Saham BUMI


Membahas lebih khusus tentang saham third liner, biasanya secara fundamental ini memang kurang sehat. Sebagai contoh pada study case saat ini yakni saham BUMI. Secara fundamental, hingga semester 1/2022 sebenarnya tidak terlalu memiliki neraca keuangan yang solid mengingat minusnya ekuitas BUMI sebesar Rp -4,94 triliun. Jadi, untuk menyeimbangkan dengan total asetnya, BUMI punya utang yang cukup tinggi atau mencapai Rp 53,22 triliun. 


Sementara itu, ADRO secara fundamental tentunya jelas lebih solid jika melihat dari tingkat utang yang masih terkelola dengan baik dimana Debt to Equity (DER) di semester I/2022 berada di level 64,50%. Bukan hanya itu, ADRO juga memiliki kas yang cukup jumbo, terlihat dari rasio kas ADRO pada semester I/2022 sebesar 142,08%. Pada umumnya, perusahaan yang punya kas lebih banyak dibandingkan utangnya, tentunya akan dianggap lebih solid atau mampu bertahan di masa depan. 


Pertanyaannya, kenapa bisa saham dengan fundamental jelek ini malah kinerja sahamnya bisa lebih atraktif bahkan sampe multibagger, dibandingkan saham yang fundamentalnya bagus? 


Nah, sebagai study case kita akan mencoba jawab pertanyaan diatas dengan membandingkan laporan laba rugi dari saham ADRO VS BUMI (Figure 1).  Kita coba buat skenario jika pendapatan sama-sama naik 10% dengan asumsi beban dan biaya-biaya sama sekali tidak berubah. Kira-kira manakah perusahaan yang mengalami kenaikan laba bersih paling tinggi? Berikut hasilnya.


Figure 1. Perbandingan Laporan Laba Rugi 1H22 

  

Source : Company Data


Figure 2. Perhitungan Asumsi Penjualan +10% ADRO VS BUMI 

   

Melihat hasil perhitungan diatas  (figure 2), ternyata dengan kenaikan penjualan yang sama-sama 10% dan asumsi beban dan biaya yang sama, bisa menghasilkan kenaikan laba bersih yang berbeda. ADRO laba bersih berhasil naik 26%, namun BUMI berhasil mengalahkan ADRO dengan laba bersih yang berhasil naik 54%. 


Dari asumsi diatas, kita juga bisa bilang  jika pendapatan yang nilainya berubah itu adalah variable cost, sedangkan beban dan biaya-biaya yang nilainya tetap merupakan fixed cost. Sehingga, semakin besar fixed cost, maka akan semakin sensitif perusahaan terhadap kenaikan pendapatan. Sedangkan, dengan kenaikan sedikit saja dari pendapatan, bisa membuat laba naik signifikan. 


Jadi, cukup jelas bahwa performa harga sahamnya BUMI jadi naik lebih kencang dibandingkan ADRO, karena hasil kenaikan laba bersih saham BUMI yang lebih tinggi ADRO. Karena tadi kita sudah membahas tentang skenario, bagaimana dengan realitanya? 


Figure 3. Laporan Laba Rugi 1H22 ADRO VS BUMI


Source : Company Data, 6M22


Realita dari hasil kinerja laporan laba rugi ADRO VS BUMI terlihat bahwa kenaikan pendapatan kurang lebih hampir sama dimana pendapatan ADRO naik 127% YoY, sedangkan BUMI pendapatan naik 130% YoY. Namun yang menarik ADRO bisa menghasilkan kenaikan laba bersih yang jauh berbeda atau naik 611% YoY, sedangkan BUMI laba bersih naik 2674%. 


Kesimpulannya, pertumbuhan kinerja saham di sektor yang sama dengan kondisi yang sedang atraktif, saham third liner sangat mungkin melampaui kinerja saham big caps dan bisa jadi satu pilihan yang menarik juga untuk investasi. Namun tentu saja, ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan seperti sentiment/isu terkait sektoral maupun perusahaan, valuasinya, hingga turnaround story.


Mau belajar trading dan investasi saham lainnya secara praktis? yuk upgrade ke VIP member Emtrade. 

 

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

 

 

-TN-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul




Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Adu Kuat Kinerja Big Bank Hingga November 2023

17 Jan 2024, 08:59 WIB
article
ArtikelInsight

Mana Saham Properti yang Valuasinya Paling Murah? Cek di Sini!

11 Jan 2024, 13:38 WIB
article
ArtikelFundamental

Laba Bersih vs Arus Kas, Mana yang Lebih Penting?

6 Des 2022, 15:37 WIB
article
ArtikelInsight

Saham Bank Umum vs Daerah, Mana yang Lebih Bagus?

5 Des 2022, 16:55 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi