Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Era Digital Begini, Kenapa Harga Saham ERAA Turun 17%?

19 Jul 2022, 18:02 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
saham ERAA

Prospek kinerja ritel kini mulai kembali digonjang-ganjing oleh kenaikan kasus baru Covid-19. Akhirnya, ada potensi  penerapan kembali pembatasan sosial berskala nasional, atau yang dikenal dengan istilah PPKM. Salah satunya adalah Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA), harga saham emiten penjual produk digital ini sudah turun sebesar 17% sepanjang tahun ini. 


Sebelum menyelami dibalik alasan turunnya saham ERAA, mari kita rekap bisnis utama dari Erajaya Swasembada, yang dikenal pemilik gerai Eraphone ini. Saat ini, ERAA bergerak di bidang distribusi dan ritel perangkat telekomunikasi seluler, seperti ponsel dan tablet, kartu modul identitas pelanggan (SIM Card), isi ulang voucher operator jaringan seluler, aksesori, perangkat Internet of Things (IoT) dan kartu Google Play Voucher. 


BACA JUGA: Begini Cara Baca Laporan Keuangan yang Benar


Selain itu, ERAA juga menawarkan Value Added Services, seperti layanan perlindungan ponsel melalui TecProtec dan layanan penyewaan handset bekerja sama dengan perusahaan multifinance yang kredibel di Indonesia.


ERAA turun 17%, meski penjualan naik 5,8%: Kenapa?

Ada beberapa faktor yang mendorong harga saham ERAA turun. Yang paling umum adalah faktor risiko naiknya biaya material di tengah isu krisis chip. Sementara itu, melemahnya nilai tukar Rupiah terhad Dolar Amerika Serikat (AS) juga mulai berdampak pada belanja modal ERAA dalam pengadaan smartphone yang siap untuk dijual dengan nilai yang kian mahal.


1. Naiknya biaya material di tengah isu krisis Chip

Masalah krisis cip ini sebenarnya sudah terjadi sejak 2020 lalu, setelah beberapa kota dan negara menerapkan aksi lockdown gara-gara pandemi Covid-19. Dampak dari lockdown inilah yang akhirnya mendorong terjadinya gangguan rantai pasokan global. 


Bukan hanya bagi sektor elektronik, sektor otomotif-pun ikut terdampak dari adanya supply chain disruption ini yang membuat produsen otomotif berpikir untuk menaikan harga jual mobilnya dalam beberapa bulan terakhir.


Tingginya permintaan akan produk elektronik (dan digital) pada era pandemi sementara adanya keterbatasan produksi akibat kelangkaan cip inilah yang mendorong adanya kenaikan pada beban produksi. Naiknya beban produksi akibat terganggunya bahan material inilah yang akhirnya di tanggung oleh konsumen akhir (end-user) yang berdampak pada naiknya harga jual barang. 


Dengan harga beli barang untuk persedian yang meningkat, ERAA pun menaikkan harga jual produknya sebesar 27% pada kuartal I/2022. Adapun, seiring dengan kenaikan harga jual produk ERAA, perseroan mencatatkan penurunan volume penjualannya sebesar 18,4% menjadi 2,33 juta unit.


Meskipun volume penjualan turun, kenaikan harga jual produk membuat pendapatan ERAA tetap naik 4% pada kuartal I/2022 secara tahunan. Namun, margin kotor ERAA turun tipis pada kuartal I/2022 menjadi 10% dibandingkan dengan 10,2%. 



2. Melemahnya nilai tukar Rupiah.

ERAA cukup banyak melakukan transaksi dalam dolar AS untuk memenuhi persediaan smartphone yang siap didistribusikan di setiap gerainya. 


Menurut laporan perseroan, berikut ini 3 pembelian terbesar yang porsinya melebihi 10%.:

  1. Apple South Asia Pte. Ltd.,  Singapura (Rp3,7 triliun)

  2. PT. Samsung Electronics Indonesia (Rp3,6 triliun)

  3. PT. Xiaomi Technology Indonesia (Rp1,3 triliun)


Total nilai pembelian persediaan ERAA dari 3 perusahaan itu mencatatkan kenaikan 156% menjadi Rp8,7 triliun. Jumlah itu setara dengan 70% dari total pembelian persedian ERAA. Kenaikan persediaan itu menggambarkan kalau ERAA harus mengeluarkan modal kerja pengadaan persediaan lebih tinggi dari biasanya.  


Implikasi bagi Investor?

Penurunan harga saham ERAA bisa menjadi peluang jika dilihat posisinya sebagai distributor smartphone terbesar di Indonesia. Lalu, prospek ekonomi digital Indonesia yang sangat prospektif. 


Meski demikian, masih terlalu dini untuk menyimpulkan saat ini adalah kesempatan yang tepat untuk akumulasi saham ERAA. Beberapa pertimbangannya antara lain faktor makro ekonomi seperti inflasi tinggi, potensi kenaikan suku bunga, hingga adanya bayang-bayang isu resesi yang berpotensi terjadi.



Namun, pendekatan yang lebih baik untuk mempertimbangkan apakah investasi di ERAA adalah langkah yang tepat adalah dengan menganalisa performa kinerja ERAA dalam 12 tahun terakhir. Dari sisi pendapatan, ERAA ternyata mampu menghasilkan tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar 22,5% dengan laba bersihmencapai 16%. Bukan hanya itu, ERAA yang merupakan pemimpin pasar di segmen distributor smartphone di Indonesia ini kini mulai merambah bisnis Foods & Beverage hingga Apparel yang memiliki tingkat margin yang lebih baik.


Kesimpulan

Dengan penurunan yang agresif ini, ERAA kini diperdagangkan dengan rasio Price to Earnings Ratio (P/E) sebesar 7,66 kali, di bawah rata-rata P/E 5 tahunnya. Ini mengindikasikan bahwa perlahan ERAA mulai terlihat atraktif. Meski demikian, beberapa risiko yang perlu diantisipasi antara lain turunnya daya beli masyarakat, terus melemahnya nilai tukar Rupiah, hingga penerapan pembatasa sosial yang lebih ketat di tengah naiknya kembali kasus Covid-19 varian baru.


BACA JUGA: Begini Rekomendasi Analisis Saham ERAA


Mau dapat real-time trading signal serta alasan jual-belinya? 


Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, morning dan day briefing, cryptoclass, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-WS-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.






Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Update Data Makro: Inflasi AS & China dan IKK Indonesia, Apa Implikasinya?

13 Mar 2024, 15:55 WIB
article
ArtikelInsight

Keluar dari MSCI, Indeks FTSE Siap Tampung CUAN

19 Feb 2024, 14:10 WIB
article
ArtikelInsight

Kembangkan Bisnis FTTH, ISAT Akuisisi Pelanggan MNC Play

21 Nov 2023, 12:01 WIB
article
ArtikelInsight

Adu Kinerja Marketing Sales Emiten Properti di Kuartal III/2023, Siapa Juaranya?

24 Okt 2023, 17:14 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi