Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconPsikologi Trading

Loss Aversion Bias dan Pengaruhnya Terhadap Psikologi Investor

26 Jul 2022, 16:22 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
loss aversion bias dalam investasi

Pernah nonton acara kuis Super Deal 2 miliar di TV? Ketika pesertanya ditawarkan pilihan sejumlah uang tunai atau hadiah di belakang tirai, sebagian besar dari mereka cenderung memilih uang tunai. Padahal bisa saja hadiah yang mereka tolak nilainya lebih besar. Meskipun memang tidak menutup kemungkinan kalau ternyata cuma zonk atau jebakan semata.

Secara psikologi, keputusan tersebut didorong oleh bias emosional manusia yang mengabaikan potensi keuntungan dengan menghindari kerugian. Inilah yang disebut loss aversion.

Dalam kasus tadi, loss aversion bikin para peserta jadi lebih konservatif karena tidak adanya jaminan kalau hadiah tersebut akan lebih bernilai dibanding uang tunai. Jadi daripada mempertaruhkan uang yang ada di depan mata untuk sesuatu yang belum pasti, mereka lebih memilih untuk kehilangan potensi keuntungan lainnya.

Sedangkan dalam lingkup pasar saham, loss aversion bias juga kerap menjebak orang-orang dengan membuat keputusan investasi yang kurang rasional dan objektif. Kok bisa? Berikut ulasan dan cara menghindarinya.

Memahami Loss Aversion Bias

Loss aversion adalah bias kognitif yang memunculkan kecenderungan untuk menghindari kerugian daripada mencapai keuntungan yang setara. Singkatnya, dapat uang Rp100 ribu dinilai tidak lebih baik daripada kehilangan uang dengan nominal yang sama. Daripada merugi, loss aversion mendorong orang-orang untuk bertindak sebaliknya dalam upaya menolak potensi keuntungan yang lain.

Psikolog dan pemenang nobel Daniel Kahneman dalam bukunya “Thinking, Fast and Slow” menyebutkan bahwa loss aversion membuat kerugian tampak lebih besar daripada keuntungan ketika keduanya secara langsung ditimbang satu sama lain.

loss aversion bias dalam investasi

Loss aversion sangat umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya saat seseorang berhadapan dengan berbagai macam keputusan finansial. Secara tidak sadar, loss aversion memengaruhi aspek tersebut dengan lebih menimbang potensi biaya dan kegagalan dibandingkan potensi manfaat dan imbalan.

Karena psikologis manusia dapat dengan mudah terpengaruh, loss aversion tak jarang dijadikan “senjata” oleh beberapa perusahaan yang mencoba menjual produk mereka. Contohnya perusahaan asuransi yang model bisnisnya mengandalkan kebutuhan akan rasa aman dan keinginan untuk menghindari risiko.

Biasanya perusahaan asuransi akan membuat daftar rincian dari segala macam potensi risiko yang mungkin dihadapi jika tidak memiliki polis asuransi. Loss aversion kemudian memotivasi calon konsumen untuk berkomitmen pada rencana asuransi, bahkan jika kerugian tersebut tidak mungkin terjadi pada diri mereka.

Baca juga: Siklus Psikologi Investor Saham yang Wajib Kamu Tahu

Penyebab Loss Aversion Bias

Apa yang membuat loss aversion sangat melekat pada setiap pengambilan keputusan? Mengapa sebagian orang lebih menolak kerugian dibandingkan orang lain? Mengapa seseorang selalu terjebak dalam loss aversion dalam beberapa situasi tapi tidak pada situasi lain? Berikut penjelasannya.

Budaya

Mei Wang, profesor behavioral finance WHU – Otto Beisheim School of Management dan rekannya melakukan sebuah penelitian terhadap sekelompok orang dari 53 negara untuk mempelajari bagaimana perbedaan budaya memengaruhi persepsi individu tentang kerugian dibandingkan dengan keuntungan. Hasilnya menunjukkan orang-orang dari Eropa Timur mempunyai tingkat loss aversion paling tinggi dibandingkan negara-negara lainnya. 

loss aversion bias dalam investasi

Ciri budaya seperti individualisme, kekuasaan, dan maskulinitas menjadi faktor pembeda. Misalnya saja mereka yang tinggal dengan budaya kolektivis punya koneksi sosial yang lebih luas dan dekat. Dengan begitu ketika mereka membuat keputusan yang kurang tepat dan berujung pada kerugian, mereka akan tetap mendapatkan dukungan dari teman, keluarga, dan komunitasnya.

Hubungan seperti ini akan membantu seseorang dalam pengambilan keputusan yang lebih berisiko. Berbeda dengan mereka yang berasal dari budaya individualis dengan lebih sedikit jejaring sosial.

Sosial Ekonomi

Tidak hanya latar belakang budaya, latar belakang sosial ekonomi juga memainkan peran penting dalam disposisi seseorang untuk menghindari kerugian. Ena Inesi, Associate Professor of Organizational Behavior di London School of Economics mengatakan bahwa orang-orang dengan kekuasaan jarang bergesekan dengan loss aversion saat membuat keputusan.Hal itu dikarenakan mereka biasanya berada dalam posisi yang lebih baik untuk menerima kerugian tersebut mengingat kekayaan dan jaringan mereka cukup signifikan. 

Selain itu lingkungan sosial juga dapat memengaruhi loss aversion seseorang. Studi lain yang dilakukan di Vietnam menunjukkan individu kaya yang tinggal di lingkungan miskin lebih cenderung menghindari kerugian daripada individu miskin yang tinggal di desa yang makmur.

Baca juga: Cara Mengatasi Masalah Psikologi Trading

Loss Aversion Bias dan Kaitannya dalam Investasi

Saat membuat keputusan investasi, investor biasanya fokus ke tingkat risiko dari suatu instrumen, alih-alih melihat potensi keuntungannya. Pernah jual saham karena sudah cuan besar padahal belum mencapai target? Bisa jadi kamu telah terpengaruh oleh loss aversion bias.

Dengan menjual saham tersebut, itu artinya kamu menjadi lebih konservatif dan enggan mengambil potensi profit yang mungkin akan didapat bila dipertahankan dalam waktu yang lebih lama. Namun melihat adanya peluang untuk saham tersebut turun di kemudian hari, kamu memutuskan untuk profit taking tanpa menimbang-nimbang terlebih dahulu.

Begitu pula saat saham yang dipegang sedang merugi dan belum balik ke harga beli.Loss aversion memengaruhi investor untuk terus menyimpan saham tersebut dalam waktu yang terlalu lama karena tidak ingin merealisasikan kerugian pada portofolio, sekalipun secara fundamental kinerjanya menurun.

Sebuah penelitian dari Daniel Kahneman dan Amos Tversky menunjukkan bahwa rasa sakit yang dialami saat mengalami kerugian atau kehilangan dua kali lebih kuat daripada kesenangan untuk jumlah keuntungan yang sama. Ini alasannya mengapa terkadang investor mengambil keputusan yang kurang rasional.

loss aversion bias dalam investasi

Contoh lain misalnya saham dari perusahaan berfundamental kuat mengalami penurunan harga. Biasanya saham seperti ini punya kemungkinan lebih tinggi untuk segera pulih daripada perusahaan yang fundamentalnya lemah. Namun loss aversion menyebabkan sisi emosional investor untuk terus hold saham dari perusahaan dengan fundamental buruk bahkan setelah harganya terus turun.

Baca juga: 3 Mindset Trading Saham Agar Profit Lebih Maksimal

Cara Menghindari Loss Aversion Bias di Pasar Saham

  • Buat persiapan yang matang sebelum masuk ke pasar. Mulai dari trading plan, kemampuan analisis teknikal dan analisis fundamental, portfolio design, dan manajemen risiko.

  • Loss aversion dapat dihindari dengan tidak terlalu merasa terikat secara emosional dengan saham yang saat ini dimiliki.

  • Melakukan diversifikasi portofolio untuk menyeimbangkan risiko investasi. Misalnya kamu ingin trading, berikan bantalan pada portofolio berupa saham-saham big caps yang tidak terlalu volatil.

  • Menyadari adanya loss aversion bias yang bisa memengaruhi pengambilan keputusan trading dan investasi.



Mau dapat trading signal real-time serta alasan jual-belinya? yuk upgrade jadi VIP member Emtrade

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelPemula

Perhitungan Break Even Point Supaya Kamu Tahu Sudah Untung atau Belum

13 Jan 2023, 16:28 WIB
article
ArtikelPemula

Istilah Price In Harga Saham, Apa Maksudnya?

10 Nov 2022, 16:18 WIB
price in harga saham
ArtikelPemula

Aset Safe Haven Emas, Pahami Maksud dan Keuntungannya Di Sini

11 Nov 2022, 16:21 WIB
aset safe haven emas
ArtikelPemula

Ekonomi AS Diprediksi Double-Dip Recession, Apa Maksudnya?

2 Nov 2022, 15:45 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi