Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

GGRM, Peluang di Saham Raksasa yang Terpasung?

25 Jun 2022, 12:42 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Industri Rokok merupakan sektor yang telah melahirkan banyak orang kaya di Indonesia. Berdasarkan data Forbes pada tahun 2022, beberapa tokoh seperti Robert Budi Hartono, Michael Hartono, Susilo Wonowidjojo serta Putera Sampoerna masih konsisten terdaftar sebagai orang terkaya yang hampir sebagian besar kekayaannya berasal dari industri rokok.

Namun sayang, harga saham beberapa saham di sektor rokok malah mengalami penurunan dalam 3 tahun terakhir. Misalnya HM Sampoerna (HMSP) yang sahamnya telah turun 74%, diikuti oleh Gudang Garam (GGRM) sebesar 62%, serta Bantoel Internasional (RMBA) yang telah terpeleset 19.4%. Meski demikian, Wismilak Inti Makmur (WIIM) menjadi satu-satunya saham rokok yang masih tumbuh 86.4% dalam 3 tahun terakhir.

Gambar 1: Kinerja 4 saham rokok 2017-2022



Penurunan saham rokok ini sebagian besar terdampak oleh agresifitas pemerintah dalam meningkatnya tarif cukai selama beberapa tahun terakhir. Meski tujuannya baik, namun pengaruh negatifnya sangat signifikan bagi industri tembakau di Indonesia.  Berdasarkan data Dirjen Bea Cukai (DJBC), dalam 7 tahun terakhir tarif cukai rokok atau Cukai Hasil Tembakau (CHT) sudah naik 10,9%.

Gambar 2: Rata-rata Kenaikan Cukai Hasil Tembakau 2015-2021


Namun, apakah ini artinya sektor rokok telah sunset? Ataukah justru ada peluang bagi saham rokok saat ini yang sebelumnya telah menghasilkan banyak orang kaya ?


Laba Bersih vs Arus Kas, Mana yang Lebih Penting?


Secara fundamental, kami menilai bahwa Gudang Garam (GGRM) memiliki beberapa katalis yang dapat dicermati oleh investor.


Misalnya jika diukur dengan kinerja secara historis, GGRM ternyata mampu menghasilkan rata-rata pendapatan per tahun sebesar 11,5% dalam periode 2008-2021, dengan rata-rata pertumbuhan laba bersih per tahun mencapai 8,7%. Raihan kinerja GGRM ini tentu adalah angka cukup baik, karena berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia. Gambar 3: Kinerja GGRM (Pendapata+Laba Bersih) periode 2008-2021

Selain itu, kinerja GGRM ini juga tercatat lebih unggul dibanding kompetitor dekatnya, HMSP, yang hanya mampu menghasilkan rata-rata pendapatan dan laba bersih per tahun masing-masing sebesar 8,3% dan 4,7%. Secara valuasi-pun, GGRM pun sudah dikategorikan undervalued alias murah. Misalnya GGRM, yang saat ini memiliki price to earning ratio (P/E) sebesar 12 kali, mendekati P/E minus 2 standar deviasi-nya. Bisa dibilang, sebagian besar berita buruk seharusnya sudah diantisipasi dan terbentuk dalam harga saham sektor rokok saat ini.


Prospek Masa Depan GGRM


Lantas, adakah secercah harapan pada saham GGRM di masa depan? Apakah benar, bahwa GGRM masih menyimpan peluang upside sehingga layak disebut “raksasa yang terpasung” ?


Menurut kami, ada 2 penjelasannya, yaitu : Pertama, potensi absennya cukai rokok pada tahun 2024 yang dapat menjadi trigger bagi rebound-nya saham GGRM.


Tahun pemilu merupakan tahun dimana cukai rokok tidak akan dinaikan. Hal ini sudah terjadi pada tahun 2014 dan 2019 dimana cukai rokok diputuskan untuk tidak naik alias flat, dan berhasil menstimulus kinerja saham rokok pada tahun tersebut.


Begitu juga tahun 2024, yang diskenariokan akan ditiadakannya kembali kenaikan tarif cukai mengingat adanya momentum pemilu. Jika skenario ini berjalan sesuai ekspektasi, pastinya ini akan direspon positif oleh saham rokok seperti GGRM yang sudah tertidur dalam 3 tahun terakhir.

Kedua, valuasi yang benar-benar sudah murah, dengan asumsi yang paling konservatif sekalipun.


Walau GGRM saat ini sudah dinilai dengan metrik P/E yang sudah murah, namun kita akan mencoba menggunakan perhitungan Equity Bond untuk menghitung harga wajar dari GGRM secara konservatif.


Meski rata-rata pertumbuhan laba bersih per saham setiap tahun GGRM tercatat sebesar 8.7%, kami akan mencoba menggunakan asumsi konservatif bahwa dalam 10 tahun kedepan, GGRM akan menghasilkan pertumbuhan laba bersih per saham sebesar 5% per tahunnya. Ini artinya, laba bersih per saham GGRM pada 10 tahun kedepan atau 2032 diprediksikan sebesar Rp4.982 per saham. So, menggunakan P/E terendah saat ini di 12 kali (atau P/E saat ini dimana saham GGRM berada pada valuasi paling rendah), maka harga wajar GGRM seharusnya berada di Rp59.787 per saham. Angka itu hasil dari prediksi laba per saham selama setahun pada 2032 dikali dengan P/E GGRM saat ini di level 12 kali.

Saham Bank Umum vs Daerah, Mana yang Lebih Bagus? Tapi ingat, ini belum termasuk dengan potensi dividen yang kita dapatkan dari GGRM ya. Tiap tahun, manajemen selalu konsisten membagikan dividen per lembar sebesar Rp2.600 per lembar. Maka dalam 10 tahun kemudian, potensi dividen yang bisa peroleh dari GGRM adalah: Rp26.000 per saham. Dengan menggabungkan potensi dividen ini, maka harga wajar GGRM yang dapat kita ekspektasikan adalah Rp85.700. Angka itu hasil dari harga wajar GGRM dengan asumsi harga wajar GGRM di 2032 ditambah dengan dividen per saham GGRM selama 10 tahun ke depan senilai Rp26.000. . Namun demikian, ada potensi kenaikan, tentu ada risiko yang perlu diantisipasi oleh investor. Misalnya, naiknya tarif cukai pada tahun 2023 yang diprediksi menekan kinerja sektor rokok. Lalu, diterapkannya kembali cukai rokok pada 2025 juga diekspektasikan akan menjadi risiko lanjutan bagi bisnis sektor rokok Indonesia, termasuk GGRM. Jadi, bagaimana strategi trading saham rokok serta sektor consumer goods secara garis besar?


Jangan lupa juga untuk upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-WS-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.




Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
premium-iconArtikelInsight

Saham Menarik Ketika Natal dan Tahun Baru, Gimmick atau Fenomena?

24 Des 2022, 10:27 WIB
article
premium-iconArtikelInsight

Kenaikan Suku Bunga BI Mulai Melandai, Begini Efeknya ke Saham

22 Des 2022, 15:00 WIB
article
premium-iconArtikelInsight

Kilas Balik Pasar Saham 2022: Nikel dan Kendaraan Listrik Jadi Primadona?

22 Des 2022, 15:02 WIB
article
premium-iconArtikelPemula

Begini Persamaan Arti GOAT dalam Sepak Bola dan Investasi Saham

19 Des 2022, 16:25 WIB
arti GOAT dalam sepak bola
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2023, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi