Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Nasib Consumer Goods dan Semen di Era Harga Komoditas Tinggi

22 Jun 2022, 15:33 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
saham consumer goods
Harga komoditas global terus bertahan di level tertinggi selama hampir setahun terakhir.Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sudah mengalami kenaikan hingga 765,313% atau bisa dikatakan telah kembali keharga sebelum pandemi Covid-19. Begitu juga dengan kontrak komoditas batu bara tahun 2025 pada 18 Juni 2022 berada di level U$ 250. 

Selain minyak dan batu bara, komoditas lain seperti gas alam, kedelai, dan gandum juga mengalami kenaikan. Harga komoditas yang naik berkali-kali lipat ini, seiring dengan recovery ekonomi yang terjadi. Demand terhadap komoditas mulai kembali menguat seiring meningkatnya aktivitas masyarakat dan industri. Sayangnya, kecepatan demand tidak dapat diimbangi oleh produksi yang sempat melambat akibat pandemi. Terjadinya disrupsi supply chain, di mana selama pandemi terjadi PHK di sektor pelayaran yang mengganggu distribusi barang di seluruh dunia. Akibatnya suplai terhambat dan tidak dapat memenuhi permintaan juga turut mendorong tingginya harga komoditas.

Efek ke Consumer Goods


Saham consumer goods berpotensi mencatatkan kenaikan biaya produksi akibat tren harga komoditas yang merupakan bahan bakunya sudah berada di level tinggi. Pasalnya, bahan baku produksi emiten consumer goods harus diganti dengan yang baru dan di saat itulah, biaya produksi akan meningkat karena harga bahan baku saat ini sudah cukup tinggi. Kondisi itu berpotensi menekan margin emiten consumer goods pada kuartal III/2022.

Di sisi lain, ada peluang besar bagi saham consumer goods ketika harga komoditas, seperti gandum, kembali normal di masa depan. Peluang itu antara lain potensi kenaikan tingkat pendapatan masyarakat Indonesia setelah harga komoditas stabil. Dengan begitu, rencana kenaikan harga produk jual oleh emiten consumer goods bukan lagi menjadi masalah bagi konsumen. Hal itu bisa menutup penurunan margin yang terjadi saat ini.

Saat harga komoditas sudah stabil, seluruh sektor berpotensi mendapatkan sentimen positif. Seperti komoditas, bakal mendapatkan kepastian margin keuntungan yang didapatkan, begitu juga dengan consumer goods yang bisa mendapatkan kepastian biaya produksi.

Efek Kenaikan Harga Batu bara ke Harga Semen


Pemerintah memutuskan untuk melanjutkan kebijakan harga khusus batubara sebesar US$ 90/ton untuk industri semen dan pupuk dalam kebijakan Domestic Market Obligation (DMO). Bisa dibilang biaya produksinya berpotensi terjaga, kita tinggal menunggu emiten di sektor semen ini mengoptimalkan kebijakan pemerintah guna meningkatkan pendapatan. Jika emiten mampu, maka terdapat peluang di sektor ini. (bisa ngga warm up utilisation nya mereka, kalau mereka bisa, upside nya ada banget)



Properti Berpotensi Diuntungkan dengan Naiknya Komoditas Batu bara?

 

Sektor properti berpotensi diuntungkan jika harga komoditas sudah stabil. Pasalnya, dengan harga komoditas yang stabil, tingkat keuntungan bisnis sektor komoditas berpotensi kinerja baik. Nah, dengan bisnis sektor komoditas berkinerja cukup baik, berarti bisa meningkatkan pendapatan masyarakat Indonesia yang terhubung dengan rantai pasok komoditas.



Gambar: Grafik Perbandingan CTRA dan ITMG 2008 hingga 2016


Hal itu bisa terbukti pada grafik di atas jika saham komoditas batu bara berwarna biru (diwakili ITMG) dan saham properti berwarna orange (diwakili CTRA) sama-sama menguat sejak April 2009. Naiknya saham sektor batu bara ini, didahului dengan kejadian komoditas super cycle pada tahun 2009 hingga 2011. 


Keuntungan dari naiknya harga komoditas membuat spending masyarakat untuk berinvestasi pada sektor riil seperti properti juga meningkat. Penjualan properti yang meningkat tentunya turut mendorong sektor saham properti rally hingga Agustus 2015.


Di sisi lain, risiko kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia disebut bisa meredam permintaan properti. Namun, hal itu berpotensi tidak terlalu berpengaruh jika harga komoditas mulai stabil dan pendapatan masyarakat juga mulai naik. Misalnya, suku bunga cicilan naik 1%-2% tidak terlalu berpengaruh terhadap permintaan kredit rumah jika pendapatan masyarakat naik 30%. 


Lalu kapan beli dan jualnya? Mau belajar saham lebih lengkap? Yuk bgabung VIP user Emtrade. 


Dengan menjadi user VIP emtrade kamu bisa mendapatkan konten edukasi, konten analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, seminar rutin, sampai morning dan day briefing setiap hari perdagangan. 


Klik di sini untuk menjadi VIP user Emtrade


HF

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.










Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
premium-iconArtikelInsight

Saham Menarik Ketika Natal dan Tahun Baru, Gimmick atau Fenomena?

24 Des 2022, 10:27 WIB
article
premium-iconArtikelInsight

Kenaikan Suku Bunga BI Mulai Melandai, Begini Efeknya ke Saham

22 Des 2022, 15:00 WIB
article
premium-iconArtikelInsight

Kilas Balik Pasar Saham 2022: Nikel dan Kendaraan Listrik Jadi Primadona?

22 Des 2022, 15:02 WIB
article
premium-iconArtikelPemula

Begini Persamaan Arti GOAT dalam Sepak Bola dan Investasi Saham

19 Des 2022, 16:25 WIB
arti GOAT dalam sepak bola
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2023, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi