Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Alasan Harga Saham Perkapalan Melejit di Atas 100%

25 Mei 2022, 18:28 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
saham perkapalan

Setelah melonjak 16x lipat dalam 1 tahun terakhir, saham PT. Temas Indonesia Tbk (TMAS) mendadak jadi perbincangan sejagat investor bursa saham di Indonesia. Apa yang mendorong saham sektor perkapalan bisa melompat tanpa batas di awal tahun 2022?


***


Jadi Obrolan di Emtrade …

Kolom komentar Morning Briefing (MB) Emtrade mendadak ramai setelah saham-saham perkapalan secara aktif disebut dalam even-even Emtrade : mulai dari Instagram Live hingga even ekslusif mingguan Cuantastik yang diadakan tiap sabtu tersebut.


Saham perkapalan memang menjadi primadona saat ini, terutama jika melihat kinerja return saham perkapalan yang rata-rata meningkat lebih dari 1 kali lipat alias 100%.


Misalnya saja TMAS yang secara kinerja return tahunan telah mencetak kenaikan 1657%. Tidak mau kalah, PT. Samudera Indonesia Tbk (SMDR) mengekor kenaikan return tahunan sebesar 975% secara tahunan.


Artinya, jika kita investasikan uang senilai Rp10 juta di TMAS & SMDR pada 2021, maka keuntungan kalian masing-masing hari ini adalah Rp160 juta & Rp107 juta. Angka yang lumayan untuk mempercepat modal resepsi pernikahan.


Kembali lagi, anomali yang terjadi pada saham perkapalan kini menjadi bahan gosip bagi investor di bursa efek Indonesia. Kok bisa?


Penulis mencoba menilik laporan kinerja masing-masing emiten perkapalan ini untuk memuaskan hasrat pertanyaan netizen tentang “lompatan” return saham perkapalan yang bikin geleng-geleng ini.


Pertama, TMAS. Penulis akan mengambil kinerja tahunan 2021.


Dari awal saja, penulis sudah dikejutkan oleh kinerja TMAS yang boleh disebut amazing!


Bagaimana tidak terkejut, meskipun perusahaan hanya mampu mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 26,2%, laba kotor TMAS justru melonjak 74%.


Naiknya laba kotor ini mendorong margin laba kotor TMAS tahun 2021 menjadi 21,6% dari 15,7% di 2020.


Turun ke bottom-line, TMAS juga mencatatkan pertumbuhan laba operasional sebesar 108.4% menjadi Rp544 Miliar. Tidak heran, laba TMAS melonjak 12 kali lipat pada 2021 menjadi Rp697 Miliar. 


Biar lengkap, penulis juga mengulik kinerja perusahaan kedua di sektor perkapalan : SMDR.


SMDR mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 37% menjadi Rp673 Miliar pada tahun 2021.


Setali tiga uang dengan TMAS, SMDR juga mampu membukukan kenaikan laba kotor sehingga mendorong margin laba kotor pada 2021 menjadi 28% dibandingkan dengan 13% pada 2020. 


Kenaikan laba kotor inilah yang mendorong SMDR mampu membukukan kenaikan laba kotor yang substansial, dari rugi US$2,3 juta di 2020 menjadi untung US$139 juta di 2021. 


Pertanyaannya sekarang adalah : kok bisa kinerja saham perkapalan mengalami kenaikan yang yahud di 2021? Dan, bagaimana prospeknya di 2022?



Semua akan naik pada waktunya

Dikutip dari CNBC, naiknya tarif kontainer telah terjadi sejak awal 2021 yang sebagian besar dipengaruhi oleh kelangkaan kontainer serta terlambatnya produksi barang dari China yang sempat mengambil kebijakan penguncian diri alias lockdown.


Sebagai gambaran, bisnis pelayan merupakan bisnis padat modal. Artinya,  sangat tidak mudah untuk membangun bisnis pelayaran sehingga pemain di industri ini terbilang cukup terbatas yang pada akhirnya menimbulkan pasar oligopoli, alias hanya ada beberapa pemain saja. Dengan kondisi inilah, maka pemain di industri perkapalan dapat secara agresif mempengaruhi kondisi pasar.


Seperti hukum permintaan dan penawaran, keterbatasan kontainer inilah yang menjadi biang keladi naiknya tarif kontainer yang disebut telah naik 300% pada tahun 2021. Untuk sedikit merasakan bagaimana dampak kenaikan tarif kontainer ini, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyebut bahwa ocean freight rate untuk kontainer kapasitas 40 feet dari Indonesia tujuan Amerika Serikat (AS) telah menyentuh angka US$22.000, naik 1000% dari kondisi normal. Sementara untuk tujuan Eropa, harga ocean freight rate berada pada kisaran US$16.000, naik 967%. Serem.


Secara domestik, berdasarkan keterangan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) pun juga menyebut bahwa tingkat kenaikan tarif angkutan kontainer pada tujuan atau dari kota-kota besar di Indonesia Timur telah meningkat 20%-80%. Sementara untuk di kawasan Sumatera telah melonjak 30%-60%.


Maka jelas, pihak yang diuntungkan dari kondisi pasar saat ini adalah operator utama pelayaran, termasuk didalamnya SMDR dan TMAS. Sementara yang dirugikan tentunya adalah perusahaan yang memiliki orientasi ekspor maupun impor dalam pengadaan barang/outpot produksinya. 


Kenaikan tarif kontainer ini pun berlanjut hingga tahun 2022 dimana perusahaan pelayaran domestik telah sepakat untuk menerapkan sistem floating booking space yang dimulai pada Januari 2022. Ini mengkonfirmasikan kembali bahwa kenaikan tarif kontainer masih akan terjadi pada tahun 2022 ini, yang mengkonfirmasi prospek sektor perkapalan yang mungkin masih akan seksi di tahun ini.



Angin segar bagi SMDR dan TMAS?

Walau TMAS belum merilis kinerja kuartal kuartal I/2022, secara sederhana kita dapat menebak potensi kinerjanya hanya dengan melihat realisasi bisnis SMDR di kuartal I/2022 yang telah dirilis.


Dengan kenaikan pendapatan sebesar 96%, SMDR kembali mencatatkan kenaikan margin laba kotor dari 24% menjadi 40% di kuartal I/2022.


Kenaikan margin ini mengantar kenaikan laba SMDR dari US$20 juta di kuartal I/2021 menjadi US$88,9 juta di kuartal I/2022. Ini setera dengan kenaikan 340% secara tahunan. Hal ini memvalidasikan bahwa kenaikan tarif di kuartal I/2022 telah terjadi dan diekspektasikan akan berlanjut hingga akhir tahun 2022.


Kenaikan laba ini pun mendorong ekspektasi laba per saham SMDR di 2022 yang meningkat menjadi US$0,07132. Ini setara dengan kenaikan 151% YoY dari tahun 2021. 


Dengan ekspektasi laba per saham  tersebut, maka SMDR yang saat ini diperdagangkan di area 3000-3200 hanya dihargai dengan 5 kali dengan indikator price to earning ratio (P/E) . Maka jangan heran jika investor masih menganggap bahwa SMDR ini masih menarik meski kenaikan harga sahamnya telah mencapai 9 kali  lipat selama 1 tahun terakhir.


Jadi, kudu piye ?

Dengan masih menariknya bisnis sektor perkapan hingga 2022, apa artinya ini momentum untuk “all in” di saham perkapalan?


Dengan mengimplikasikan rasio Price to Earnings (P/E) secara rata-rata dalam 5 tahun, bisa dibilang SMDR relatif jauh lebih aktraktif saat ini di mana SMDR diperdagangkan dengan P/E sebesar 5 kali, dibawah dari rata-rata P/E sebesar 11 kali. Disisi lain, TMAS yang saat ini diperdagangkan dengan P/E 16.3 kali relatif di atas dari P/E rata-rata 5 tahun di level 17.4 kali.


Figure 1: P/E Band SMDR
valuasi saham SMDR

Sumber: Bloomberg






Figure 2: P/E Band TMASValuasi saham TMAS


Sumber: Bloomberg



Namun, seperti yang penulis sudah sebutkan di awal bahwa melonjaknya harga saham sektor perkapalan telah mencapai 9 -10 kali lipat dalam 1 tahun terakhir, maka menangkap momentum untuk investasi di saham sektor perkapalan saat ini tidak lain merupakan suatu langkah “ketakutan kehilangan momen” alias Fear of Missing Out (FOMO).


Dengan kenaikan tersebut, maka ruang downside bagi saham perkapalan akan jauh lebih besar dibanding ruang upside-nya, mengingat adanya potensi aksi profit taking yang bisa saja terjadi di dalam suatu saham yang di cap “abnormal return”.


Tapi bagaimanapun, prospek bisnis perkapalan saat ini masih dinilai legit, setidaknya sampai akhir tahun 2022. Untuk menyeimbangkan upside tersebut, penulis perlu mengingatkan bahwa dengan dibukanya kembali aktivitas ekonomi di China setelah penerapan lockdown, maka kemungkinan normalisasi tarif kontainer sangat bisa terjadi. 


Dari sisi market-pun, perlambatan aktivitas ekonomi saat ini di tengah melonjaknya harga pangan global juga turun berdampak pada turunnya ekspektasi pertumbuhan ekonomi secara global. Bila ini terjadi, maka saham yang telah mengalami lonjakan secara fantastis sangat memungkinkan mengalami pembalikan arah yang material, seiring dengan potensi 

terkoreksinya indeks secara global.


So Emtraders, please do your own research! :) 


Strategi Trading Saham Sektor Perkapalan



Mau dapat trading signal real-time serta strategi tradingnya? yuk upgrade ke VIP member Emtrade


Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.


-WS- & -RA-


Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Update Data Makro: Inflasi AS & China dan IKK Indonesia, Apa Implikasinya?

13 Mar 2024, 15:55 WIB
article
ArtikelInsight

Keluar dari MSCI, Indeks FTSE Siap Tampung CUAN

19 Feb 2024, 14:10 WIB
article
ArtikelInsight

Kembangkan Bisnis FTTH, ISAT Akuisisi Pelanggan MNC Play

21 Nov 2023, 12:01 WIB
article
ArtikelInsight

Adu Kinerja Marketing Sales Emiten Properti di Kuartal III/2023, Siapa Juaranya?

24 Okt 2023, 17:14 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi