Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Saham Consumer Goods Saat Puasa, Cuan atau Boncos?

21 Apr 2022, 11:30 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
saham consumer goods

Saham consumer goods sempat digadang-gadang sebagai saham defensif. Namun, kini saham sektor itu sedang menghadapi tantangan dari kenaikan harga bahan baku akibat harga komoditas yang melejit. Nah, menyambut momentum puasa dan lebaran 2022, apakah ada harapan untuk saham consumer goods?


Jika sebelumnya, saham ritel memang menunjukkan tren kenaikan penjualan setiap momentum puasa dan lebaran. Hal berbeda terjadi di sektor consumer goods, justru trennya malah mayoritas turun. 


Ekspektasi adanya kenaikan penjualan dari tren berbagi parcel dan sebagainya jelang lebaran ternyata tak mampu mendongkrak penjualan dari saham consumer goods. Lalu, seberapa dalam penurunannya? Berikut 5 kinerja penjualan kuartalan saham consumer goods periode 2018-2021. 


1. INDF dan ICBP 


PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) adalah induk usaha dari grup salim yang membawahi beberapa anak usaha, salah satunya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP). 


Jika Saham ICBP dikenal sebagai produsen mie instan, susu, snack, sampai makanan bayi. Nah, INDF memproduksi bahan baku hulunya, yakni tepung Bogasari. 


Kalau melihat kinerja INDF yang sudah dikonsolidasikan dengan ICBP setiap kuartal kedua pada periode 2018-2021 trennya naik, tapi tidak signifikan. Rata-rata naik 4% jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dalam periode tersebut. 


BACA JUGA: Begini Cara Baca Laporan Keungan yang Benar


Di sisi lain, bisnis INDF tampak lebih tahan risiko ekonomi. Bahkan, saat pandemi Covid-19 memuncak di kuartal II/2020, INDF tetap mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 4% menjadi Rp22,95 triliun dibandingkan dengan kuarta I/2020.


Data Penjualan INDF per Kuartal Periode 2018-2021

Data Penjualan INDF


Padahal, anak usaha andalannya, ICBP, justru selalu mencatatkan tren penurunan penjualan setiap kuartal kedua. Rata-rata penurunan penjualan ICBP saat kuartal kedua sebelum pandemi sekitar 3%. 


Lalu, setelah pandemi, penurunan penjualan ICBP di kuartal kedua lebih dalam lagi. Pada kuartal II/2020 turun sebesar 8%, sedangkan di kuartal II/2021 turun 13%. 


Data Penjualan ICBP per Kuartal Periode 2018-2021
Data Penjualan ICBP




2. UNVR


PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) memang memiliki bisnis consumer goods yang berbeda dengan INDF dan ICBP. Mayoritas bisnis consumer goods adalah produk perawatan tubuh, tetapi emiten itu juga punya bisnis minuman dan produk es krim. 


Jika dilihat trennya, kinerja penjualan UNVR selama 2018-2021 tidak mendapatkan dukungan dari momentum puasa dan lebaran. 


Dari periode 2018-2021, hanya sekali UNVR mencatatkan kenaikan penjualan pada kuartal kedua, yakni pada 2019. Waktu itu, kinerja penjualan UNVR selama 3 bulan di kuartal kedua tumbuh 1% menjadi Rp10,79 triliun dibandingkan dengan kuartal I/2019. 


Data Penjualan UNVR per Kuartal Periode 2018-2021

Data Penjualan UNVR


3. MYOR


PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) memiliki produk yang sering dijadikan parcel ketika momen puasa dan lebaran. Namun, ternyata kinerja penjualan MYOR juga tidak terdongkrak oleh momentum tersebut. 


Bahkan, sebelum pandemi Covid-19, kinerja penjualan MYOR selama 3 bulan kuartal kedua di 2018 dan 2019 tumbuh cenderung stagnan. 


Malah, penjualan MYOR ketika pandemi Covid-19 pada kuartal II/2020 naik 6% dibandingkan dengan kuartal I/2020. 


Data Penjualan MYOR per Kuartal Periode 2018-2021
Data Penjualan MYOR


4. GOOD


 PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (GOOD) bisa dibilang memiliki jenis produk yang hampir mirip dengan MYOR dan ICBP. 


Bahkan, tidak jarang produk GOOD juga dijadikan sebagai parcel di kala lebaran. 


Sayangnya, hampir saham dengan saham consumer goods lainnya, momentum lebaran bukanlah momen indah bagi GOOD. 


Malah, GOOD konsisten mencatatkan tren penurunan penjualan setiap 3 bulan kuartal II pada periode 2018-2021. 


Data Penjualan GOOD per Kuartal Periode 2018-2021

Data Penjualan GOOD


5. KINO


PT Kino Indonesia Tbk. (KINO) bisa dibilang memiliki pola yang berbeda dengan saham consumer goods lainnya. Bisa dibilang, Saham KINO cukup konsisten mencatatkan tren kenaikan penjualan saat kuartal kedua sebelum pandemi Covid-19. 


Produk yang dijajakan KINO bisa dibilang lebih beragam. Mulai dari perawatan tubuh, snack, minuman, sampai buah kaleng. 


Namun, setelah pandemi Covid-19, kinerja penjualan KINO di setiap kuartal kedua belum pulih. Pada kuartal II/2020, penjualan KINO turun 3% menjadi Rp1,08 triliun, sedangkan pada kuartal II/2021 naik tipis 1% menjadi Rp970 miliar. 


Data Penjualan KINO per Kuartal Periode 2018-2021

Data Penjualan KINO


Lalu, bagaimana strategi trading dan investasi saham consumer goods ke depannya?


Yuk, upgrade menjadi VIP member Emtrade untuk bisa mendapatkan update terkini saham yang menarik untuk trading dan investasi. 


Nantinya kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.



Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.


-SR-


emtrade.id/disclaimer


Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.






Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi