Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconRisk Management

Cara Antisipasi Dua Jenis Risiko dalam Investasi

10 Mei 2022, 11:16 WIB
Bagikan s
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
risiko dalam investasi

Setiap investasi memiliki risiko, tapi dengan kadar yang berbeda. Nah, tingkat risiko dan keuntungan itu berbanding lurus. Jika risiko rendah, keuntungan juga rendah, begitu juga risiko tinggi, berarti potensi keuntungan tinggi. Nah, ada dua jenis risiko investasi, yakni risiko sistematis dan non sistematis. Apa itu?

Risiko dalam investasi adalah ketika keuntungan investasi tidak sesuai dengan harapan. Bisa keuntungan lebih rendah atau malah mengalami kerugian. Di sini, risiko dalam investasi dibentuk oleh dua jenis, yakni risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Kedua jenis risiko itu pun sering ditemui dalam investasi saham. 

Lantas apa perbedaan diantara kedua risiko tersebut? dan bagaimana pengaruhnya terhadap return yang akan kita dapatkan?

Risiko Sistematis

Resiko sistematis (systematic risk) adalah risiko yang berasal dari kejadian-kejadian di luar perusahaan. Risiko ini cenderung tidak dapat diprediksi dan tidak mungkin untuk sepenuhnya bisa dihindari.

Soalnya, efek risiko sistematis berdampak kepada seluruh sektor bisnis. Risiko sistematis juga bisa disebut dengan risiko pasar.

Beberapa contoh yang dapat dikategorikan dalam risiko sistematis yaitu perubahan suku bunga acuan, inflasi, perang, pandemi, hingga resesi ekonomi.

Beberapa risiko tersebut cenderung sulit untuk diprediksi dan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan karena adanya risiko tersebut tidak bisa hanya dengan diversifikasi ataupun strategi aset alokasi biasa.

Pandemi Covid-19 yang masuk ke Indonesia di awal tahun 2020 menyebabkan kepanikan pasar karena aksi panic selling investor yang ingin mengamankan modalnya. Akibatnya, IHSG sebagai indeks acuan terkoreksi cukup dalam mencapai level 3.937,63 yang menjadi level terendahnya di tahun 2020. Hal ini menjadi risiko yang cenderung tidak terprediksi dan sulit untuk dihindari.

Contoh lain ketika ada inflasi, dimana uang yang beredar di masyarakat semakin banyak, bank sentral akan melakukan pengetatan moneter dengan menaikan tingkat suku bunga acuan untuk mengendalikan uang yang beredar.

Kenaikan suku bunga ini akan berdampak pada harga saham yang ada di bursa cenderung turun. Kenapa? Perusahaan yang memiliki pembiayaan dari utang perbankan akan terdampak karena beban bunga yang didapatkan juga ikut naik. Beban bunga yang naik akan menggerus laba bersih perusahaan.

Selain itu, kenaikan suku bunga juga menjadi titik penahan laju daya beli masyarakat secara bertahap demi bisa mengendalikan inflasi. Artinya, ada potensi pendapatan di beberapa sektor bisnis mengalami perlambatan dari efek kenaikan suku bunga untuk jangka menengah.

Kedua hal itu bakal mempengaruhi kinerja keuangan emiten sehingga bisa menjadi indikator penggerak harga saham sebuah emiten.

Beberapa penelitian menjelaskan bahwa risiko sistematis akan berpengaruh signifikan terhadap return dari portofolio kita. Mudahnya, semakin besar risiko sistematis yang muncul akan semakin besar pula kemungkinan perubahan return dari portofolio kita. Lantas bagaimana kita dapat meminimalisir risiko sistematis yang mungkin terjadi?

Cara mengatasi Risiko Sistematis

Resiko sistematis memang tidak bisa dihilangkan, tetapi dapat diminimalkan dengan pemilihan saham sesuai betanya.

Saham Beta (β) adalah simbol yang diberikan untuk menilai kerentanan atau volatilitas suatu saham terhadap market. Beta saham menjadi salah satu faktor bagi investor apakah akan memilih saham tersebut atau tidak. Ukuranya sebagai berikut :

  • Jika beta saham <1, maka sensitivitas harga saham lebih kecil dari IHSG. Contoh suatu saham memiliki angka beta 0,5 dan IHSG turun 2%, harga saham juga ikut namun hanya sebesar 1% saja, begitu juga sebaliknya ketika IHSG naik.

  • Jika beta saham >1, maka sensitivitas harga saham lebih besar dari IHSG. Contoh suatu saham memiliki angka beta 2 dan IHSG turun 1%, harga saham juga ikut turun sebesar 2%, begitu juga sebaliknya ketika IHSG naik.

  • Jika beta saham = 1, maka sensitivitas harga saham sama dengan IHSG. Saham akan bergerak searah dengan market dan mempunyai volatility yang sama dengan market.

  • Jika beta saham <0 atau negatif, saham justru akan bergerak berlawanan dari market. Ketika IHSG naik saham tersebut justru turun, begitu juga sebaliknya.

Bagaimana kita bisa mendapatkan beta saham? Perolehan nilai beta dapat dihitung dengan memanfaatkan teknik regresi dengan memanfaatkan return saham sebagai variabel dependen serta return pasar sebagai variabel independen. Rumus dari beta saham sebagai berikut :

Rumus saham Beta

Ra : Return Asset

Rm : Return Market

Adapun cara yang lebih mudah dengan mengakses website pefindo.com, cari “Beta Stock” ⇒ “Historical”, lalu akan muncul daftar beta saham. Beta saham ini akan diperbarui oleh pefindo seminggu sekali.

Deretan Saham Beta

Deretan saham Beta Pefindo 

Dengan melihat beta saham, risiko sistematis yang sejatinya sulit untuk dihindari,menjadi cukup mudah untuk diantisipasi.

Risiko Tidak Sistematis

Risiko tidak sistematis (non systematic risk) adalah risiko ketidakpastian yang terjadi hanya di satu emiten atau sektor bisnis. Risiko tidak sistematis termasuk risiko yang dapat dihindari lewat diversifikasi portfolio.

Beberapa hal yang termasuk risiko non sistematis yaitu risiko bisnis, risiko keuangan, risiko operasional, dan risiko hukum

Risiko Bisnis

Risiko bisnis bisa datang dari masalah eksternal maupun internal. Risiko internal terkait dengan efisiensi operasional, seperti kegagalan manajemen untuk mengambil hak paten untuk melindungi produk yang dapat mengakibatkan hilangnya keunggulan kompetitif, ataupun munculnya pesaing baru yang lebih unggul dalam mendapatkan target pasar sebagai masalah eksternal perusahaan

Risiko Keuangan

Risiko keuangan berkaitan dengan struktur modal suatu perusahaan. Perusahaan perlu memiliki tingkat utang dan ekuitas yang optimal untuk terus tumbuh dan memenuhi kewajiban keuangannya. Seberapa optimal utang dan ekuitas dapat dilihat dari rasio likuiditas perusahaan tersebut.

Risiko Operasional

Risiko operasional dapat diakibatkan oleh kejadian yang tidak terduga atau lalai, seperti putusnya rantai pasokan dan gangguan teknis dalam proses produksi yang nantinya akan berdampak pada kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Risiko Hukum dan Kebijakan

Risiko dimana perubahan undang-undang atau peraturan akan merugikan bisnis. Perubahan ini dapat meningkatkan biaya operasional atau menimbulkan hambatan dalam perusahaan membukukan keuntungan yang maksimal. Contohnya kebijakan larangan ekspor pada perusahaan batubara dan diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan domestik atau Domestik Market Obligation (DMO) karena adanya krisis pasokan listrik. Akibat dari adanya kebijakan ini, perusahaan yang berorientasi ekspor akan mengalami penurunan pada laba bersih yang dihasilkan.

Cara Mengatasi Risiko Non Sistematis

Ada istilah “Jangan meletakkan semua telur dalam satu keranjang” , ketika keranjang tersebut jatuh maka telur yang di dalamnya akan pecah semua. Begitu juga dengan portofolio investasi kita jika tidak melakukan diversifikasi saham dan terjadi suatu risiko maka akan berdampak pada semua saham kita.

Risiko non sistematis dapat diatasi dengan cara susunan portofolio investasi atau trading kita bagi ke beberapa sektor. Contohnya, dalam satu portofolio kita punya saham masing-masing dari sektor perbankan, komoditas, dan property.

Dengan begitu, apabila terjadi suatu risiko non sistematis pada satu sektor di portofolio kita, maka tidak akan berdampak ke sektor lain. Misalnya, kinerja saham sektor consumer goods mengalami tekanan ketika harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) lagi tinggi-tingginya.

Namun, saham sektor lain seperti bank justru tidak dipengaruhi oleh kenaikan harga saham CPO. Dengan begitu, diversifikasi portofolio saham bisa membantu investor untuk meredam risiko non-sistematis.

Lalu, bagaimana strategi investasi saham setelah libur lebaran?

Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.




Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.




Bagikan s
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Deretan Saham Big Caps yang Terdiskon, Mana yang Potensial?

18 Apr 2024, 16:47 WIB
article
ArtikelInsight

Adu Kuat Kinerja Big Bank Hingga November 2023

17 Jan 2024, 08:59 WIB
article
ArtikelInsight

Mana Saham Properti yang Valuasinya Paling Murah? Cek di Sini!

11 Jan 2024, 13:38 WIB
article
ArtikelRisk Management

Saham Lagi Turun, Lebih Baik Average Down atau Beli Saham Lain?

10 Jan 2023, 14:04 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi