Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

NETV: Harga Saham naik hampir 3x Lipat, Buy or Bye?

15 Feb 2022, 16:50 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Sempat digugat pailit pada tahun 2020 lalu, harga saham PT. Net Visi Media Tbk (NETV) secara mengejutkan malah mencetak rekor barunya. Pasca IPO pada tanggal 26 Januari 2022, NETV telah memberikan return lebih dari 200% kepada investornya hanya dalam beberapa minggu setelah IPO dengan harga penawaran 196. Hal ini mendorong investor bertanya: “Apakah NETV merupakan pilihan investasi yang tepat mengingat harganya telah terapresiasi 2x lipat?”. Analis Emtrade mencoba untuk membedah NETV lebih dalam mengenai performa kinerja secara fundamental. Berikut temuan kami:

·   Idealisme Tidak Sejalan dengan Pasar

Dalam industri pertelevisian, persaingan yang ketat sudah menjadi makanan sehari-hari. Selain harus berebutan rating dan share yang perlahan tergerus akibat kehadiran kanal Youtube, Netflix, dsb, kini industri pertelevisian semakin sulit menyajikan program berkualitas dari banyaknya pilihan hiburan yang tersedia. Untuk bisa memenangkan rating, media harus mengandalkan program sensasi yang mampu menarik pikat kalangan penonton Indonesia, meskipun kadang tidak mendidik.


Kehadiran NETV sempat dianggap sebagai suatu oase dari keresahan program TV nasional yang dianggap tidak berkelas. Ini terjadi karena NETV memiliki idealisme dalam penayangan programnya untuk lebih memberikan hiburan lebih mendidik. Namun demikian, NETV salah memposisikan dirinya di industri pertelevisian Indonesia yang segalanya diukur berdasarkan sensasi non-edukasi. Hal ini membuat idealisme NETV tidak berjalan dengan baik karena kondisi pasar yang tidak sejalan dengan target pasar perusahaan.


NETV juga sempat menolak memberikan iklan pada setiap program televisinya untuk meningkatkan kenyamanan bagi penontonnya. Dan lagi, idealisme ini membuat kinerja pendapatan NETV tidak maksimal sehingga dalam 3 tahun terakhir perusahaan mengalami perlambatan pada pendapatan. Karena bagaimanapun juga, industri pertelevisian sangat tergantung dengan iklan yang merupakan denyut nadi dari perusahaan media. Tercatat, dalam rentang tahun 2018-2020 CAGR pendapatan NETV turun 20.6%. Catatan yang buruk bagi NETV untuk menggaet investor, meskipun memiliki landasan idealisme yang baik.

Gambar 1:



NETV secara perlahan memang sudah meningkatkan frekuensi iklan pada setiap programnya, namun kembali lagi, market NETV yang mengusung konten selera generasi milenial dan Z tidak ternyata tidak sejalan. Padahal, pasar terbesar dalam industri pertelevisian adalah kalangan generasi X yang lebih menyukai program televisi yang menyuguhkan tayangan drama dan sensasi yang bukan merupakan selera pasar NETV. Sayangnya, generasi milenial dan Z tidak lebih banyak memilih untuk menonton televisi sejak ada kehadiran platform Youtube, Netflix, dsb. Ini memperlengkapi statement bahwa kehadiran NETV jelas tidak sejalan dengan pasar sekalipun NETV diekspektasikan mampu membawa program menarik bagi para segmentasi pasarnya.


·   Lebih Besar Pasak daripada Tiang

Melanjutkan poin sebelumnya, maka tidak heran jika NETV mencatatkan kerugian dalam 5 tahun terakhir. Hingga Juli 2021, NETV masih membukukan kerugian sebesar Rp 120 Miliar, sedikit lebih baik dari realisasi kerugian pada tahun sebelumnya dimana NETV masih mencatatkan kerugian sebesar Rp 413M. Namun kerugian tetaplah rapor merah bagi manajemen, dan membuat celah yang lebar bagi investor yang memiliki prinsip profit oriented.

Gambar 2:



Dalam pandangan kami, kerugian yang terjadi pada NETV merupakan implikasi dari biaya operasional yang lebih tinggi dari pendapatan, dimana dalam 5 tahun terakhir rasio biaya operasional terhadap penjualan berkisar antara 44% - 67%. Ini pada akhirnya mendorong laba operasi NETV konsisten membukukan kerugian.






Gambar 3:



Jika dibandingkan dengan peers-nya seperti MNCN dan SCMA, biaya operasional NETV secara mengejutkan tergolong tidak efisien. Hal ini karena MNCN dan SCMA mampu mempertahankan biaya operasional terhadap penjualan di rentang 21%-26% jauh lebih rendah dari NETV. Manajemen sebenarnya sudah menyadari akan tingginya biaya operasional perusahaan melalui program mengundurkan diri secara sukarela. Maklum, komponen biaya gaji dan kesejahteraan karyawan merupakan bobot terbesar dalam komponen biaya operasional NETV, atau mencapai 33% terhadap total biaya operasional. Karenanya, bukanlah hal mengejutkan jika NETV diibaratkan dengan “lebih besar pasak daripada tiang”


·  Defisit Arus Kas Operasi Mendorong Potensi Hutang Semakin Tinggi

Jika arus kas operasional defisit, maka ketergantungan perusahaan terhadap hutang bank pastinya sangat tinggi. Jika perusahaan memiliki ketergantungan tinggi terhadap hutang bank, maka ini mendorong laba akan tergerus oleh kenaikan biaya bunga bank yang harus dibayar oleh perusahaan. Teori ini terjadi pada NETV yang sejak tahun 2018 konsisten membukukan defisit pada arus kas operasional.

Gambar 4:


Defisitnya arus kas operasi NETV akhirnya mengakibatkan hutang perusahaan melonjak hingga mencapai Rp 1,17 triliun di Juli 2022. Dengan ekuitas perusahaan yang hanya sebesar Rp 24 M, maka rasio Debt to Equity Ratio (DER) dari NETV telah mencapai 49,5x, hardly satisfying!


Kesimpulan

Dengan mempertimbangkan beberapa poin di atas, maka secara teoritis NETV seharusnya bukanlah pilihan yang aman bagi investor. Namun mengingat NETV merupakan bagian dari konglomerasi Indika yang merupakan modal bisnis yang kuat, maka NETV memiliki counter risk yang setidaknya mampu meredam risiko terjadinya pailit setidaknya dalam jangka pendek menengah.


Sebagai penutup, harga saham NETV telah melonjak 216% dalam dua minggu terakhir pasca IPO, sehingga investor perlu mewaspadai downside risk yang bisa muncul terhadap NETV, apalagi jika sahamnya tidak di support dengan fundamental yang solid. Stay smart, DYOR!


Mau Tau Update dan Strategi Investasinya?

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, morning dan day briefing, cryptoclass, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-WS-

emtrade.id/disclaimer

Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi