Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconPemula

Pengertian Bullish dan Bearish

16 Feb 2022, 11:16 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Pengertian Bullish dan Bearish harus dimengerti oleh setiap trader/investor karena sseiring berjalannya waktu, pasar saham akan bergerak naik dan turun mengikuti berbagai faktor yang berasal dari internal maupun eksternal. Ketika ada sentimen positif, pergerakan harga saham akan cenderung positif. Begitu pula sebaliknya. Ketika ada sentimen negatif, harga saham akan mengalami tekanan yang kemudian bergerak turun. Kedua kondisi tadi kerap disebut oleh para pelaku pasar dengan istilah indikator bullish dan bearish.

Untuk memahami istilah indikator bullish dan bearish, mari simak pembahasan lebih lanjut di artikel ini.

Pengertian Bullish dan Bearish

Istilah bullish berasal dari kata dalam bahasa Inggris “bull” yang artinya banteng. Seekor banteng biasanya menyerang lawan dengan cara menyerudukkan tanduknya ke arah atas. Maka bullish dalam konteks saham menggambarkan kondisi pasar yang sedang mengalami penguatan dan kemudian tercermin melalui kenaikan indeks.

Bull market terjadi ketika perekonomian di suatu negara sedang menanjak, tingkat pendapatan per kapita meningkat, dan level pengangguran menurun. Situasi seperti ini akan sangat menguntungkan perusahaan untuk mengembangkan bisnis mereka, sehingga nilai saham pun akan ikut terdorong.

Pengertian Bullish dan Bearish

Sedangkan bearish berasal dari kata dalam bahasa Inggris “bear” yang artinya beruang. Istilah bearish adalah kondisi ketika indeks harga saham mengalami penurunan. Disebut bearish karena cara bertarung seekor beruang biasanya menggunakan cakar dengan pola gerakan dari atas ke bawah. Analogi ini mewakili harga saham yang semula ada di level atas bergerak turun ke bawah.

Tren bearish harga saham terjadi akibat beberapa faktor seperti pertumbuhan ekonomi melambat, defisit neraca perdagangan, dan tingkat pengangguran meningkat. Penurunan pada harga saham mendorong pelaku pasar membawa uangnya keluar dari pasar saham.

Hal tersebut dilakukan agar mereka tidak mengalami kerugian yang lebih besar imbas dari ketidakpastian kondisi ekonomi. Tekanan jual yang besar pada akhirnya menghasilkan bull market di mana rata-rata harga saham memasuki zona merah dan IHSG ikut menurun secara drastis.

Baca juga: 4 Siklus Pasar Saham: Akumulasi, Partisipasi, Distribusi, dan Kapitulasi

Penyebab Pasar Menjadi Bullish dan Bearish

Dalam memahami Pengertian Bullish dan Bearish ada beberapa faktor yang memicu terjadinya bull dan bear market. Baik itu dari sentimen investor maupun kondisi makro ekonomi.

Pasar bullish biasanya terjadi pada saat perekonomian sedang mengalami pertumbuhan yang baik.  Faktor-faktor lain seperti suku bunga stabil, tingkat inflasi rendah, dan valuasi perusahaan yang rendah juga turut membawa prospek yang baik terhadap pasar saham.

Sentimen tersebut memberikan optimisme kepada investor untuk memborong saham-saham incaran. Di sisi lain, dalam kondisi seperti ini jarang ada investor yang mau melepas kepemilikan saham. Mengacu pada prinsip supply and demand, permintaan yang lebih tinggi daripada penawaran akan menggenjot harga saham.

Kebalikan dari bull market, tingkat pesimisme  pada bear market meluas di antara investor karena beberapa alasan. Misalnya valuasi perusahaan terlalu mahal, pelemahan atau krisis ekonomi, kebijakan ekonomi yang agresif, dan peristiwa tak terduga seperti wabah virus Covid-19.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, dalam situasi yang cukup mengkhawatirkan, investor cenderung akan mengamankan modal mereka dengan menjual saham yang dimiliki. Tingginya tekanan jual mengakibatkan harga saham jatuh semakin dalam.

Baca juga: Apa itu Harga Saham Koreksi Normal?

Menyikapi Pasar Bullish dan Bearish

Pengertian Bullish dan Bearish

Trader saham bisa melakukan buy saham saat tren harga lagi bullish dengan strategi buy on breakout atau ketika harga saham melewati level resisten. Selain itu, bisa juga melakukan buy on retracement atau ketika terjadi koreksi sesaat setelah naik tinggi. 

Untuk itu, kemampuan analisis teknikal sangat diperlukan untuk bisa menentukan posisi yang ideal. Dari situ kamu akan mengetahui support dan