Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Market Outlook dan Sektor Potensial Tahun 2022

20 Des 2021, 10:24 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Tidak terasa tahun 2022 sudah ada di depan mata dan tinggal menghitung beberapa hari lagi. Sepanjang tahun ini, IHSG masih terlihat uptrend dan sempat mencatatkan kenaikan mencapai level All Time High nya di bulan November lalu menjadi cerminan bahwa kondisi perekonomian  kita semakin pulih. 


Chart IHSG YTD 

Source ; Trading View 


Trend pemulihan ekonomi kita tentunya akan terus berlanjut pada 2022. Nah, kira-kira untuk  2022 ini apa saja hal yang harus kita perhatikan. Bagaimana kondisi makro ekonomi kita? Risiko apa yang perlu dihadapi? dan sektor apa yang potensial bakal diuntungkan di tahun 2022? Mari kita ulas bersama di bawah ini. 


Short Recap 2021

Sebelum membahas tentang potensi ekonomi dan sektor potensial tahun depan. Mati kita rekap dulu bagaimana kondisi ekonomi kita selama tahun 2021 ini. Per 17 Desember 2021, aliran dana asing yang masuk ke bursa Indonesia  sebesar Rp37,3 triliun secara year to date. Melihat secara kumulatif seperti grafik dibawah ini, aliran dana asing yang masuk tidaklah sebesar tahun 2015 - 2017. Selain itu, menurut data BEI, jumlah investor retail di bursa saat ini sudah lebih mendominasi. Maka dari itu, kita tidak usah terlalu khawatir adanya capital outflow dari asing karena bursa kita sudah lebih banyak digerakkan ritel. 


Net Foreign Flow 


Source : SSI Research, Bloomberg 


Kemudian, melihat secara sektoral ada  beberapa sektor yang mampu bergerak naik melebihi IHSG diantaranya diantaranya sektor Telekomunikasi, Infrastruktur, Consumer Retail, batu bara, dan logam8. Bisa dibilang  bahwa sektor-sektor inilah yang juga turut mendorong kenaikan IHSG.  


YTD Performance


Source : SSI Research, Bloomberg 


Kenaikan sektor-sektor tersebut juga dicerminkan oleh indeks sektoralnya yang mampu melebihi kenaikan IHSG dan yang memimpin pencapaian kenaikan luar biasa tahun ini adalah IDXTECHNO mencapai 366%. 


Sectoral Index Performance 


Source : SSI Research, Bloomberg 


Selanjutnya, tentang komoditas dimana Indonesia juga salah satu produsen komoditas terbesar dunia. Tahun 2021 ini harga-harga komoditas masih dalam uptrendnya dan beberapa mencatatkan All Time High nya seperti CPO dan Coal. Hal ini karena adanya supply chain issue sedang demand masih terus naik. Melihat konsumen komoditas Indonesia yang terbesar adalah China yang mana saat ini sedang mengalami krisis energi dan juga gejolak politik dengan Australia. Maka dari itu, Indonesia menjadi satu pilihan negara lain untuk impor komoditas. 


Oleh karena itu, tahun ini kenaikan harga komoditas menjadi keuntungan bagi Indonesia, yang membuat neraca dagang kita selama 19 bulan terakhir surplus dan juga sempat mencatatkan All Time High bulan Oktober lalu. 

Trade Balance Indonesia 


Source : Trading Economic 


Key Market Drivers 2022 

Melihat banyaknya pencapaian di tahun 2021 ini, bisa kita bilang bahwa kondisi ekonomi Indonesia sudah lebih baik dibanding ketika awal pandemi tahun 2020 lalu. Saat ini, kondisi kita sudah lebih solid dan kita bisa optimis bahwa pemulihan ekonomi akan terus berlanjut. Namun ada beberapa faktor tentunya yang perlu kita perhatikan di tahun 2022. 


Faktor-faktor yang masih mempengaruhi market tahun depan diantaranya sebagai berikut : 

  • Varian Covid-19 Baru, Omicron

Risiko Covid-19 masih menjadi risiko terbesar dan terberat di market, terlebih WHO pun mengungkapkan adanya varian baru bernama Omicron. Menurut penelitian University of Hongkong, varian omicron ini menjadi varian yang paling cepat penyebarannya dibanding varian lainnya. Hal ini karena omicron mampu menginfeksi dan bermultiplikasi 70 kali lipat lebih cepat dibanding delta. 


Data terbaru saat ini per (17/12) varian omicron sudah terdeteksi di 77 negara dan di Inggris sudah menyebar mencapai 40% dari total penyintas Covid-19 disana. Walaupun begitu, varian omicron ini hanya bergejala ringan dan tidak terlalu berisiko kematian. Namun, ke depan kita tetap perlu track down bagaimana perkembangan virus ini, dan sebagai individu kita wajib patuhi protokol kesehatan yang berlaku dan selalu jaga kesehatan. 


  • Percepatan Tapering & Kenaikan Suku Bunga 

Berdasarkan hasil FOMC Meeting oleh The Fed pada (15/12) lalu, percepatan tapering dan kenaikan suku bunga akan dilakukan. Nilai tapering yang sebelumnya US$15 miliar naik 2 kali lipat menjadi US$ 30 miliar. Hal ini akan membuat Quantitative Easing berakhir pada bulan Maret 2022. Kemudian terkait kenaikan suku bunga acuan akan mengalami kenaikan 3 kali di tahun depan secara bertahap. 


Keputusan The Fed bisa dibilang hawkish, namun mengingat saat ini posisi ritel yang kian mendominasi. Artinya porsi kepemilikan asing pun sudah lebih kecil. Kepemilikan asing terhadap SBN saat ini di tahun 2021 hanya berkisar 20% sedang di saham sekitar 46%. Jadi, untuk Indonesia sendiri walaupun market masih volatile dan sentimen ini masih jadi risiko. Potensi terjadi capital outflow oleh asing  risiko sudah cukup kecil. 


  • Keputusan Mahkamah Konstitusi Terkait UU Cipta Kerja 

Siapa yang tidak ingat dengan ributnya kejadian demo akibat peraturan Omnibus Law? Nah, didalam omnibus law ini terdapat UU Cipta Kerja yang mengatur baik dari sisi ketenagakerjaan sampai dengan Investasi. 


Hal tersebut masih menjadi pro dan kontra yang akan kita hadapi tahun depan. DIsatu sisi peraturan tersebut bisa dibuat untuk alasan dan tujuan yang baik ke depan. Namun karena peraturan ini belum selesai menyebabkan adanya ketidakpastian dalam investasi. Oleh karena itu, rupiah pun menjadi tertekan akibat peraturan yang masih belum pasti. 


Keputusan Mahkamah Konstitusi Terkait UU Cipta Kerja 


Source : Research Samuel Sekuritas 

  • Perubahan Bobot Perhitungan Market Cap & IPO Perusahaan Teknologi 

Akibat adanya perubahan bobot baru dalam perhitungan market cap menggunakan free float, dimana perhitungannya berdasarkan berapa banyak jumlah saham yang beredar di masyarakat membuat adanya perubahan dalam tingkatan saham-saham big caps di Bursa. Perubahan bobot ini nantinya juga bisa memberikan pengaruh ke pengambilan keputusan investasi juga karena saham dengan bobot free float besar biasanya akan lebih disukai big fund karena tentunya lebih likuid. 


Kemudian, di tahun depan akan ada aksi IPO perusahaan-perusahaan teknologi yang tentunya bisa mempengaruhi tingkatan saham-saham big caps lagi. Terlebih untuk perusahaan teknologi besar seperti GoTo yang memang secara valuasi sudah besar dan sudah mendapat title “Unicorn”. Seperti terlihat tabel dibawah ini dimana GoTo berpotensi menyalip BBNI dan menjadi saham big caps nomor 7 di Bursa. 


Perubahan Bobot Market Cap dengan Free Float 


Source : SSI Research, Samuel Sekuritas 


  • Pertumbuhan Kredit Perbankan Semakin Pulih 

Kondisi kredit perbankan saat ini dibandingkan pada awal pandemi lalu trendnya sudah makin membaik dan mulai pulih seperti sedia kala. Hal ini karena banyak perbankan yang melakukan restrukturisasi kredit nya dan menambah beban provisi yang besar untuk cadangan kredit bermasalah ke depan. 


Selain itu, keputusan BI yang memperpanjang kebijakan suku bunga acuan rendah di tahun ini menjadi katalis yang positif bagi kredit perbankan, karena mendukung kemampuan bayar kreditur terhadap debitur.  


Pertumbuhan Kredit Perbankan Indonesia 


     Source : SSI Research,  Samuel Sekuritas 


Sektor Apa Yang Potensial di Tahun 2022? 


Melihat berbagai faktor yang akan mempengaruhi di tahun 2022, masih ada beberapa sektor potensial yang bakal mendapatkan keuntungan tahun depan, diantaranya sebagai berikut : 


  • Bank 

Perbankan masih menjadi satu sektor yang menarik diperhatikan, karena pertumbuhan kredit yang kian pulih. Likuiditas pun juga semakin meningkat. Kemudian, valuasi bank-bank big caps pun sudah mulai kembali murah karena ada penurunan harga sahamnya di bulan Desember 2021 akibat ketidakpastian global dari FOMC Meeting dan Omicron. 


  • CPO

Melihat harga CPO yang rally sepanjang tahun ini menjadi katalis positif untuk saham-saham sektor CPO. Trend pemulihan ekonomi di berbagai negara juga akan terus berlanjut seperti China dan India yang mana menjadi konsumen CPO terbesar tentunya akan meningkatkan permintaan CPO secara global. Selain itu, di Indonesia juga sedang direncanakan diterapkannya B40. Jadi permintaan CPO domestik untuk biodiesel pun potensial meningkat. 

  • Metal Mining 

Saham-saham sektor metal mining seperti nikel katalis positifnya tidak lepas dari sentimen baterai EV dan mobil listrik. Walaupun progressnya untuk jangka panjang, namun demand terus meningkat, sehingga trend harga nikel global pun masih menguat


  • Poultry 

Industri poultry atau ayam-ayam an yang sempat tertekan karena pandemi, kedepan potensi kinerjanya akan semakin membaik. Hal ini karena adanya instruksi kebijakan culling dari pemerintah yang membantu menstabilkan harga ayam. Selain itu, dengan adanya reopening dimana kebijakan PPKM diperlonggar, sehingga mobilitas mulai meningkat dan  orang-orang sudah bisa dine in di restaurant, cafe, dll. Tentunya akan berdampak ke demand  poultry yang meningkat. 


  • Retail 

Masih terkait sentimen re-opening ekonomi, pelonggaran PPKM didukung dengan progress vaksinasi yang terus berlanjut, akan makin banyak orang yang sudah bisa keluar sehingga mobilitas meningkat dan sudah bisa belanja ke gerai-gerai fisik baik itu di mall, supermarket, minimarket, dll 


Selain itu, banyak retail yang berjualan secara online tahun ini ada harbolnas birthday sale, lalu event diskon akhir tahun menjelang tahun baru dan natal tentunya akan memberikan potensi peningkatan penjualan. Sehingga kinerja saham-saham di sektor ritel akan semakin membaik kedepannya. 


  • Healthcare

Di Tengah kondisi pandemi Covid-19 sektor kesehatan menjadi satu yang penting. Pemerintah pun tahun depan sudah menginstruksikan adanya vaksinasi booster dan tracing Covid-19 yang berkelanjutan. Oleh karena itu, banyak player dari saham-saham healthcare untuk supply alat untuk vaksin/ tracing covid-19 sampai dengan distribusi vaksin ke masyarakat secara langsung.  


  • Oil & Gas 

Oil dan Gas juga merupakan satu komoditas selain batubara yang dijadikan sebagai energi. Dibandingkan dengan batubara oil dan gas ini tidak terlalu memberikan emisi gas yang banyak. Sehingga potensi pemakaian oil dan gas bisa terus meningkat, mengingat penggunaan batubara yang semakin dikurangi karena tidak ramah lingkungan. 


  • Teknologi 

Teknologi menjadi satu hal yang fundamental dan akan menjadi satu sektor defensif di masa depan. Orang-orang sudah tidak bisa lepas dari teknologi dalam kesehariannya baik untuk sekolah, bekerja, hiburan, dll. Melihat rekap tahun ini, indeks teknologi juga mampu menguat ratusan persen secara YTD mengalahkan pertumbuhan IHSG dan tahun depan masih ada peluang dari saham-saham teknologi yang akan IPO. Oleh karena itu sektor teknologi masih cukup menarik untuk kita perhatikan tahun depan. 


  • Property

Selama pandemi ini property mendapatkan beberapa sentimen positif dari kebijakan pemerintah seperti DP 0% dan LTV 100%. Dengan dua kebijakan ini tentunya semakin meningkatkan minat pasar untuk beli property, kemudian dengan LTV 100% cash flow untuk perusahaan property bisa didapatkan lebih cepat. Oleh karena itu, trend penjualan KPR tahun ini terus meningkat. Kabarnya juga, BI akan melanjutkan dua kebijakan ini sampai akhir tahun 2022. Namun nanti kita perlu track down lagi bagaimana perkembangan kebijakan tersebut.


  • Consumer Goods

Secara sektoral, consumer goods sangat terdampak ketika awal pandemi tahun 2020 lalu, karena mobilitas dibatasi akibat  PSBB dan juga PPKM darurat, sehingga penjualan pun turun. Namun, saat ini re-opening ekonomi yang terus berlanjut, consumer goods akan jadi cukup menarik karena ada potensi peningkatan penjualan. Terlebih akhir tahun ini banyak event sale seperti harbolnas, diskon natal, dll. 


Oleh karena itu, kinerja keuangan saham-saham di sektor consumer goods ini potensial akan terus membaik di tahun 2022. Selain itu, masih ada potensial upside dari valuasi karena rata-rata valuasinya sudah cukup murah.


Jadi itulah beberapa hal terkait market outlook dan sektor potensial untuk tahun 2022. Bisa kita simpulkan bahwa tahun 2022 trend pemulihan ekonomi masih akan terus berlanjut walaupun ada beberapa risiko yang perlu dihadapi seperti varian Omicron, percepatan tapering, suku bunga, dll 


Namun, peluang investasi dan trading akan selalu ada, dan disitulah kita harus memanfaatkan peluangnya. Untuk action pilih saham mana yang harus dibeli, tentunya jangan lupa lakukan analisis teknikal terlebih dahulu untuk mendapatkan momentum yang pas untuk beli, begitu pula untuk action jual nantinya. 


Mau belajar analisis teknikal saham lebih lanjut? Yuk gabung VIP user Emtrade 

Dengan menjadi VIP user Emtrade. kamu bisa mendapatkan fasilitas konten edukasi, analisis report, tanya-jawab intensif, referensi saham, seminar rutin setiap hari, dll 

Upgrade as VIP user untuk dapatkan full access. Klik disini

-TN- 




Emtrade.id/disclaimer 

Investasi saham dan crypto mengandung risiko yang wajib disadari dan diantisipasi masing2. Emtrade tidak bertanggungjawab atas risiko kerugian yang mungkin terjadi.

Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi