Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconFundamental

Merger & Akuisisi, Bedanya Apa?

31 Des 2021, 11:21 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Istilah merger dan akuisisi sering terdengar bagi seorang investor atau trader saham. Biasanya, kedua istilah tersebut digunakan untuk menyebut aksi korporasi berupa penggabungan dua perusahaan. Namun, beberapa orang menganggap kedua hal tersebut sama, padahal memiliki perbedaan. Lalu apa perbedaannya?


Apa itu Merger?

Merger adalah aksi korporasi dimana dua atau lebih perusahaan setuju untuk mengintegrasikan dan menggabungkan aktivitas operasional mereka ke dalam satu perusahaan tunggal dengan nama baru. Merger biasanya dilakukan dengan sukarela dan melibatkan perusahaan dengan ukuran dan pangsa pasar yang sama.


Dengan demikian, maka terjadi kepemilikan baru atas perusahaan tersebut, sekaligus perubahan struktur manajemen yang merupakan hasil dari penggabungan beberapa perusahaan yang berbeda. 


Dalam perusahaan baru tersebut nantinya terdapat kepemilikan, kontrol, dan keuntungan bersama. Biasanya, merger dilakukan untuk mengurangi biaya operasional, ekspansi ke pasar baru, dan meningkatkan pendapatan dan laba. 


Contoh hasil merger beberapa perusahaan menjadi perusahaan tunggal dengan nama baru adalah Bank Syariah Indonesia (BRIS) pada tahun 2021 yang merupakan hasil merger PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIS), PT Bank Syariah Mandiri (BSM), PT Bank BNI Syariah (BNIS), dan Unit Usaha Syariah PT Bank Tabungan Negara (Persero). Selain itu ada Bank Mandiri (BMRI) pada tahun 1998 yang merupakan hasil merger PT Bank Bumi Daya (BDD), Bank Ekspor Impor Indonesia (EXIM), Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), dan Bank Dagang Neraca (BDN). Ada juga Bank CIMB Niaga (BNGA) pada tahun 2008 yang merupakan hasil merger dari Bank Lippo dan Bank Niaga. 


Baca juga: 5 Aksi Korporasi yang Mempengaruhi Harga Saham 


Lalu Apa Bedanya dengan Akuisisi?

Pembelian atau pengambilalihan suatu perusahaan oleh perusahaan lain dikenal sebagai Akuisisi. Perusahaan kecil yang diakuisisi biasanya akan melebur dan menjadi bagian dari perusahaan yang lebih besar. Sehingga, tidak ada perusahaan baru yang muncul akibat akuisisi.


Akuisisi dilakukan biasanya dengan membeli sebagian besar atau mayoritas saham (lebih dari 50 persen) dari perusahaan lain yang lebih kecil. Sehingga bisa dikatakan, akuisisi membutuhkan dana yang tak sedikit.


Perusahaan yang melakukan akuisisi biasanya lebih memiliki kekuatan dalam hal ukuran, struktur, dan kegiatan operasional bisnis. Sebagian besar perusahaan menggunakan strategi akuisisi untuk mendapatkan pertumbuhan secara instan, daya saing yang kuat, dan ekspansi bisnis. Sehingga diharapkan perusahaan yang melakukan akuisisi bisa mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas, meningkatkan profitabilitas, dan lainnya.


Contoh hasil akuisisi adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang mengakuisisi PT Penanaman Nasional Madani dan PT Pegadaian pada 13 September 2021 lalu. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mengakuisisi PT Bank Royal Indonesia pada 16 April 2019. Serta PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) resmi mengakuisisi PT Kedoya Adyaraya Tbk (RSGK) pada November 2021.


Baca juga: Saham Mau Merger & Akuisisi, Investor Harus Lakukan 3 Hal Ini


Kelebihan dan Kekurangan Strategi Merger dan Akuisisi

Saat ini, strategi akuisisi lebih populer dilakukan dibandingkan dengan strategi merger. Hal ini mengingat persaingan bisnis yang terbilang ekstrem. 


Kedua strategi tersebut memiliki tujuan yang hampir sama. Beberapa diantaranya dilakukan untuk tujuan mendapatkan keuntungan dari hal-hal terkait perpajakan, sinergi, manfaat finansial, peningkatan daya saing dan masih banyak lagi.


Namun terdapat juga kelemahan dari kedua strategi tersebut.Kelemahan tersebut seperti peningkatan pergantian karyawan, konflik dalam perbedaan budaya entitas, dan lainnya, walaupun hal ini jarang terjadi.


Rata-rata perusahaan yang menjalankan strategi ini adalah perusahaan-perusahaan go public. Lalu, jika sebuah perusahaan go public akan melakukan aksi merger dan akuisisi akankah berdampak ke harga saham? 


Merger Bank Syariah Indonesia (BRIS)


Gambar: Berita Merger BRIS Mulai Bermunculan


Penggabungan bank syariah BUMN ini kabarnya mulai santer terdengar pada Juli 2020. Waktu itu harga saham BRIS masih berada di bawah Rp 500,-. Pemerintah pun terus memberikan update positif kelanjutan rencana merger tersebut dimana bank hasil merger ini akan masuk peringkat 7 atau 8 dalam daftar 10 bank terbesar di Indonesia dari sisi aset.  Harga saham BRIS kian menguat hingga 500% puncaknya pada Januari 2021, satu bulan sebelum perusahaan resmi beroperasi dengan nama baru yakni Bank Syariah Indonesia.


Gambar: Chart BRIS Syariah Juli 2020 - Februari 2021


Secara teknikal dari chart BRIS di atas dapat dilihat jika pasca berita bermunculan pada Juli 2020, saham BRIS berhasil breakout dengan volume yang juga menguat. Harga saham terus mengalami rally (uptrend) dan dan terbentuk pola bullish continuation base on base. Sebelum hasil merger resmi dirampungkan pada Februari 2021, harga saham BRIS sudah membentuk pola bullish reversal double top sebagai pertanda uptrend berakhir pada Januari 2021.


Baca juga: Mengenali Tren Harga Saham


Akuisisi Bank Rakyat Indonesia (BBRI)


Gambar: Pemerintah Mulai Membahas Akuisisi BBRI dengan PNM & Pegadaian


Setelah merampungkan merger bank syariah, pemerintah mulai membahas rencana holding ultra mikro BBRI dengan mengakuisisi PNM & Pegadaian pada Maret 2021. Dari pembahasan tersebut diperoleh hasil bahwa proses akuisisi tersebut dilakukan dengan penerbitan saham baru (rights issue).


Gambar: Chart BBRI Maret 2021 - Oktober 2021


Secara teknikal dapat dilihat dari chart di atas, setelah adanya pembahasan holding ultra mikro Maret 2021 saham BBRI breakdown dari level support disertai dengan volume jual yang besar. Harga saham BBRI mulai berada dalam trend turun, terlihat dari terbentuknya lower high dan lower low baru. Pasca berita skema akuisisi dilakukan dengan right issue (RI) banyak bermunculan pada pertengahan Juni 2021, harga saham BBRI membentuk pola bearish continuation inverse cup with handle. Hingga jadwal RI di informasikan kepada investor, harga saham BBRI masih melemah. Bottomnya terjadi pada 22 September 2021 ketika periode perdagangan RI saham BBRI berakhir. Harga saham BBRI mulai membentuk pattern bullish reversal yakni pola inverted head and shoulder dan berhasil menguat sekitar 25% hingga Oktober 2021.


Baca juga: Cara Mengidentifikasi Chart Pattern Saham 


Bagaimana strategi trading dan investasinya saat ini? Yuk gabung VIP user Emtrade untuk mengetahui entry beli dan jual terbaik. 


Dengan menjadi user VIP emtrade kamu bisa mendapatkan konten edukasi, konten analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, seminar rutin, sampai morning dan day briefing setiap hari perdagangan. 

Klik di sini untuk menjadi VIP user Emtrade


-HF -


Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelPemula

Cara Mengetahui Saham yang Lagi Aktif Diperjualbelikan

7 Nov 2022, 15:54 WIB
article
ArtikelPemula

Berapa Minimal Cuan dari Trading Saham?

2 Nov 2022, 15:48 WIB
article
ArtikelPemula

Mau Buka Rekening Saham? Begini Ciri-Ciri Sekuritas yang Bagus

26 Sep 2022, 15:54 WIB
sekuritas yang bagus
ArtikelPemula

Tips Memilih Saham dan Menyusun Portofolio untuk Pemula

23 Sep 2022, 16:06 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi