Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconFundamental

Investasi Di Perusahaan Banyak Utang, Yay or Nay?

23 Nov 2021, 09:42 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Belakangan ini pasar saham cukup diramaikan dengan emiten-emiten yang tersandung masalah utang, ada yang karena masalah gagal bayar atau yang utangnya tinggi sehingga membuat kondisi keuangan mereka tidak ‘cantik’. Contoh terbaru WSKT yang memiliki utang hampir Rp 90 triliun sehingga pemerintah harus turun tangan untuk mengatasi masalah tersebut. Atau emiten-emiten seperti GIAA dan SRIL yang hingga saat ini perdagangan sahamnya masih suspend karena masalah gagal bayar dan penundaan pembayaran utang jatuh tempo.

Bagi perusahaan, utang adalah kewajiban nomor satu yang harus dipenuhi sebelum perusahaan memenuhi kewajiban lain. Bahkan dalam kasus likuidasi, perusahaan wajib membayar utangnya terlebih dahulu sebelum mengembalikan modal dari pemegang saham. Artinya utang menjadi kewajiban yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sehingga tak heran jika investor retail saat ini juga mulai memperhatikan bagaimana kondisi utang dari tiap emiten. Tapi apakah emiten-emiten berutang besar layak diinvestasikan?

 

Mengukur Utang Perusahaan

Sebelum masuk ke layak atau tidak, ada baiknya kita mengetahui kategori ‘utang besar’ itu seperti apa. Lebih dari Rp 1 triliun? atau harus diatas Rp 5 triliun untuk dikategorikan besar?

Bukan, besar kecilnya utang perusahaan tidak sekedar dinilai dari nominal saja, karena utang Rp 1 triliun bagi satu perusahaan bisa saja kecil tapi untuk perusahaan lain sudah sangat besar. Oleh karena itu, dalam menilai utang dikenal yang namanya Debt to Equity Ratio (DER) yang membandingkan antara total utang perusahaan dengan jumlah modal yang dimiliki.

Umumnya investor mematok DER sebesar 1 kali untuk menentukan perusahaan tersebut memiliki utang yang berada di batas wajarnya, artinya antara total utang dengan modal memiliki jumlah yang sama. Tetapi investor kadang mentolerir jika DER lebih dari 1, setidaknya tidak lebih dari 2, tentu dikombinasikan dengan kondisi operasional perusahaan.

Disamping itu, Gearing Ratio juga menjadi salah satu rasio yang digunakan untuk menilai struktur modal perusahaan. Berbeda dengan DER yang membandingkan total utang dengan modal, Gearing ratio lebih fokus menghitung utang berbunga saja.



Baca juga: FA7: Laporan Keuangan Neraca (Balance Sheet)

Artinya, gearing ratio menilai sejauh mana operasional perusahaan dimodali dengan utang berbunga seperti obligasi, utang bank, dan utang berbunga lain dibanding modal yang dimiliki.

Eitss, tapi jangan buru-buru dihitung dulu yaa.. karena perhitungan rasio-rasio utang tersebut hanya berlaku untuk perusahaan non-bank. Karena bagi sektor perbankan, utang menjadi dana kelolaan (dana pihak ketiga: tabungan, giro, dan deposito), tidak seperti perusahaan non-bank yang menggunakannya sebagai belanja modal.

 

Pengaruh Utang Terhadap Kinerja Perusahaan

Apakah utang perusahaan akan berpengaruh terhadap kinerja? Jawabannya ‘iya’. Ada beberapa dampak yang akan dirasakan perusahaan yang memiliki jumlah utang cukup tinggi.

‘Gerak’ Tidak Fleksibel

Kelincahan operasional perusahaan yang memiliki utang cukup tinggi akan sangat terbatas, karena perusahaan akan cenderung menyelesaikan kewajibannya terlebih dahulu dibanding melakukan manuver bisnis seperti ekspansi dan penetrasi pasar. Hal ini tentu akan menekan potensi pertumbuhan perusahaan tersebut.

Dibebani Beban Bunga

Salah satu konsekuensi dari utang modal adalah timbulnya beban bunga sebagai timbal balik atas modal yang diberikan. Beban bunga tersebut tentu akan menekan kinerja bottom line (laba bersih), dimana sebagian pendapatan yang seharusnya bisa dinikmati perusahaan sebagai laba harus tergerus untuk biaya non-operasional, yaitu beban bunga.

Risiko Gagal Bayar

Utang akan selalu dibayangi dengan risiko gagal bayar. Semakin besar utang, risiko gagal bayar akan semakin besar pula. Kita tidak pernah bisa sepenuhnya memprediksi bagaimana keadaan ekonomi global, nasional, atau perusahaan kedepan, apalagi ditengah kondisi ketidakpastian ekonomi yang masih dibayangi Covid-19. Hal ini tentu akan membuat risiko gagal bayar semakin meningkat pula.

Baca juga: FA11: Hubungan Antar Laporan Keuangan


Bright Side of Debt

Cukup ngomong dampak negatifnya, karena utang juga bisa mendorong potensi untuk perusahaan lho. Kadang utang menjadi pilihan terbaik untuk memanfaatkan peluang bisnis, tentu dengan tingkat yang terukur.

Utang Memaksimalkan Daya Dongkrak

Kadang utang menjadi alternatif terbaik untuk memaksimalkan daya dongrak perusahaan. Misal, ketika perusahaan akan melakukan ekspansi dengan membangun pabrik baru, mereka bisa saja menerbitkan obligasi untuk ekspansi tersebut daripada menggunakan kas perusahaan yang mungkin terbatas atau dinilai bisa digunakan untuk operasional yang lebih membutuhkan kas. Sehingga perusahaan bisa menjalankan ekspansinya tanpa mengganggu rasio kas

Tonton juga: Cara Mengukur Rasio Likuiditas Perusahaan

Biaya Pajak Bisa Diminimalisir

Seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa utang bisa menekan laba perusahaan karena adanya beban bunga. In the bright side, laba perusahaan yang menurun akan menekan kewajiban perusahaan untuk membayar beban pajak, karena dalam penghitungan pajak perusahaan, pengenaan penghasilan kena pajak terhitung setelah seluruh beban operasional dan non-operasional mengurangi pendapatan usaha.

 

Meski demikian penilaian utang perusahaan tidak bisa di bandingkan antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, karena tiap perusahaan memiliki bisnis model yang berbeda serta kondisi operasional dan keruangan yang tidak sama. Sehingga pertimbangan dari sisi utang bukan menjadi satu-satunya acuan dalam berinvestasi, perlu mempertimbangkan indikator lain untuk mengoptimalkan keputusan investasi yang dibuat.

 

Jadi gimana? Investasi di perusahaan banyak utang, yay or nay?

Mau tau strategi investasi dan trading yang tepat?

Klik disini untuk bergabung menjadi VIP User Emtrade


-AVV-

emtrade.id/disclaimer

Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelPemula

Cara Mengetahui Saham yang Lagi Aktif Diperjualbelikan

7 Nov 2022, 15:54 WIB
article
ArtikelPemula

Berapa Minimal Cuan dari Trading Saham?

2 Nov 2022, 15:48 WIB
article
ArtikelPemula

Mau Buka Rekening Saham? Begini Ciri-Ciri Sekuritas yang Bagus

26 Sep 2022, 15:54 WIB
sekuritas yang bagus
ArtikelPemula

Tips Memilih Saham dan Menyusun Portofolio untuk Pemula

23 Sep 2022, 16:06 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi