Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Akankah BUKA To The Moon?

10 Agu 2021, 09:55 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

 

Bukalapak resmi IPO di Indonesia dan besok (6/8) akan siap melantai di bursa dengan kode saham BUKA. Belakangan ini market kita juga sedang hype terkait teknologi jadi dengan IPO BUKA ini juga turut meramaikan trend teknologi.

 

IPO Bukalapak ini banyak diminati oleh pelaku pasar bahkan katanya sampai oversubscribe. Namun banyak yang bilang juga kalau BUKA valuasinya sudah mahal lalu katanya Bukalapak tidak seramai e-commerce lain dan jarang yang pakai aplikasi Bukalapak. Apakah itu benar? Apakah nanti ketika listing harganya bakal dibanting oleh bandar? Mari kita kita ulas disini

Seberapa Mahal kah BUKA?

Berbicara mengenai valuasi sebenarnya ada banyak cara yang bisa dipakai, metrik valuasi yang cocok untuk BUKA adalah menggunakan EV/Gross Profit. Sebelumnya kita ketahui dulu EV itu apa?

 

EV atau Enterprise Value merupakan suatu ukuran nilai total dari sebuah perusahaan. EV lebih detail dalam menunjukkan nilai sebenarnya dari suatu perusahaan dibandingkan dengan kapitalisasi pasar yang cenderung berfluktuasi mengikuti harga pasar.

 

Baca juga : Cara Hitung EV to Sales

 

Kemudian, banyak juga yang bilang kalau mau melakukan valuasi di e-commerce pakainya EV/GMV, lalu kenapa BUKA ini paling cocok menggunakan atau EV/Gross Profit bukannya EV/GMV ?

 

Kalau di Bukalapak GMV (Gross Merchandise Value) ini menghitung total transaksi kotor. Mengapa transaksi kotor? karena transaksi yang batal setelah checkout dari keranjang masih tetap terhitung di total transaksi.

 

Perlu kita ketahui, selisih antara GMV dengan transaksi yang benar-benar terjadi (sudah dibayar) di Indonesia bisa mencapai 30%. Maka dari itu penggunaan GMV kurang relevan di pakai untuk valuasi Bukalapak, karena secara pencatatan akutansi pun, BUKA menggunakan benchmark TPV dibandingkan dengan GMV

 

Dibandingkan berbicara mengenai top line, bagaimana kalau kita melihat penggunaan EV/Gross Profit yang juga dipakai oleh berbagai e-commerce di belahan dunia lain. Dengan menggunakan Gross Profit sudah memperhitungkan beban penjualan jadi lebih fair untuk menghitung valuasinya dan membandingkannya dengan kompetitor di sektor sejenis.  Bisa kita lihat dibawah ini ada perbandingan EV/Gross Profit Bukalapak dengan peersnya :  

 

Perbandingan EV/Gross Profit


 

Sebagai catatan Jumia adalah eCommerce asal Inggris dan MercadoLibre e-Commerce asal Argentina yang tentunya secara perekonomian kondisinya lebih baik dibanding Emerging market seperti Indonesia, Jadi kalau kita lihat perbandingannya Sea Ltd, dan Shopify nilai EV/Gross Profit Bukalapak masih jauh dibawahnya yang artinya dibanding peersnya Bukalapak masih cukup murah. Apalagi melihat potensi E-Commerce Indonesia yang sedang mulai merangkak naik, potensi pertumbuhan di Indonesia masih cukup besar dibandingkan dengan negara-negara di barat yang sudah lebih mature dibandingkan  Indonesia.

 

Disisi lain, pihak Bukalapak sendiri menggunakan EV/TPV untuk melakukan valuasi. TPV (Total Processing Value) merupakan total transaksi yang benar-benar terjadi. Melihat dari tabel dibawah ini nilai EV/TPV tahun 2020 lebih tendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Artinya secara valuasi EV/TPV Bukalapak sudah cukup murah.

Bukalapak Financial Highlight

 

  

Selain itu, melihat dari segmen bisnis Bukalapak yang berkontribusi ke TPV masih didominasi oleh segmen Marketplace, dan kalau kita lihat seperti grafik dibawah ini TPV dari segmen marketplace dan mitra  selama 3 tahun ke belakang selalu meningkat. Peningkatan ini berpotensi akan meningkatkan revenue,  karena revenue Bukalapak diperoleh dari komisi (take rate) dari setiap transaksi yang terjadi.

 

Bukalapak Total Processing Value (TPV)  (IDR Bn)


Source : Company ; Sucor Research

Kamu Tidak Pakai Bukalapak? Bukan Berarti Bukalapak tidak dipakai pelosok Indonesia lainnya.

Karena banyak yang bilang jarang memakai aplikasi bukalapak, sebenarnya nanti prospeknya bagaimana? Jika anda merasa jarang atau tidak pakai aplikasi Bukalapak, berarti anda bukanlah target market dari Bukalapak.

 

Hal ini tidak lepas dari target market Bukalapak yang fokus pada area non tier-I alias non kota besar. Pasalnya Bukalapak melihat peluang besar yang belum terlalu ‘dijamah’ oleh e-commerce lainnya. Terlebih bisnis Bukalapak e-warung yang jadi salah satu backbone pendapatan Bukalapak.

 



Dari tabel di atas bisa dilihat bahwa kontribusi TPV Bukalapak dari non-Tier 1 mencapai 70% pada 2020. Artinya memang target market Bukalapak adalah area non-Tier 1.

 

Non-Tier-1 berarti daerah diluar Tier-1, termasuk daerah di sekitar kota Tier-1, kota-kota kecil dan pedesaan. Area tier-1 Yaitu DKI Jakarta (tidak termasuk Kepulauan Seribu), Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, Kota Semarang dan Kabupaten Semarang, Kota Surabaya, dan Kota Medan.

 

Kita perlu mengetahui juga bahwa dalam bisnis perlu adanya target market yang sesuai. Memang persaingan bisnis juga masih tinggi, namun Bukalapak memiliki keunggulan di beberapa aspek salah satunya melalui Mitra Bukalapak yang membantu UMKM bertransformasi secara digital.

 

Program Mitra Bukalapak merupakan penggerak pertama di dunia pemain e-Warung O2O terbesar dengan total 39% pangsa pasar dan 6,9 juta Mitra terdaftar dan berkontribusi lebih dari 27% dari TPV (Total Processing Value) tahun 2020. Hal ini juga tercermin peningkatan pendapatan mencapai 300%  dengan 30% dari total pendapatan berasal dari Program Mitra.

ARB atau ARA Ketika Listing?

Selama proses IPO ini Bukalapak telah mencatatkan 95.000 investor yang bergabung dalam pembelian sahamnya, dan dari total ini terbagi menjadi 2 golongan yang sahamnya di lock dan yang tidak. Dari total 55 shareholder Bukalapak pun ada 33 yang secara resmi mengunci saham IPO Bukalapak selama 8 bulan, seperti EMTK, GIC. Sebagian investor lock up 90% dari kepemilkan saham mereka, sehingga kalau dihitung dari jumlah saham Bukalapak menjadi 95% yang mengunci sahamnya selama 8 bulan, dan sisanya 5% tidak dikunci.

 

Jadi, kemungkinan saham Bukalapak dibanting ini kecil mengingat likuiditasnya yang akan tetap terjaga selama 8 bulan ke depan. Selain itu, Bukalapak juga mencatatkan peminat dari retail yang luar biasa sampai sahamnya oversubscribe dan dihargai di rentang harga atas penawarannya yaitu Rp850/lembar saham.

 

Selain itu, berdasarkan informasi dari Emiten, pembeli saham BUKA adalah asing yang kebanyakan adalah Sovereign Wealth Fund dan Long Term Investor  (BPJS nya negara-negara barat serta fund yang spesialisasi di longer term investment). Untuk hedge fund sendiri, fund yang suka trading porsinya sangat kecil. Jadi keliatannya, banyak investor yang akan memegang saham BUKA. Ingat GoTo belum tentu IPO di akhir tahun, jadinya room BUKA bertumbuh dalam konteks share price masih cukup besar. Apalagi hari ini, PDB Indonesia bertumbuh 7,07% dan ekonomi digital akan terus bertumbuh walaupun PPKM nanti dilonggarkan.

Peminat Membludak, IPO Bukalapak Oversubscribe

IPO Bukalapak juga menggunakan penjatahan dengan sistem pooling. Tingginya minat membeli saham Bukalapak, dengan sistem membuat saham ini oversubscribe hingga 8,7x , dan secara keseluruhan (termasuk institusi) oversubscribe hingga 4,7x.

 

Menurut aturan OJK jika suatu saham oversubscribe lebih dari 2.5x hingga 10x maka alokasi untuk penjatahan terpusat ditingkatkan menjadi sebesar 5% (lima persen) dari jumlah saham yang ditawarkan. Sehingga jatah untuk investor yang mengikuti pooling lebih banyak dibanding penawaran awal yang hanya 2.5%.

Baca juga : Penawaran Umum IPO Bukalapak Dimulai Hari Ini

 

Berdasarkan valuasi tersebut, semestinya BUKA masih menarik untuk dipertimbangkan, karena IPO yang sangat bombastis ini akan  mengkerek market cap Indonesia. Di lain hal, PDB Indonesia yang bagus pada hari ini akan mendorong sentiment positif terhadap BUKA Ketika hari pertama perdagangan besok.

 

Emtrade.id/disclaimer

Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi