Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

BBRI Rights Issue Buat Akuisisi Pegadaian dan PNM, Tebus atau Tidak Ya?

2 Agu 2021, 10:34 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. bakal melakukan RUPSLB pada 22 Juli 2021 untuk meminta persetujuan aksi rights issue sebanyak 23,25 persen saham baru dari total modal disetornya saat ini. Kira-kira rights issue BBRI ini layak ditebus atau enggak ya?


Tujuan BBRI melakukan rights issue jumbo itu adalah untuk mengakuisisi PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM. Nantinya, pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas BBRI bakal mengambil hak saham baru dengan memberikan saham Pegadaian dan PNM. 


Skema ini dinamakan Inbreng, yakni pembelian saham dengan menyetorkan dalam bentuk selain tunai. Dalam beberapa transaksi akuisisi untuk membentuk holding BUMN, pemerintah memang sering menggunakan skema ini. 


Setelah mengakuisisi Pegadaian dan PNM, BBRI bakal menjadi holding BUMN ultra mikro, yakni BUMN yang fokus untuk pembiayaan segmen ultra mikro dan UMKM. 

Memang Bagaimana Kinerja Pegadaian dan PNM?


Sampai kinerja 2020, pertumbuhan pendapatan Pegadaian dan PNM mencatatkan pertumbuhan dua digit. Pegadaian mencatatkan pertumbuhan 24,27 persen menjadi Rp17,67 triliun, sedangkan PNM mencatatkan pertumbuhan 17,63 persen menjadi Rp3,91 triliun. 


Namun, dari segi laba bersih, Pegadaian dan PNM kompak mencatatkan penurunan. Pegadaian turun 34,93 persen menjadi Rp2,02 triliun dan PNM turun sebesar 63,35 persen menjadi Rp358,59 miliar. 


Penyebab Laba Pegadaian Turun


Penurunan laba bersih Pegadaian disebabkan oleh beban usaha yang meningkat menjadi Rp19,17 triliun. Komponen beban usaha Pegadaian antara lain, beban harga pokok penjualan emas, beban pegawai, beban bunga dan bagi hasil, beban administrasi, beban pemasaran, dan cadangan kerugian penurunan nilai. 


5 dari 6 pos beban usaha Pegadaian itu mencatatkan kenaikan. Beban harga pokok penjualan emas menjadi kontributor terbesar pertama senilai Rp6,83 triliun. 




Lalu, kenaikan beban dari cadangan kerugian penurunan nilai yang naik signifikan dari Rp154,37 miliar menjadi Rp2,12 triliun pada 2020. 


Penyebab Laba PNM Turun


Adapun, penurunan laba bersih PNM disebabkan oleh penurunan pendapatan dari pos selain pendapatan bunga  dan syariah. Beberapa pendapatan yang mengalami penurunan signifikan, yakni pendapatan keuntungan terealisasi dari penjualan efek menjadi Rp10,67 miliar dibandingkan dengan Rp97,63 miliar. 


Pendapatan jasa konsultasi manajemen turun menjaadi Rp190,45 juta dibandingkan dengan Rp9,2 miliar


Lalu, perseroan juga mencatatkan rugi selisih kurs senilai Rp145,36 juta dibandingkan dengan laba selisih kurs Rp327,5 juta pada 2019. 




Pendapatan lain-lain juga turun menjadi Rp183,11 miliar dibandingkan sebelumnya senilai Rp1 triliun. 


Pendapatan lain-lain ini berasal dari pendapatan hibah dari berbagai BUMN. Pendapatan hibah ini adalah pinjaman tanpa bunga lewat dana program kemitraan dari BUMN pembina. Nah, jumlah pendapatan hubah turun karena jumlah BUMN yang memberikann dana untuk program kemitraan turun drastis dari 26 perusahaan BUMN menjadi cuma 5 perusahaan. 


Ke-5 perusahaan itu antara lain, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Tabungan Negara, PLN, dan Perum LPPNPI. 


Jadi, Tebus Rights Issue BBRI atau Enggak Nih?


Untuk memutuskan menembus atau tidaknya rights issue BBRI, ada dua yang biasanya diperhatikan oleh investor. 


Pertama, tujuan dari rights issue. Ada beberapa tujuan emiten melakukan rights issue, yakni butuh modal untuk ekspansi maupun ada rencana strategis seperti akuisisi. Selain itu, ada juga untuk membayar utang. Pastinya, modal untuk ekspansi lebih disukai karena akan bikin kinerja tumbuh sehingga saham baru yang dikeluarkan berpotensi meningkatkan laba bersih, termasuk laba per saham. 


Kedua, harga teoritis ini biasanya menjadi perhatian para trader. Harga teoritis ini dihitung jika sudah ada harga pelaksanaan dan jadwal rights issue. Harga teoritis berlaku saat saham baru dibagikan ke pemegang saham yang mengambil haknya


Di luar dua itu, pemegang saham juga harus mengetahui seberapa besar dilusi yang diterima juga tidak diambil dengan prospek saham itu ke depannya pasca rights issue. 


Setelah baca artikel ini, kamu mau nebus rights issue BBRI atau enggak nih?


Yuk belajar saham lebih intensif dengan menjadi VIP user Emtrade. Dengan menjadi VIP user Emtrade, kamu bakal mendapatkan konten edukasi, konten analisis, research report, tanya jawab saham intensif, referensi saham, seminar rutin, bedah emiten, dan webinar setiap morning dan day briefing


Yuk gabung jadi VIP user Emtrade dengan klik di sini


-S-


Emtrade.id/disclaimer


Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi