Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-icon

Investart 6. Apa itu Right Issue?

19 Jun 2021, 18:51 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

RIGHT ISSUE

Right issue adalah sebuah aksi korporasi saat perusahaan menerbitkan saham baru dengan atau tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Penerbitan saham baru ini ditujukan untuk mendapatkan pendanaan tambahan. Pendanaan tambahan yang didapat dari hasil penjualan saham baru ini digunakan untuk berbagai keperluan, dari membayar utang hingga membiayai proyek tertentu.

Contoh perusahaan yang melakukan right issue untuk membayar utang adalah ENRG (PT Energi Mega Persada, TBK) yang melakukan right issue pada bulan Juli 2015 dengan menerbitkan saham baru senilai total Rp 4.4 T tanpa HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu). Pada umumnya investor tidak tertarik untuk menebus saham ini karena alasan penerbitannya adalah untuk membayar utang.

Contoh perusahaan yang menerbitkan 1.759.529.376 lembar saham baru dengan target dana segar yang diperoleh RP 2,74 triliun adalah ADHI. Dana tersebut dipakai untuk membiayai pengembangan angkutan kereta perkotaan (Light Rail Trainsit/LRT) Jabodabek dan area komersial (Transit Oriented Development) di sekitar area stasiun LRT. Pada umunya investor akan lebih tertarik untuk menebus saham ini karena dana right issue digunakan untuk sesuatu yang produktif yang nantinya akan menghasilkan keuntungan yang akan kembali kepada investor.

Namun pada kasus tertentu ada pula perusahaan yang melakukan right issue meskipun ia tidak membutuhkan pendanaan, yaitu untuk memenuhi ketentuan minimal saham yang berada di bursa. Contohnya, saham HMSP (PT Hanjaya Mandala Sampoerna, Tbk/Philip Morris) yang melakukan right issue pada Oktober 2015 untuk memenuhi ketentuan free float atau minimal saham yang beredar di bursa. Sedianya saham HMSP yang beredar di bursa hanya 1,82% dan sisanya dimiliki oleh perseroan. HMSP melakukan right issue untuk memenuhi syarat minimal saham yang beredar di publik, yaitu 7,5%. Investor memburu saham ini karena fundamentalnya sangat bagus dan mereka bahkan memburunya di pasar reguler.

Bagi investor yang sudah punya saham-saham tersebut mempunyai hak untuk menebusnya (boleh ditebus, boleh tidak). Bagaimana kita tahu mana saham yang layak ditebus dan mana yang tidak?

Yang layak ditebus adalah saham yang tujuan right issue-nya untuk ekspansi seperti ADHI atau HMSP seperti contoh kasus di atas, dimana ADHI dan HMSP mempunyai fundamental dan kinerja yang bagus. Waktu itu saya kebetulan mempunyai saham ADHI dan turut menebus saham ADHI karena prospek ADHI cenderung cemerlang dan banyak mendapat proyek pembangunan infrastruktur di tahun mendatang.

Apa dampak right issue bagi pergerakan harga saham?

Dampak right issue pada harga saham biasanya cenderung negatif karena efek dilusi harga. Apa artinya dilusi? Dilusi berarti persentase kepemilikan saham investor menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan total saham yang beredar jika investor tidak menebus saham tersebut. Hal itu nantinya akan berpengaruh pada perhitungan dan perolehan dividen.

Namun jika tujuan dari right issue tersebut positif, maka meski harga saham turun sesaat, nantinya akan menguat lagi seperti saham ADHI yang menguat tidak lama setelah right issue.


Apa harga teoretis itu?

Harga teoretis adalah harga yang terbentuk setelah perusahaan melakukan right issue, yang dihitung dari harga sebelum right issue dan disesuaikan dengan rasio penerbitan saham baru. Bagaimana cara menghitung harga teoretis saham?

Contoh kasus: ADHI menerbitkan saham sejumlah 1,8 miliar lembar. Target perolehan dana Rp 2,7 triliun. 51 persen diantaranya, atau senilai Rp 1,4 triliun, akan diperoleh dari pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas.

Harga right issue ADHI pada Rp 1.560 per saham. Right issue ADHI akan dilaksanakan dengan rincian cum date 30 September 2015. Rasio saham lama : saham baru = 1250 : 1221.

Harga penebusan: Rp 1.560 per lembar, pada tanggal cum (30 September 2015) harga closing-nya Rp 2.250.

Artinya nasabah yang memiliki saham ADHI sampai tanggal 30 September 2015 dan memiliki 1.250 lembar saham berhak untuk menebus saham baru (ADHI-R) sebanyak 1.221 lembar di harga Rp 1.560 per lembar.

Harga teoretis = (Rasio saham lama x harga saham closing saat cum date) + (rasio saham baru x harga pelaksanaan) / (Rasio saham lama + rasio saham baru)

= (1250*2250)+(1221*1560) / (1250+1221)

= 1909

Jadi harga teoretis ADHI adalah Rp 1909.

Harga saham ADHI bergerak turun sekitar level tersebut (Rp 1.920) dan kemudian bergerak naik seiring sentimen positif pada saham ADHI, yaitu banyaknya proyek infrastruktur pada saat tersebut.


emtrade.id/disclaimer

Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi