Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-icon

Psikologi Trading 1. Ellen May: Cinta (Saham) itu Buta?

27 Mei 2021, 13:52 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Ada yang mengatakan,

·       “Cinta itu buta”,

·       “Uang adalah sumber kejahatan”

·       “Saham adalah judi”

Benarkah? Sebenarnya, yang membutakan bukanlah cinta itu sendiri, melainkan attachment alias keterikatan. Yang menjadi sumber kejahatan bukanlah uang yang merupakan benda mati (objek), melainkan keterikatan akan uang. Yang buat bangkrut bukan saham (objek), melainkan keserakahan.

Attachment adalah sebuah keadaan di mana kita terikat pada seseorang / sesuatu, yang disebabkan oleh keyakinan yang salah, bahwa sesuatu / seseorang itu sangat penting dan membuat kita bahagia.

Attachment bukan hanya soal percintaan, namun ada banyak hal. Ada orang yang attached dengan makanan, terobsesi dengan kekuasaan, dan juga… uang! Attachment inilah yang membutakan banyak orang, dan membuat beberapa orang mengambil tindakan yang tidak rasional, bahkan nekat.

Seperti yang baru-baru ini ramai kita dengar, karena mungkin merasa mudah dalam make money di saham, banyak yang berusaha menambah faktor ungkit modal dengan meminjam uang dari pinjol (pinjaman online), uang titipan arisan, uang gadai rumah, uang sekolah, uang nikah, dan banyak lagi.

Kita mungkin bisa saja dengan mudah berkata,

“Bodoh sekali! Masa beli saham pakai uang panas? Bukannya sudah berkali-kali dengar bahwa berinvestasi mengandung risiko, jangan pakai uang panas. Bukannya sudah diingatkan untuk start small, mulai dari modal kecil dengan risiko yang bisa ditoleransi masing-masing pribadi.”

Iya… itu kan kalau kita dalam kondisi waras, alias tidak dikendalikan oleh keterikatan.

Tapi, jika kita dalam posisi attached, maka keterikatan itu membutakan akal sehat kita.

Akibatnya, bukan cuma kerugian, melainkan kemarahan, kekecewaan, depresi, bahkan ada pula yang hingga hubungan dengan pasangan retak, dan yang paling menyedihkan, ada yang sampai mengakhiri hidupnya sendiri.

Attachment membuat orang senang luar biasa, super excited dan euphoria, jika apa yang ia inginkan terpenuhi. Namun, di sisi lain, keterikatan bisa membuat kita menjadi sangat sedih, marah, gelisah, dan depresi. Tidak lagi bisa menikmati hidup, dan yang dipikirkan cuma itu saja. Yang lain tidak berarti lagi.

Kondisi attached ini mirip dengan situasi ketika kita sedang mendengarkan orkestra, ataupun group band. Bayangkan jika salah 1 alat musik mendominasi, misalnya drum, maka kita tidak bisa mendengar alat musik lainnya, dan kita akan kehilangan kemampuan untuk menikmati hidup kita.

 

Apakah Anda punya attachment akan suatu hal? Mungkin pada saham? Mungkin pada seseorang? Atau kekuasaan?

Apa sebenarnya yang membuat kita attached?

Beliefs & fear.

Beliefs adalah segala sesuatu yang kita yakini benar dalam hidup ini, yang menjadi dasar dari semua yang kita lakukan. Sebagai contoh, dalam budaya timur, terutama di Indonesia, jika ada seorang pria / wanita (terutama) mendekati usia 30 tahun dan masih single, pasti akan ditanya sana sini, “Kenapa belum menikah?”

Hal itu jugalah yang membuat generasi muda, yang baru saja lulus dari bangku kuliah, di usia 21-22, menjadi gelisah, karena usia mereka mendekati seperempat abad, merasa belum bisa menghasilkan sesuatu, dan membutuhkan pengakuan dari lingkungan sekitar. Belum lagi, kalau lihat Instagram, hidup orang lain nampak lebih keren. Si ini / si itu, baru usia 25,26… sudah punya rumah mewah, mobil mewah, perusahaan besar, dan berhasil.

Itu baru salah satu contoh. Belum belief yang lain buat seorang pria yang sudah berkeluarga, dituntut untuk membiayai keluarga, harus punya taraf hidup yang lebih baik, dan tuntutan-tuntutan lainnya.

Namun saat ini, yang seringkali menjadi pendorong, adalah sosial media, di mana rumput tetangga kelihatan jauhhh lebih hijau, terutama kalau ada yang pamer cuan ratusan jutan dan miliaran dalam waktu singkat.

 

FearApa yang kita takutkan saat ini, itu yang akan jadi fokus hidup kita. Sebagai contoh, jika ada seseorang diberitahu bahwa ia mendapat hukuman mati dalam beberapa hari lagi, maka pikiran, energi, dan tindakannya akan tertuju pada hal itu. Ia tidak bisa lagi memikirkan hal lain.

Dalam berinvestasi saham juga sama. Takut ketinggalan peluang, biasanya menjadi faktor utama bagi seorang pemula, untuk buru-buru menambah modal, entah dari mana sumbernya. Takut kalau rally di pasar saham usai.

Jadi… Apa yang bisa kita lakukan supaya lepas dari attachment / ketergantungan tersebut?

Attachment / ketergantungan terjadi, ketika kita sudah mengalami. Sudah tau rasanya, enaknya / sakitnya, jika kita melakukan ini, atau tidak melakukan itu.

Dalam konteks investasi saham, di tahun 2020, mungkin bagi investor yang masuk di 2019, mereka akan merasakan sakitnya saham rugi dalam pada Maret 2020. Namun, setelah itu, lebih banyak orang yang merasakan betapa nikmatnya, betapa mudahnya untung dari pasar saham, terutama periode September – Desember 2020.

Karena sudah tau rasanya itulah… maka banyak yang nambah nambah dan nambah modal tanpa pakai akal.

Jadi, cara paling mudah supaya tidak terjebak attachment adalah dengan:

1.      Mengatur ekspektasi di awal

Ketinggian ekspektasi adalah awal dari kekecewaan. Dalam investasi saham, dari awal selalu sadari, bahwa selain untung, kita juga bisa rugi. Kalau belum pernah rugi, pasti suatu saat akan rugi juga sesekali. Oleh karena itulah kita harus melakukan antisipasi dan pembatasan risiko.

 

2.      Membuat peraturan yang memagari tindakan kita di masa depan

Sebelum berinvestasi, informasikan pada pasangan, atau pada keluarga terdekat, bahwa Anda akan menggunakan sekian uang, dan minta untuk diingatkan supaya tidak lebih dari itu.

Investasikan sejumlah uang yang tidak melebihi keberanian & mental, meskipun itu uang dingin.

Buat rule, beli saham selalu dengan nominal yang sama, misalnya 10% an atau 5% an, jangan berubah-ubah supaya tidak emosional.

 

3.      Sengaja membuat situasi yang membatasi ruang gerak supaya tidak terjebak attachment

Amankan harta / uang / aset. Kunci! Jangan sampai semua bisa dicairkan. Apapun caranya. Bisa dibelikan investasi yang tidak likuid seperti property, emas, atau minta pasangan untuk memegang kendali / akses uang tersebut.

 

Bagaimana jika sudah terjebak dalam attachment dengan saham?

Saya pun pernah mengalaminya, di 2008 dulu. Bukan hanya saham, tapi juga attached dengan trading forex.

Apa yang saya lakukan waktu itu adalah dengan breaking the pattern.

Beresin dulu masalahnya, jual saham berfundamental kurang, dan move on…

Matikan laptop, lakukan hal yang Anda sukai. Tidur, makan, berolah raga, atau menghabiskan waktu dengan pasangan dan keluarga. Akan lebih baik jika menyempatkan diri untuk belajar dan baca-baca artikel di Emtrade.

Oh satu lagi… jangan kebanyakan liatin media sosial, apalagi liatin siapapun yang lagi pamer cuan, pamer gaya hidup mewah dan pamer-pamer lainnya…

Semoga investasi kita lebih baik, dan hidup kita lebih bahagia.

 

Semoga bermanfaat.

Salam profit,

Ellen May

 

emtrade.id/disclaimer

Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi