Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Seberapa Besar Dampak Konflik Timur Tengah yang Kian Memanas ke Pasar Saham?

16 Apr 2024, 10:54 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Pada Sabtu malam (13/04) Iran meluncurkan drone dan rudal bersenjata ke Israel. Hal ini dilakukan Iran setelah dua minggu lalu Konsulat Iran di Damaskus dihantam misil Israel. Serangan tersebut lantas membuat konflik Timur Tengah yang dimulai pada 7 Oktober 2023 lalu semakin memanas.  


Perlu diketahui, Iran merupakan produsen minyak mentah terbesar ke-7 di dunia berdasarkan data tahun 2023. Sebagai produsen utama Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Iran menghasilkan sekitar 3,6 juta barel per hari atau sekitar 3% dari produksi global. 


Adapun produksi minyak mentah Iran sebesar 9-10% dari total produksi OPEC, dan menurut laporan dari OPEC produksi minyak mentah Iran terus menunjukan adanya peningkatan. 


Sehingga ketegangan geopolitik memunculkan kekhawatiran pasokan minyak yang terganggu. Dikutip dari Reuters, minyak mentah Brent naik 0,5% menjadi US$90,56 per barel pada perdagangan hari ini (16/04). Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,5% menjadi US$85,84 per barel.


Senin kemarin (15/4), harga minyak ditutup lebih rendah karena dampak serangan Iran pekan lalu ternyata tak separah yang diperkirakan. Hal ini mengurangi kekhawatiran pasar soal harga minyak.


Namun, terdapat kemungkinan bahwa Israel akan membalas serangan Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memanggil kabinet perangnya untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari 24 jam kemarin. 


Sumber pemerintah Israel kepada Reuters mengatakan negaranya tengah mempertimbangkan bagaimana bereaksi terhadap serangan langsung Iran yang pertama.


Hal ini menimbulkan kekhawatiran pasar karena tindakan pembalasan bisa berdampak pada pasokan minyak, yang pada akhirnya kembali meningkatkan harganya pada hari ini. 

Gimana Dampaknya?

Harga Minyak Tinggi


Sekadar informasi, minyak Brent dan WTI sejak awal tahun sudah naik masing-masing 18% dan 20%. Kenaikan terjadi didorong oleh pembatasan OPEC+ dan risiko geopolitik di Rusia dan Timur Tengah. 


Harga minyak yang masih betah di level tinggi ini berpotensi menguntungkan emiten-emiten terkait seperti MEDC, ELSA, AKRA, dan ENRG karena profitabilitas bisa meningkat dari rata-rata harga jual (average selling price/ASP) yang meningkat. Selain itu, harga minyak yang naik ini bisa memberikan insentif bagi perusahaan produsen untuk menaikkan tingkat produksi.


Adapun emiten yang berpotensi dirugikan dari kenaikan harga minyak antara lain transportasi, manufaktur dan consumer goods. Kinerja emiten transportasi akan tertekan karena biaya operasional naik. Sementara itu, sektor manufaktur dan consumer goods akan mengalami kenaikan harga bahan bakar minyak. Hal ini terkait naiknya harga atau ongkos produksi.

Harga Batu Bara Ikut Tersengat

Sebagai komoditas substitusi minyak, sering kali pergerakan harga minyak dunia ikut memengaruhi harga batu bara. 


Ketika harga minyak naik, konsumen akan beralih menggunakan batu bara, sehingga lambat laun naiknya permintaan tersebut mendorong harga batu bara. Efeknya pada emiten batu bara akan mengalami kenaikan ASP dan mendorong profitabilitas.


Namun kenaikan harga batu bara ini bisa merugikan emiten-emiten di sektor semen karena membutuhkan batu bara sebagai bahan bakar. 


China sebagai negara pengonsumsi batu bara terbesar di dunia sedang dalam proses pemulihan ekonomi. Meskipun kondisi deflasi sudah membaik menjadi inflasi 0,7% pada Februari 2024, angkanya kembali turun menjadi 0,1% pada Maret 2024. 


Di sisi lain, Manufaktur di China mengalami ekspansi pada Maret 2024, pertama kali sejak September 2023. Angkanya meningkat dari 49,1 menjadi 50,8 di bulan Maret. Jika ekonomi China sepenuhnya pulih, maka permintaan batu bara bisa naik dan harganya berpotensi ikut naik.


Lebih lanjut, harga komoditas yang tinggi tetap perlu diwaspadai karena bisa saja memicu lonjakan inflasi. Jika inflasi naik, maka daya beli masyarakat bisa melemah. Hal ini berkaitan dengan kinerja emiten consumer goods, ritel, dan poultry.

Aset Safe Haven Menjadi Menarik

Meningkatnya risiko geopolitik biasanya mendorong daya tarik aset-aset safe haven seperti emas dan dolar AS. Sehingga investor cenderung memilih untuk keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia dan mengalihkan dananya ke instrumen tersebut.


Diketahui harga emas di pasar spot naik 1,8% menjadi US$2.385,39 per ons. Terlebih lagi, data terbaru yang dikumpulkan oleh World Gold Council menunjukkan bahwa bank sentral terus menambah kepemilikan emas mereka pada bulan Februari, menandai akumulasi bulan kesembilan berturut-turut. China mendominasi pembelian, disusul oleh India dan Kazakhstan.


Potensi harga emas yang masih tinggi dapat menguntungkan emiten metals seperti MDKA dan BRMS. Namun, jika diperhatikan sahamnya belum bergerak searah dengan harga emas itu sendiri selama beberapa waktu terakhir. Meski begitu, ada potensi kenaikan pendapatan di tahun 2024, mengingat sejak awal tahun harga emas sudah tumbuh lebih dari 10%.


Sumber: Algo Research


Aset safe haven lainnya seperti dolar AS juga menjadi salah satu yang dilirik investor di tengah ketegangan geopolitik. Alhasil, Ketika dolar AS menguat, nilai tukar rupiah dapat melemah. 


Apalagi, berdasarkan analisis dari CME FedWatch Tool, pelaku pasar mengekspektasikan bahwa The Fed baru akan mulai memangkas suku bunga pada kuartal ketiga tahun ini, lebih lama dibandingkan ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan pada Juni 2024.  Hal ini berdampak negatif pada nilai tukar rupiah yang saat ini berada di level Rp16.172 per dolar AS.


Dampaknya ke saham sudah dibahas sebelumnya di artikel berikut ini:


Demikian adalah ulasan terkait dampak konflik Timur Tengah terhadap pasar saham di Indonesia. Mau tahu strategi trading supaya bisa tetap profit optimal di segala kondisi market? Pelajari di Basic Trading Mastery, webinar trading saham dengan Ms Ellen May dengan materi yang mudah dipahami & diterapkan.

GRATIS! Pakai kode promo: BLOG

Klik di sini untuk informasi selengkapnya

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

BBRI Masih Nyaman di Level 4000-an, Apa yang Mesti Dilakukan Holder?

29 Apr 2024, 14:20 WIB
article
ArtikelInsight

Harga Nikel Cetak Rekor, Sahamnya Menyala

22 Apr 2024, 16:23 WIB
article
ArtikelInsight

Rupiah Ambruk ke Level Terendah Empat Tahun, Begini Korelasinya ke IHSG Secara Historis

17 Apr 2024, 11:51 WIB
article
ArtikelInsight

SIDO Siap Catat Perbaikan Kinerja, Simak Potensi Dividennya

5 Apr 2024, 14:26 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi