Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Tersandung Kasus Korupsi, Begini Kinerja TINS Secara Historis

1 Apr 2024, 15:57 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Belakangan ini PT Timah Tbk (TINS) menjadi sorotan publik usai tersandung skandal korupsi dalam tata niaga komoditas timah di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP). Korupsi yang berlangsung sejak 2015-2022 ini menyebabkan kerugian ekologis yang ditaksir mencapai angka Rp271 triliun.


Namun, kali ini kita tidak akan membahas lebih lanjut tentang kronologinya, melainkan mengulik kinerja TINS pada saat korupsi berlangsung. 


Source: Analyst Meeting, data diolah


Volume produksi dan volume penjualan timah secara keseluruhan mengalami pertumbuhan pada 2015-2019, sebelum akhirnya mulai anjlok pada 2020-2022. Adapun harga jual rata-rata (average selling price/ASP) naik pada periode waktu 2015-2022. Puncaknya, ASP menyentuh angka US$32.619 per metric ton pada 2021.


Mulai turunnya produksi dan penjualan timah TINS di tahun 2020-2022, kemungkinan disebabkan oleh banyaknya penambang ilegal yang berada di sekitar perusahaan. Apa hubungannya dengan skandal korupsi Rp271 triliun? 


Dikutip dari Bisnis, kasus korupsi TINS bermula saat sejumlah tersangka melakukan pertemuan dengan eks petinggi TINS untuk melakukan penambangan. Petinggi TINS tersebut yakni Riza Pahlevi yang merupakan eks Direktur TINS dan Emil Emindra selaku Direktur Keuangan TINS tahun 2017-2018 untuk mengakomodir pertambangan timah ilegal. 


Dugaannya, penambang ilegal inilah yang dijadikan alat untuk memperkaya individu tertentu, yang justru bebannya dilimpahkan kepada TINS. Alhasil timah yang TINS miliki menjadi berkurang dan kinerja menurun. 


Source: Laporan Keuangan Perusahaan, data diolah


Kinerjanya secara geografis sejalan dengan volume produksi dan volume penjualan, di mana penjualan ekspor dan dalam negeri naik ekspansif selama 2015-2019. Namun, kinerjanya mulai menurun pada 2020-2022.


Lalu bagaimana profitabilitasnya?


Source: Laporan Keuangan Perusahaan


Terlihat pada tahun 2015-2018 pendapatan dan laba bersih TINS konsisten mengalami kenaikan. Hal ini didorong oleh pertumbuhan volume produksi dan volume penjualan yang terjadi di periode yang sama, didukung oleh ASP yang menguntungkan.


Namun, di saat pendapatan lanjut naik impresif pada tahun 2019 74,73% YoY mencapai Rp19,30 triliun, TINS justru membukukan rugi bersih Rp611 miliar dari sebelumnya laba bersih Rp531 miliar pada 2018. Hal ini dikarenakan pembengkakan beban pokok penjualan 93,8% YoY yang membuat laba kotor turun 32,3% YoY.


Kemudian mulai tahun 2020 hingga 2022 pendapatan perusahaan turun karena volume produksi dan volume penjualan juga melemah. Di sisi lain, kerugian perlahan membaik menjadi laba bersih. Faktor pendorongnya adalah beban pokok penjualan dan beban usaha yang menurun. Di bawah garis operasi, ada kenaikan pada laba bersih dari operasi yang dilanjutkan.


Sebagai informasi tambahan, sepanjang tahun 2023 TINS membukukan pendapatan Rp8,39 triliun, turun 32,9%. Hal ini sejalan dengan kinerja secara bottom line yang menurun dari laba bersih Rp1,04 triliun menjadi rugi bersih Rp450 miliar.


Kerugian tahun 2023 didorong oleh:

  • Produksi bijih timah 14.855 ton (-74% YoY)

  • Produksi logam timah 15.340 ton (-77% YoY)

  • ASP US$26.583 per metrik ton (-15,53% YoY)

Source: Bisnis

Lalu, bagaimana prospek dan peluang saham TINS untuk trading kedepannya? Mau tahu jawabannya? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade


Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-


emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Laba Bersih ICBP Terkoreksi Efek Pembengkakan Beban Keuangan

2 Mei 2024, 17:20 WIB
article
ArtikelInsight

Performa Keuangan ASII di Kuartal I/2024 Menurun, Ini Penyebabnya

30 Apr 2024, 16:18 WIB
article
ArtikelInsight

BBRI Masih Nyaman di Level 4000-an, Apa yang Mesti Dilakukan Holder?

29 Apr 2024, 14:20 WIB
article
ArtikelInsight

Performa Keuangan UNVR Membaik, Gimana Efek Penarikan Es Krim?

26 Apr 2024, 15:09 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi