Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Ada Kabar Bisnis Kurir ASSA (Anteraja) Diakuisisi JNE, Untung atau Buntung?

15 Mar 2024, 17:01 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Dikutip dari Kontan, perusahaan logistik PT Tiki Jalur Nugraha atau lebih dikenal dengan JNE, dikabarkan tengah berencana untuk mengakuisisi salah satu entitas usaha kongsi milik TP. Rachmat dan Boy Thohir, yakni Anteraja. Hal ini bertujuan agar JNE bisa terus memperluas layanannya dalam menjajaki bisnis ekspedisi.


Kabar mengenai akuisisi belum secara resmi dikonfirmasi oleh Anteraja maupun JNE. Namun, pihak JNE juga tidak menampik kemungkinan untuk ekspansi secara anorganik, seperti yang diinformasikan melalui Bloomberg Technoz.


Anteraja (PT Tri Adi Bersama) sendiri merupakan anak usaha PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) dengan porsi kepemilikan saham mencapai 49,5%. Pada April 2022, Boy Thohir mulai memiliki saham di AnterAja setelah membeli 490 ribu saham baru senilai Rp70,5 miliar. Dengan begitu, Boy Thohir mengempit 10% saham Anteraja.


Baca juga: Daftar Sektor Saham Berpotensi Cuan di Bulan Ramadan

Dampak Akuisisi

Untuk menimbang seberapa diuntungkan ASSA atas kemungkinan akuisisi, kita perlu melihat dari bagaimana cara JNE akan melakukan akuisisi.


Perlu diketahui, Anteraja didirikan tahun 2018 silam oleh ASSA, Tokopedia, dan Time Prestige Limited. Namun, dalam struktur kepemilikannya, perusahaan ini menjadi anak usaha ASSA. Saat itu, ASSA menggenggam 55% saham, Tokopedia 25% saham, dan Time Prestige Limited 20% saham.


Jika JNE mengakuisisi saham Anteraja yang dimiliki oleh Tokopedia dan Time Prestige, maka tidak akan merubah posisi ASSA sebagai pemegang saham mayoritas. Skema ini akan menguntungkan ASSA karena Anteraja bisa melakukan kolaborasi dengan JNE sebagai salah satu bisnis kurir terbesar di Indonesia. 


Adapun kemungkinan skema lainnya adalah JNE menjadi pemilik mayoritas Anteraja dengan mengakuisisi seluruh saham yang dimiliki Tokopedia, Time Prestige Limited, dan Boy Thohir. Jika ini terjadi, efeknya akan terlihat dari sisi pendapatan ASSA yang berpotensi menyusut cukup dalam. 


Hal tersebut dikarenakan pendapatan Anteraja merupakan salah satu kontributor terbesar bagi ASSA. Di mana, bisnis jasa pengiriman menyumbang sebesar 32,9% terhadap pendapatan keseluruhan.


Sumber: Laporan Keuangan ASSA, 9M23


Rinciannya:

  • Jasa Pengiriman Rp1.139 miliar (32,9%).

  • Sewa Kendaraan Mobil Penumpang dan Autopool Rp1.142 miliar (33%).

  • Penjualan Kendaraan Bekas Rp639 miliar (18,5%).

  • Sewa Juru Mudi Rp240 miliar (6,9%).

  • Jasa Logistik Rp166 miliar (4,8%).

  • Jasa Lelang Rp133 miliar (3,8%).


Walau begitu, di skema kedua ini ASSA tetap berpotensi diuntungkan. Sebab hingga kuartal III/2023, Anteraja memiliki kontribusi sebanyak 39% terhadap beban pokok pendapatan ASSA. Beban operasional pun juga menjadi kontribusi terbesar mencapai 44,47% dari semua segmen bisnis ASSA.


Sehingga, apabila ASSA sudah tidak lagi menjadi pemilik mayoritas Anteraja, semua beban tersebut akan ditimpakan ke JNE dan membuat ASSA jauh lebih menguntungkan.


Berikutnya, skema akuisisi mungkin dapat dilakukan dengan cara membeli 100% kepemilikan Anteraja. Dampaknya, pendapatan ASSA akan turun drastis, namun laba bersih justru bisa naik. 


Alasannya karena kinerja laba bersih segmen Anteraja saat ini masih merugi. Dengan demikian, kenaikan laba bersih dapat terjadi akibat adanya cash dari penjualan dan penyesuaian rugi Anteraja yang menghilang.


Terakhir, JNE bisa masuk ke Anteraja melalui skema penerbitan saham baru seperti yang dilakukan oleh Boy Thohir pada tahun 2022. Dampak dari skema ini bergantung dari berapa banyak porsi saham baru yang diterbitkan untuk JNE. 


Jika ASSA tetap menjadi pemegang saham mayoritas, maka pada akhirnya akan sama seperti skema pertama. Sementara itu, jika JNE yang menjadi pemilik mayoritas, maka efeknya sama seperti skema kedua dan ketiga.


Baca juga: PPN Akan Naik Jadi 12%, Begini Efeknya ke Pasar Saham

Sekilas Kinerja Anteraja

Menyadur Kontan, di tahun 2019, pendapatan ASSA dari layanan pengiriman hanya Rp83,13 miliar, atau 0,3% dari total pendapatan mereka yang Rp2,32 triliun.


Lalu, di tahun 2020, pendapatan dari layanan pengiriman melonjak drastis sebesar 855,9% menjadi Rp794,7 miliar, yang berarti 26,16% dari seluruh pendapatan ASSA di tahun itu.


Kemudian kontribusinya naik lagi di tahun 2021. ASSA memperoleh pendapatan dari segmen ini sebesar Rp2,76 triliun, naik 247,9%. Ini sama dengan 54,43% dari total pendapatan ASSA saat itu yang Rp5,08 triliun.


Setahun kemudian, di tahun 2022, pendapatan dari layanan pengiriman ASSA naik 13,96% menjadi Rp 3,15 triliun. Perolehan tersebut menyumbang 53,6% terhadap total pendapatan.


Namun, kenaikan kontribusi tampaknya mulai mereda dan berputar arah. Sampai kuartal III/2023, layanan pengiriman menyumbang Rp1,14 triliun pada pendapatan ASSA. Angkanya turun 56,7% dari periode yang sama di tahun 2022 yang mencapai Rp2,63 triliun.


Dengan begitu, Anteraja menyumbang 32,9% dari total pendapatan perusahaan sebesar Rp3,46 triliun.


Baca juga: ASSA Bidik Pendapatan Rp4,8 Triliun di 2024, Apa Pendorongnya?


Mau tahu strategi trading saham ASSA? Apakah saat ini sahamnya cukup potensial? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

BBRI Masih Nyaman di Level 4000-an, Apa yang Mesti Dilakukan Holder?

29 Apr 2024, 14:20 WIB
article
ArtikelInsight

Harga Nikel Cetak Rekor, Sahamnya Menyala

22 Apr 2024, 16:23 WIB
article
ArtikelInsight

Rupiah Ambruk ke Level Terendah Empat Tahun, Begini Korelasinya ke IHSG Secara Historis

17 Apr 2024, 11:51 WIB
article
ArtikelInsight

Seberapa Besar Dampak Konflik Timur Tengah yang Kian Memanas ke Pasar Saham?

16 Apr 2024, 10:54 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi