Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Prospek Kinerja TPMA Usai Ekspansi Armada Melalui TLP

8 Mar 2024, 15:37 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Joint venture (JV) antara PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) dan Tsingshan, yaitu PT Trans Logistik Perkasa (TLP) tampaknya sudah membuahkan hasil. Menyadur investor.id, TLP berhasil mendatangkan 40 set kapal tunda dan tongkang bekas pada kuartal IV/2023. Kapal-kapal tersebut juga sudah siap beroperasi.


TPMA merupakan perusahaan yang bergerak dalam penyediaan jasa transportasi untuk komoditas seperti batu bara, nikel, kepingan kayu, dan perangkat rotary kilm spons.  Melalui ekspansi armada, TPMA bisa meningkatkan volume angkut mereka, termasuk untuk batu bara dan nikel, yang merupakan komoditas utama yang mereka angkut. 


Ini akan berkontribusi pada kelanjutan kinerja pendapatan yang positif pada kuartal sebelumnya, seiring dengan kemampuan mereka untuk melayani lebih banyak rute pengiriman atau klien.  


Per kuartal III/2023, volume angkut TPMA tumbuh solid 4,7% menjadi 12,7 juta ton. Pada periode ini, pendapatan naik 4,34% menjadi US$48 juta. Laba bersihnya juga naik 30% menjadi US$13 juta.


Meskipun nominalnya belum resmi dirilis, menurut manajemen, rata-rata volume angkut pada kuartal IV cenderung lebih besar dibandingkan kuartal III. 


BCA Sekuritas memperkirakan pendapatan utama tahun 2023 akan meningkat menjadi US$71.3 juta (+13.51%), didorong peningkatan volume ekspor batu bara 49,49 juta ton per Desember 2023. Di sisi lain, laba bersih tahun 2023 diprediksi tumbuh 24,3% mencapai US$18 juta.


Pertumbuhan kinerja keuangan yang positif memungkinkan TPMA untuk membagikan dividen yang lebih atraktif kepada pemegang saham. 


Dengan asumsi rasio pembayaran dividen total setidaknya 54.9%, maka total dividen sebesar Rp58,15 per saham. Setelah distribusi dividen interim sebesar Rp30 per saham pada akhir tahun lalu, sisa dividen yang akan dibagikan Rp28,15 per saham (dividen yield 4.23% berdasarkan harga penutupan 7 Maret 2024 Rp665).

Prospek Kinerja 2024

Harga batu bara belakangan ini naik cukup signifikan akibat sanksi baru AS terhadap Rusia. Dalam sebulan terakhir, harga batu bara naik 16,17% MoM ke level US$135,50 per ton.  Adapun harga nikel naik 14,51% ke level US$ US$17.768 per ton.  


Ketika harga komoditas ini tinggi, produsen biasanya lebih termotivasi untuk meningkatkan produksi, yang pada gilirannya turut mendorong volume angkut dan pendapatan bagi TPMA.


Kebutuhan batu bara di tahun 2024 diperkirakan akan meningkat, terutama karena permintaan yang lebih tinggi dari smelter dan pembangkit listrik. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), diperkirakan kebutuhan listrik di tahun 2024 akan naik sekitar 4,2%.


Pada tahun 2023, produksi batu bara di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 12,8% mencapai 775 juta ton. Angka ini bahkan lebih tinggi dari target yang ditetapkan sebesar 694,5 juta ton, mencapai 111,5% dari target dan merupakan rekor tertinggi dalam sejarah. Dari total produksi tersebut, Indonesia berhasil mengekspor sebanyak 518 juta ton, meningkat 11,4%.


Untuk tahun 2024, Kementerian ESDM menetapkan target produksi batu bara nasional sebesar 710 juta ton. Walaupun target ini lebih rendah dibandingkan realisasi pada tahun 2023, analis berpendapat bahwa hasil nyata produksi di tahun 2024 berpotensi melampaui target, mirip dengan apa yang terjadi di tahun 2023. 


Hal ini didasarkan pada rencana beberapa produsen batu bara besar yang masih menargetkan pertumbuhan produksi di tahun 2024.


Sejalan dengan itu, TPMA berencana untuk meningkatkan kembali jumlah armada kapal tunda dan tongkang dari sekitar 35 set di akhir tahun 2023 menjadi sekitar 41 set di tahun 2024. Sementara itu, TLP berambisi untuk menaikkan jumlah armadanya menjadi sekitar 53 set kapal dari 40 set sebelumnya. 


Dengan TPMA yang bisa mengakomodir melalui lebih banyak armada, pendapatan tahun 2024 TPMA diperkirakan akan melonjak sekitar 10% menjadi US$78 juta dengan laba bersih yang ikut naik 19,3% menjadi US$21 juta. 


Lantas, bagaimana potensi sahamnya untuk trading saat ini? Bagaimana strategi tradingnya? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

BBRI Masih Nyaman di Level 4000-an, Apa yang Mesti Dilakukan Holder?

29 Apr 2024, 14:20 WIB
article
ArtikelInsight

Harga Nikel Cetak Rekor, Sahamnya Menyala

22 Apr 2024, 16:23 WIB
article
ArtikelInsight

Rupiah Ambruk ke Level Terendah Empat Tahun, Begini Korelasinya ke IHSG Secara Historis

17 Apr 2024, 11:51 WIB
article
ArtikelInsight

Seberapa Besar Dampak Konflik Timur Tengah yang Kian Memanas ke Pasar Saham?

16 Apr 2024, 10:54 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi