Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Stimulus Baru China, Siap Tebarkan Obligasi Khusus Rp2.000 Triliun

17 Jan 2024, 16:17 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Pemerintah China tengah mempertimbangkan penerbitan stimulus baru berupa obligasi khusus “ultra long” senilai 1 triliun Yuan atau setara Rp2.192 triliun (asumsi kurs CNYIDR Rp2.191,52/Yuan).


Sebelumnya China juga sudah memberikan beberapa stimulus, terutama pada sektor properti dan kebijakan relaksasi suku bunga pinjaman satu tahun yang dilakukan oleh Bank Sentral China (PBoC).


Dikutip dari Bloomberg, rencana obral stimulus melalui obligasi khusus ini merupakan kasus yang jarang terjadi. Setidaknya, di tahun 2024 akan menjadi penawaran keempat dalam 26 tahun terakhir. Penjualan pertama terjadi pada tahun 1998 saat terjadi krisis keuangan dan yang kedua di 2009 akibat krisis finansial pada tahun 2008. Sementara yang terbaru pada tahun 2020 lalu akibat pandemi Covid-19 yang memukul perekonomian dalam negeri.


Namun menariknya, obligasi di tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena menggunakan utang khusus dengan desain tenor panjang. Artinya, dana yang diperoleh akan dilunasi selama beberapa dekade, sehingga mengurangi tekanan untuk melakukan pembayaran dalam jangka pendek.


Upaya peluncuran obligasi khusus yang dilakukan pemerintah China, yakni dalam langkah untuk menopang perekonomian terbesar kedua di dunia yang saat ini dipegang oleh negeri Tirai Bambu tersebut.


Mengingat perekonomian China saat ini masih terbilang lesu akibat tekanan deflasi, krisis properti yang berkelanjutan, dan lemahnya permintaan domestik, sehingga perlu adanya pemicu pelaku ekonomi dan investor untuk melakukan stimulus lebih lanjut.


Figure 1. Inflasi China


Source: Tradingeconomics


Dampak Secara Makro


Permasalahan deflasi yang tengah dihadapi China disebabkan oleh lemahnya tingkat permintaan domestik akibat konsumen yang sering menunda pembelian dengan harapan harga bisa lebih murah di masa yang akan datang.


Deflasi akan memicu tingkat suku bunga yang rendah. Oleh sebab itu, investor cenderung akan menarik modal mereka dari negara tersebut karena return yang didapat ternilai kecil, sehingga akan berdampak ke penurunan nilai mata uang.


Maka, stimulus diberikan agar jumlah uang beredar semakin berlimpah. Alhasil spending menjadi lebih deras, daya beli meningkat, dan harga produk bisa melambung hingga terjadi inflasi.


Dari adanya inflasi inilah yang akan membuat China menaikan suku bunga guna menarik para investor kembali. Aliran dana yang besar dari investor dapat membuat perekonomian China menjadi semakin kuat.


Apa Efeknya ke Indonesia dan Pasar Saham?


Jika penerbitan obligasi dari China benar terjadi, maka investor yang sebelumnya menanamkan modal di Indonesia akan ikut hengkang dan beralih ke China, karena wajar apabila investor memilih berinvestasi di suatu negara dengan potensi keuntungan yang lebih tinggi.


Jadi, dana yang akan mengalir ke China akan lebih besar. Agar uang dari asing tidak pindah ke China, maka Bank Indonesia (BI) potensinya bakal menahan atau menaikan suku bunga di level yang tinggi.


Di samping itu, pergerakan suku bunga dan pasar saham cenderung berbanding terbalik. Jika suku bunga tinggi, pasar saham pun cenderung lesu, karena investor cenderung mengalokasikan dana ke instrumen bank dengan risiko yang rendah dan harapan return yang lebih menguntungkan.


Efek dari suku bunga yang tinggi juga sangat sensitif bagi saham di sektor konstruksi dan properti, karena sebagian besar emiten di sektor tersebut memiliki nilai utang yang tinggi, sehingga menyebabkan beban bunga yang ditanggung emiten akan membengkak.


Selain itu, sektor komoditas juga akan terpengaruh karena nilai ekspor mereka yang tinggi. Terlebih, China merupakan salah satu negara dengan permintaan impor komoditas terbesar dari Indonesia, seperti nikel yang mencapai 85% ekspornya dikirim ke China.


Maka, penting bagi emiten komoditas dalam memanfaatkan momentum stimulus dari obligasi khusus ini, karena uang segar yang didapat China dapat meningkatkan permintaan komoditas dari Indonesia.


Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.



~RJ~



emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.

Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi