Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Daftar Saham MNC Group yang Terdaftar di BEI, Ada yang Menarik?

17 Jan 2024, 12:55 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Pada perdagangan Selasa kemarin (16/01), saham-saham dari MNC Group yang didalangi oleh Hary Tanoesoedibjo bergerak aktif di market. Beberapa di antaranya seperti: MSKY +35%, MNCN +9,04%, BMTR +4,58%, BABP +3,23%, dan BCAP +2%.


Apa sentimen pendorongnya? Mana saham yang masih menarik untuk di-watch? Untuk itu, mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan masing-masing emiten.

BHIT

PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT) yang dulu dikenal sebagai PT MNC Investama Tbk merupakan perusahaan induk dari beberapa anak perusahaan dan bergerak dalam bidang investasi. 


Hingga kuartal III/2023, pendapatan perseroan turun 13,29% YoY menjadi Rp12,20 triliun. Ini sejalan dengan laba bersih yang juga turun 74,62% YoY menjadi Rp252 miliar.


Harga sahamnya “tidur” di level gocap (50) sejak Desember 2023 setelah konsisten turun dari level puncak 631 di tahun 2012. Sementara itu, kepemilikan saham Hary Tanoesoedibjo sebesar 2,59% atau setara 2,16 miliar saham.

BMTR

PT Global Mediacom Tbk (BMTR) adalah grup media terkemuka di Asia Tenggara, mengelola TV Free-To-Air, TV Berlangganan, dan bisnis digital melalui PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dan PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV). 


Dilansir dari Bisnis, BMTR dan MNCN telah melakukan simulasi merger. Adapun tujuan merger untuk mempermudah publik untuk berinvestasi di emiten Grup MNC. Selain itu, perseroan akan fokus menggarap bisnis PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN). Namun, hingga saat ini, merger kedua perusahaan belum terealisasi.


Dari sisi keuangan, pendapatan BMTR menurun sebesar 16,59% menjadi hanya Rp8,09 triliun. Sehingga laba bersih juga terkoreksi 43,35% menjadi Rp492 miliar.


Harga saham BMTR naik 1,49% ke level 270 sejak awal tahun. Kepemilikan BHIT di BMTR sebesar 45,75% atau 7,48 miliar saham.

MNCN

MNCN adalah sebuah perusahaan media dengan bisnis utama pembuatan konten dan pengelolaan tiga stasiun televisi nasional yang bisa ditonton gratis (Free-To-Air) di Indonesia, yaitu RCTI, MNCTV, dan GlobalTV. MNCN juga memiliki 18 saluran yang mereka ciptakan dan produksi sendiri, yang ditayangkan di layanan TV berbayar.


Dari sisi keuangan, MNCN mencetak penurunan pendapatan 17,54% menjadi Rp6,04 triliun per kuartal III/2023. Hal ini sejalan dengan laba bersih yang turun 47,40% menjadi Rp871 miliar.


Secara year-to-date (ytd) harga saham MNCN tumbuh 4,66% ke level harga 404. Adapun kepemilikan BMTR di MNCN mencapai 52,67% atau 6,96 miliar saham.

MSKY

PT MNC SkyVision Tbk (MSKY) adalah perusahaan yang berfokus pada layanan TV berbayar, Pada tahun 2017, perusahaan ini berubah menjadi MNC Vision, menyatukan Indovision dan TopTV menjadi satu merek yang lebih besar. Selain itu, perubahan ini juga didorong oleh peningkatan kerja sama bisnis dengan MNC Play dan MNC Now.


Hingga kuartal III/2023, pendapatan MSKY turun 29,03% YoY menjadi Rp611 miliar. Ini menghasilkan rugi bersih yang kian membengkak 89,24% menjadi -Rp299 miliar.


Sejak awal tahun, harga sahamnya melesat 59,60% ke level saat ini di 159. Kepemilikan saham IPTV mencapai 91,90% atau sekitar 9,16 miliar saham.

MSIN

PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) adalah perusahaan yang aktif di industri media. Melalui anak usahanya, mereka fokus pada bidang seperti rumah produksi, periklanan, dan talent management.


Pendapatan perseroan mengalami penurunan sebesar 18,81% YoY menjadi Rp2,36 triliun. Dengan demikian, laba bersih ikut tergerus 34,97% YoY menjadi Rp251 miliar.


Secara ytd, harga saham MSIN terkoreksi 1,33% ke level harga saat ini di 2960. Kepemilikan MNCN sebesar 72,78% atau setara 8,83 miliar saham.

IPTV

IPTV merupakan induk dari beberapa perusahaan anak yang beroperasi di sektor TV berbayar, internet berkecepatan tinggi/internet protocol television (IPTV), dan layanan siaran digital atau streaming. Mereka memiliki empat perusahaan anak secara langsung, yaitu MNC Vision, MNC Play, MNC Now, dan NV.

Hingga kuartal III/2023, pendapatan perseroan turun 14,30% menjadi Rp1,80 triliun. Hal ini membuat IPTV berbalik dari laba bersih Rp40 miliar menjadi rugi bersih Rp155 miliar.


Sama seperti BHIT, saham IPTV masuk ke dalam “gang gocap” sejak Maret 2023 setelah sebelumnya terus mengalami penurunan dari puncak 555 pada September 2019. Adapun kepemilikan BMTR di IPTV sebesar 60,67% atau 25,60 miliar saham.

BCAP

PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP) adalah perusahaan yang menyediakan berbagai layanan termasuk konsultasi bisnis, manajemen, dan administrasi, kecuali di bidang hukum dan pajak. Perusahaan ini juga menawarkan layanan di bidang investasi, perdagangan umum, serta layanan untuk sektor industri seperti transportasi, pertanian, dan pengembangan properti.


Sampai kuartal III/2023, pendapatan BCAP naik moderat 5,58% YoY mencapai Rp2,19 triliun. Sehingga laba bersih ikut terdorong 11,76% YoY menjadi Rp76 miliar.


Saham BCAP naik 4% secara ytd ke posisi harga saat ini di 52.Kepemilikan BHIT sebesar 49,82% atau sekitar 21,22 miliar saham.

BABP

Seperti namanya, PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) bergerak di industri perbankan. Di mana, awalnya perusahaan didirikan dengan nama PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk. 


Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan BABP tumbuh 17,59% YoY mencapai Rp976 miliar per kuartal III/2023. Namun, laba bersih stagnan sebesar Rp58 miliar.


Harga saham BABP tumbuh 5% sejak awal tahun ke level 63. Adapun kepemilikan BCAP sebesar 52,36% atau sekitar 17,68 miliar.

KPIG

PT MNC Land Tbk (KPIG) bergerak dalam bidang penyewaan ruang perkantoran dan jasa manajemen proyek. Selain itu, mereka juga berinvestasi di perusahaan anak dan afiliasi untuk mengembangkan proyek gedung perkantoran, seperti MNC Financial Center dan MNC Media Tower yang terletak di Jakarta.


Pendapatan KPIG naik 39,78% YoY menjadi Rp1,04 triliun per kuartal III/2023. Di sisi lain, laba bersih perseroan juga tumbuh 284% menjadi Rp288 miliar.


Sejak awal tahun, harga saham KPIG cenderung stagnan di level 62. Kepemilikan BHIT sebesar 14,11% atau setara 13,76 miliar saham.

IATA

PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), yang didirikan pada tahun 1968 sebagai PT Indonesia Transport & Infrastructure, awalnya berfokus pada bisnis transportasi udara. Sekarang, perusahaan ini berfokus pada investasi dan menjadi perusahaan induk, terutama di sektor pertambangan batu bara.


Hingga kuartal III/2023, IATA mencatatkan penurunan pendapatan 4,29% YoY menjadi Rp2,00 triliun. Dengan begitu, laba bersih perusahaan juga ikut tertekan 49,04% YoY menjadi Rp346 miliar.


IATA menjadi saham MNC Group selanjutnya yang mencapai harga terendah 50. Sebenarnya IATA sudah beberapa kali “tidur” di level gocap, namun sempat melonjak tinggi sebelum akhirnya kembali ke 50. Sebagai informasi, kepemilikan BHIT mencapai 44,09% atau 11,12 miliar saham.


Sumber:

- Data keuangan: Laporan keuangan perusahaan

- Harga dan kepemilikan saham: RTI Business

Kesimpulan

Secara keseluruhan, kinerja fundamental MNC Group tampak kurang solid. Adapun ukuran sahamnya cenderung kecil, bisa dibilang hanya MNCN yang masuk ke dalam kategori second liner. Sehingga sahamnya lebih cocok untuk trading.


Beberapa saham tidak aktif di market karena memang secara teknikal mayoritas berada di bawah harga 100, bahkan ada beberapa yang sudah atau menuju level 50. Saham-saham yang di bawah 100 dengan likuiditas kecil biasanya akan dihindari oleh trader karena risiko volatilitas tinggi, sehingga demand juga kecil. Artinya, saham MNC Group tergolong high risk.


Pertanyaannya, bagaimana strategi trading agar profit maksimal dengan risiko minimal? Mana saham MNC Group yang saat ini cukup potensial?

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Pemilu di Depan Mata, Ini Deretan Emiten yang Terafiliasi Masing-Masing Paslon

13 Feb 2024, 12:11 WIB
article
ArtikelInsight

GGRM Berpotensi Bagi Dividen Jumbo, Gimana Prospek Kinerja Keuangannya?

20 Okt 2023, 15:24 WIB
article
ArtikelInsight

Kenapa Saham GOTO All Time Low di Tengah Penutupan TikTok Shop?

18 Okt 2023, 16:01 WIB
article
ArtikelInsight

Kinerja INDF Diwarnai Banyak Sentimen, Bakal Tumbuh atau Turun di 2023?

18 Okt 2023, 09:51 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi