Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Suku Bunga dan Hubungannya dengan Sektor Batu Bara, Jadi Katalis Tahun Ini?

15 Jan 2024, 14:44 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Seperti yang kita tahu, tahun 2022 lalu menjadi masa kejayaan bagi sektor batu bara. Dikutip dari CNBC Indonesia, sepanjang tahun ini harga sahamnya melonjak mencapai 156,7%. Sementara itu, pada 2023 justru berbalik arah dengan penurunan mencapai 63,9%. 


Nah, memasuki awal tahun 2024, sektor ini diperkirakan akan mendapatkan katalis positif dari potensi kenaikan harga batu bara, efek pemangkasan suku bunga. Kita bisa memprediksi arah kebijakan Bank Indonesia (BI) dari proyeksi kebijakan suku bunga oleh The Fed. Sebab, biasanya BI akan mengikuti langkah The Fed guna menyesuaikan suku bunga Indonesia dengan AS.


Sebagai informasi, bank sentral Amerika Serikat (AS), yaitu The Fed, menahan suku bunga AS ketiga kalinya di level 5,00-5,25% pada pertemuan bulan Desember, sesuai dengan ekspektasi pasar.


Sinyal pemangkasan suku bunga pun sudah terlihat. Anggota The Fed menyarankan pemangkasan sebanyak tiga kali dengan potensi penurunan menjadi 4,6% dari proyeksi sebelumnya hanya 5,1% atau dua kali penurunan. Sedangkan untuk tahun 2025, suku bunga AS diperkirakan turun lagi menjadi 3,6%.


Itu berarti, ke depan ada kemungkinan BI untuk turut menurunkan suku bunga. Analis memperkirakan suku bunga BI akan mulai dipangkas pada semester II/2024.


Sektor batu bara biasanya akan diuntungkan dari kondisi ini. Sebab, banyak perusahaan batu bara yang memiliki utang cukup besar untuk operasional atau ekspansi.  Dengan bunga yang lebih rendah,  berarti mereka tidak perlu membayar banyak untuk beban bunganya. Sehingga margin keuntungan diharapkan bisa meningkat.


Selain itu, suku bunga yang lebih rendah sering kali mendorong aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Hal ini berpotensi meningkatkan permintaan industri yang pada akhirnya menguntungkan sektor batu bara.


Aktivitas ekonomi, terutama dalam sektor industri, membutuhkan energi dalam jumlah besar. Batu bara adalah sumber energi utama untuk pembangkit listrik di banyak negara, termasuk Indonesia. Jadi, ketika industri-industri tumbuh dan produksi meningkat, kebutuhan akan listrik juga ikut naik. Hal ini meningkatkan permintaan terhadap batu bara sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik.


Kebijakan suku bunga BI yang selaras dengan The Fed juga dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Stabilitas atau penguatan rupiah dapat mengurangi biaya impor (jika ada) dan risiko valuta asing bagi perusahaan batu bara yang melakukan transaksi dalam dolar AS.


Tidak hanya sentimen suku bunga, emiten batu bara juga berpotensi diuntungkan oleh China yang kembali menerapkan tarif bea masuk batu bara.


Baca juga: China Kembali Terapkan Tarif Bea Masuk Batu Bara, Indonesia Berpotensi Diuntungkan


Target produksi batu bara 2024 menurut sumber Bisnis dan MNCS:

  • PT Indika Energy Tbk (INDY): Melalui anak perusahaannya Kideco, INDY menargetkan produksi batu bara 31 juta ton. Saat ini mereka sedang eksplorasi dua blok tambang dengan total area 33,887 Ha. Eksplorasi ini bisa menjadi bantalan bagi Kideco untuk kembali bangkit setelah produksi mereka turun di 9M23, yaitu hanya 22,3 ton batu bara, turun 14,6%YoY.

  • PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO): Perusahaan memproyeksikan produksi batu bara thermal akan tumbuh flat untuk tahun 2024. Hal ini untuk memastikan cadangan batu bara dan untuk memenuhi suplai pembangkit tenaga listrik. Namun, untuk produksi batu bara metalurgi tahun ini, ADRO menargetkan sebesar 4,3 juta ton.

  • PT United Tractors Tbk (UNTR): UNTR memproyeksi penjualan batu bara dapat mencapai 12 juta ton pada tahun ini. Adapun penjualan batu bara sepanjang 2023 mencapai 11 juta ton, meski angkanya belum final.

  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Produksi batu bara dari KPC dan Arutmin sekitar 80 juta ton, namun angkanya belum final. Perkiraan ini lebih tinggi dari estimasi produksi pada tahun penuh 2023 dan lebih tinggi pula dari tahun penuh 2022. Sebagai informasi, pada tahun 2023 BUMI menargetkan volume produksi batu bara mencapai 75 juta ton hingga 80 juta ton. Sementara itu, pada 2022 BUMI memproduksi batu bara sebesar 75 juta ton.


Pertanyaannya, saham batu bara apa yang saat ini menarik? Bagaimana strategi tradingnya? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

BBRI Masih Nyaman di Level 4000-an, Apa yang Mesti Dilakukan Holder?

29 Apr 2024, 14:20 WIB
article
ArtikelInsight

Harga Nikel Cetak Rekor, Sahamnya Menyala

22 Apr 2024, 16:23 WIB
article
ArtikelInsight

Rupiah Ambruk ke Level Terendah Empat Tahun, Begini Korelasinya ke IHSG Secara Historis

17 Apr 2024, 11:51 WIB
article
ArtikelInsight

Seberapa Besar Dampak Konflik Timur Tengah yang Kian Memanas ke Pasar Saham?

16 Apr 2024, 10:54 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi