Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

TikTok Gandeng Tokopedia, Bakal Jadi E-Commerce Terbesar di Indonesia?

27 Nov 2023, 13:25 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

TikTok tengah menjajaki cara untuk mengaktifkan kembali fungsi TikTok Shop di Indonesia melalui investasi di Tokopedia. Seperti yang diketahui, sebelumnya operasional TikTok Shop dihentikan karena belum mengantongkan izin dagang sebagai e-commerce. Melainkan hanya memiliki izin sebagai Kantor Perusahaan Perdagangan Asing (KP3A). 


Menurut kabar terbaru, induk TikTok, ByteDance, sudah sepakat untuk bergabung dengan Tokopedia. Detail kerja sama dan nilai investasi belum diungkap. Rencanya pengumuman resmi baru akan dijadwalkan pada pekan depan.


Dalam hal ini, kemungkinannya adalah TikTok dan Tokopedia akan membentuk joint venture (JV) dan bersama-sama menciptakan platform e-commerce baru. Kedua kemungkinan ini bertujuan untuk mengatasi masalah regulasi TikTok Shop dan memulai kembali bisnis e-commerce-nya di Indonesia. 


Adapun Mendag Zulkifli Hasan mengonfirmasi izin kerja sama antara keduanya asalkan mematuhi regulasi yang berlaku.


Baca juga: Motor Listrik Kolaborasi TOBA dan GOTO Didukung Insentif Pemerintah

Prospek Kerjasama TikTok dan Tokopedia

Keputusan TikTok untuk bermitra dengan Tokopedia adalah langkah yang masuk akal bagi TikTok Shop, mengingat posisi Tokopedia sebagai mitra lokal yang kemungkinan besar akan mendapatkan dukungan dan persetujuan dari pemerintah.


Sementara itu, Tokopedia yang tidak memiliki keahlian dalam live shopping dapat memanfaatkan merek dan infrastruktur TikTok Shop, dengan sinergi dari pihak Tokopedia untuk mengintegrasikan penawaran pembayaran dan pinjaman mereka ke dalam TikTok Shop. 


Asal tahu saja, sebelum larangan, TikTok Shop tidak memiliki infrastruktur pembayaran dan keuangan yang kuat (misalnya, akun escrow) dan hanya mengandalkan dompet digital pihak ketiga tanpa eksklusivitas.


Di samping itu, Tokopedia juga berpotensi mendapatkan eksposur di kategori-kategori yang secara historis belum memiliki posisi yang kuat, seperti fashion & kecantikan, produk perawatan pribadi, yang sangat cocok untuk format live shopping, berbeda dengan kategori-kategori utama Tokopedia seperti FMCG, rumah & gaya hidup, ibu & bayi, dan sebagainya.


Namun, tantangannya adalah sifat konsumen dan fokus produk yang berbeda. Di mana pelanggan Tokopedia cenderung sudah tahu apa yang ingin mereka beli, sedangkan pelanggan TikTok Shop lebih tertarik pada konten dan mencari pengalaman.


Baca juga: 3 Rasio Keuangan Saham Teknologi: GMV, TPV, dan GTV

Dampak Terhadap Tokopedia

Menurut IndoPremier, dampak kanibalisasi terhadap Tokopedia terbatas. Berdasarkan channel-check dengan agregator merek (yaitu kategori yang terdiversifikasi, tetapi sebagian besar terkait fashion) menunjukkan penjualan online mereka tidak dapat pulih (turun hingga 70-80% vs. sebelum larangan TikTok Shop) bahkan setelah migrasi ke dalam Shopee Live, yang menunjukkan bahwa total tersedia pasar (total addressable market/TAM) telah menyusut setelah pelarangan TikTok Shop pada 23 Oktober.


Sekadar informasi, TAM merupakan indikator yang menggambarkan ukuran pasar potensial yang tersedia untuk sebuah bisnis.


Di samping itu, terciptanya JV kemungkinan besar akan cukup menguntungkan. Sebab membuat dua entitas terpisah berarti Tokopedia tidak akan mengalami cash burn yang signifikan agar TikTok Shop dapat merebut kembali pangsa pasar yang hilang dari Shopee Live dan Lazada Live. 


Namun, dalam skenario tertentu tersebut, Tokopedia mungkin tidak memiliki kendali penuh atas keputusan strategis dan kemungkinan besar memiliki saham minoritas dalam JV.


Kesimpulannya, JV dengan TikTok memungkinkan Tokopedia untuk memanfaatkan

live shopping TikTok Shop, yang jika kita bandingkan dengan China diperkirakan akan menyumbang sekitar 20-25% dari total GMV e-commerce.


Dan sebelum larangan, TikTok Shop sendiri sedang dalam proses menggandakan gross merchandise value (GMV) di Indonesia menjadi US$5 miliar dari US$2,5 miliar pada 2020. 


Di sisi lain, pada kuartal III/2023 Shopee melaporkan sekitar 10% dari pesanan bruto berasal dari live shopping meskipun dengan average order value (AOV) yang lebih rendah, yaitu US$5, sebagaimana. Artinya, live shopping dapat menyumbang sekitar 5-8% dari total GMV e-commerce di Indonesia.


Namun, kemungkinan masuknya Meituan ke pasar Asia Tenggara dengan mengakuisisi Food Panda dari Delivery Hero menjadi salah satu risiko terdekat yang signifikan bagi layanan ride-hailing GoTo.


Baca juga: Rajin Efisiensi, Rugi GOTO Terus Menurun


Lalu, bagaimana strategi trading saham GOTO? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

ACES: Diakumulasi Investor Kakap Hingga SSSG Kembali Tumbuh Positif

20 Feb 2024, 16:33 WIB
article
ArtikelInsight

Keluar dari MSCI, Indeks FTSE Siap Tampung CUAN

19 Feb 2024, 14:10 WIB
article
ArtikelInsight

Unboxing Saham Terkait Program Prabowo-Gibran, Seberapa Diuntungkan?

16 Feb 2024, 16:33 WIB
article
ArtikelInsight

Dukung Prabowo-Gibran, Intip Kinerja Emiten Thohir Bersaudara

15 Feb 2024, 16:19 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi