Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Sektor Properti Dapat Banyak Katalis Positif, Simak Kinerja Keuangannya Per Kuartal III/2023

23 Nov 2023, 11:20 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Di tengah kondisi suku bunga yang kembali dinaikkan BI ke 6%, sektor properti masih punya beberapa katalis positif. Terbaru, ada kabar kenaikan upah minimum provinsi (UMP). Per 21 November 2023, DKI Jakarta sudah mengumumkan kenaikan UMP sebesar 3,6% menjadi Rp5.067.381 untuk tahun 2024. 


Kenaikan upah pekerja akan meningkatkan daya beli masyarakat. Sehingga ada potensi sektor properti diuntungkan karena permintaan terhadap produknya bisa naik.


Kemudian ada pula sentimen bebas PPN untuk pembelian rumah yang diperluas hingga harga rumah Rp5 miliar. Ini pada akhirnya dapat meningkatkan permintaan properti, yang mana dampaknya paling besar mungkin akan dirasakan oleh SMRA. 


Per September 2023, 83% segmen rumah SMRA berasal dari rumah dengan rentang harga di bawah Rp1 miliar - Rp5 miliar. Adapun CTRA dengan komposisi produk dengan harga per unit di bawah Rp2 miliar yang cukup besar.


Di sisi lain BSDE terkenal dengan land bank-nya yang besar mencapai sekitar 3,85 hektare. Sedangkan PWON ini memiliki area bersih yang dapat disewa (NLA) yang besar sekitar 780 ribu meter persegi NLA untuk ritel mall, 159 ribu meter persegi untuk sewa kantor, dan 2,3 ribu kamar hotel.


Tidak hanya itu, pada bulan Agustus pemerintah menetapkan kebijakan yang akan mempermudah WNA membeli hunian di Indonesia dengan menunjukkan paspor saja. 


Hal ini berpotensi menguntungkan emiten properti, terutama SMRA dan PWON yang memiliki portofolio proyek di Jabodetabek. Adapun CTRA karena memiliki proyek di area kunjungan WNA seperti Bali dan Batam.


Meskipun ada banyak katalis positif, secara umum dampaknya tidak akan langsung terasa. Hasilnya membutuhkan waktu selama beberapa bulan sampai tercermin pada laporan keuangan emiten.


Masih dalam musim rilis laporan keuangan kuartal 3, kira-kira properti big caps mana yang performanya paling solid? 

BSDE

Hingga kuartal III/2023, BSDE membukukan kenaikan pendapatan 2,3% YoY menjadi Rp7,30 triliun. Bahkan, laba bersihnya melonjak signifikan 92,6% YoY menjadi Rp1,76 triliun. Hal ini ditopang oleh efisiensi beban lain-lain yang berhasil dipangkas 40,25% YoY.


Sebagian besar pendapatan BSDE dikontribusi oleh penjualan perumahan yang tumbuh 11% YoY mencapai sebesar Rp2,98 triliun, karena musim serah terima. 


Pendapatan terbesar kedua berasal dari proyek komersial (yaitu apartemen dan ruko) senilai yang tumbuh 46% YoY mencapai Rp2,26 triliun. Penjualan ruko tumbuh 42% YoY menjadi Rp1,40 triliun, sementara penjualan apartemen tumbuh 55% YoY menjadi Rp856 miliar.


BSDE mencatat marketing sales sebesar Rp6,75 triliun, naik tipis 0,5% YoY dan setara dengan 77% dari target FY23 sebesar Rp8,80 triliun.

PWON

Pada periode yang sama PWON mencatatkan kenaikan pendapatan 1,6% YoY menjadi Rp4,56 triliun. Sejalan dengan BSDE, laba bersih PWON juga naik lebih signifikan 24,8% YoY menjadi Rp1,48 triliun. Hal ini didukung oleh keuntungan nilai tukar sebesar Rp54 miliar (vs. kerugian nilai tukar sebesar Rp261 miliar pada 9M22).


Campuran pendapatan semakin condong ke arah pendapatan berulang karena tumbuh sebesar 22,7% YoY menjadi Rp3,42 triliun, sementara penjualan properti turun sebesar -32,7% YoY menjadi Rp1,15 triliun.


Sewa dari mal ritel dan perkantoran meningkat 17,8% YoY menjadi Rp2,61 triliun, karena tingkat okupansi mal PWON rata-rata sebesar 94% (dari total area yang bisa disewakan sebesar 784 ribu meter persegi) pada akhir September 2023.


Pendapatan dari hotel dan apartemen berlayanan melonjak +41,2 % YoY menjadi Rp814 miliar. Penjualan rumah tapak dan kavling tanah mengalami kontraksi -29.9% YoY menjadi Rp253 miliar, dengan segmen perumahan bertingkat tinggi juga turun -6.9% YoY menjadi Rp717 miliar.


Berbeda nasib dengan BSDE, marketing sales PWON turun 12,7% YoY menjadi Rp1,02 triliun dan merupakan 64% dari panduan FY23 perusahaan sebesar Rp1,60 triliun.

SMRA

SMRA membukukan pertumbuhan pendapatan 43% mencapai Rp5,08 triliun per kuartal III/2023. Laba bersih perseroan naik kencang 111% YoY menjadi Rp633 miliar. 


Pendapatan SMRA naik secara kuartalan didukung proyek di Bogor yakni Mahogany Residence & Agathis Residence. Laba bersih SMRA naik berkat pengakuan pendapatan yang kuat di mana SMRA membukukan pendapatan non-recurring sebesar Rp1,4 triliun (+57% YoY/ +72% QoQ).


Namun, marketing sales-nya turun 12% YoY menjadi Rp3,1 triliun, 61% dari target tahun ini. Setelah penyesuaian JV, angkanya  mencapai Rp2,5 triliun, setara dengan 57% dari target 2023. Oleh karena itu, masih berada di bawah target setahun penuh. 

CTRA

CTRA menjadi satu-satunya yang membukukan penurunan pada pendapatannya sebesar 8,81% menjadi Rp6,58 triliun. Hal ini lantas turut menekan laba bersihnya sebesar 22,50% YoY menjadi hanya Rp1,18 triliun.


Penyebab penurunan adalah kontributor terbesar, yaitu penjualan kavling, rumah hunian, dan ruko yang terkoreksi 17,41% YoY menjadi Rp4,20 triliun. Sejalan, penjualan kantor juga turun 6,43% menjadi Rp378 miliar. Sehingga segmen real estate sebagai bisnis inti CTRA mengalami penurunan 13,30% YoY menjadi Rp5,08 triliun.


Di sisi lain marketing sales CTRA justru tumbuh 19% YoY mencapai Rp7,8 triliun, 80% dari target yang telah dinaikkan. Setelah penyesuaian JO angkanya mencapai Rp5,3 triliun, 78% dari target yang telah dinaikkan.

Kesimpulan



Secara persentase pertumbuhan, SMRA memimpin dengan pendapatan dan laba bersih yang masing-masing melonjak 43% dan 111%. Sedangkan CTRA menjadi satu-satunya big caps properti yang kinerjanya menurun.


Pertanyaannya, saham mana yang saat ini paling potensial? Bagaimana strategi tradingnya? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Laba Bersih ICBP Terkoreksi Efek Pembengkakan Beban Keuangan

2 Mei 2024, 17:20 WIB
article
ArtikelInsight

Performa Keuangan ASII di Kuartal I/2024 Menurun, Ini Penyebabnya

30 Apr 2024, 16:18 WIB
article
ArtikelInsight

Performa Keuangan UNVR Membaik, Gimana Efek Penarikan Es Krim?

26 Apr 2024, 15:09 WIB
article
ArtikelInsight

BBRI Cetak Laba Bersih Naik Tipis 2,7% Jadi Rp15,6 Triliun

25 Apr 2024, 13:06 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi