Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Saham IPO BREN Salip Market Cap BYAN, Intip Daftar 10 Saham Big Caps Terupdate

10 Nov 2023, 14:51 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Emiten Prajogo Pangestu yang baru IPO bulan Oktober lalu, yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berhasil menyalip kapitalisasi pasar PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Dengan demikian BREN masuk ke top 3 emiten terbesar di BEI.


Berdasarkan data BEI per 31 Oktober 2023, BREN mencatatkan kapitalisasi pasar sebesar Rp613 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan emiten batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong, BYAN, yang tercatat sebesar Rp608 triliun.


Sebagai induk usaha, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) berpotensi diuntungkan dengan meningkatnya kapitalisasi pasar atau market dari BREN. Alasannya karena sekitar 64,66% pemegang saham BREN dikuasai oleh BRPT.


Baca juga: Apa itu Market Cap? Definisi dan Strategi Investasi Berdasarkan Ukurannya


Lalu, bagaimana update top 10 emiten dengan market cap terbesar? Berikut ulasannya.

Emiten terbesar di BEI masih dipimpin oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan market cap saat ini mencapai Rp1.068 triliun. Sehingga hal ini menjadikan BBCA sebagai emiten satu-satunya dengan market cap melebihi Rp1.000 triliun.


Per kuartal III/2023, BBCA membukukan pendapatan bunga bersih naik 21,3%  menjadi Rp55,9 triliun. Laba bersihnya juga solid tumbuh 25,8% menjadi Rp39,42 triliun.


Sejak awal tahun pergerakan saham BBCA tercatat naik 3,80% ke level saat ini 8875.


Baca juga: Punya Saham Bank? Ini Deretan Indikator yang Wajib Dipantau

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menempati urutan kedua dengan market cap mencapai Rp744 triliun. 


Per kuartal III/2023, pendapatan bunga bersih BBRI tumbuh 4,86% menjadi Rp101,20 triliun. Sementara laba bersih naik 12,4% mencapai Rp44,21 triliun.


Saham BBRI terpantau naik 3,24% sejak awal tahun ke level saat ini 5100.


Baca juga: Bank Second Liner Saling Adu kuat, Mana yang Terhebat?

Si pendatang baru BREN berhasil masuk urutan tiga terbesar dari sisi market cap yang mencapai Rp613 triliun. 


Untuk laporan keuangan hingga kuartal III/2023 belum dirilis. Namun, sepanjang kuartal I/2023 BREN membukukan kenaikan pendapatan yang naik 10,04% menjadi US$147,08 juta. Bahkan, laba bersihnya naik lebih signifikan 30,96% menjadi US$29,24 juta.


Berhubung baru IPO, kita hanya bisa pantau sahamnya selama sebulan terakhir. Pada periode ini, saham BREN sudah melonjak 121,40% ke posisi sekarang di 5225.

Di posisi keempat ada emiten batu bara BYAN dengan market cap sebesar Rp608 triliun. Hingga artikel ini dibuat BYAN juga belum merilis laporan keuangan kuartal III/2023.


Adapun sepanjang semester I/2023 pendapatannya naik tipis 1,5% menjadi US$1,03 miliar. Namun, laba bersihnya turun 25,43% menjadi US$723,85 juta karena beban membengkak.


Sejak awal tahun pergerakan harga sahamnya turun 10% ke posisi saat ini 18900. Asal tahu saja, saham-saham batu bara mengalami penurunan efek turunnya harga komoditas batu bara.

Berikutnya ada bank pelat merah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan market cap mencapai Rp524 triliun.


Pendapatan bunga bersih BMRI tumbuh 12,3% menjadi Rp71,86 triliun hingga kuartal I/2023. Di sisi lain laba bersih turut tumbuh 27,4% menjadi Rp39,06 triliun.


Sejak bulan Januari pergerakan sahamnya terpantau naik 16,88% ke level sekarang di 5800.

Emiten tambang emas dan tembaga PT Amman Mineral International Tbk (AMMN) memiliki kapitalisasi pasar mencapai Rp471 triliun. Ini menjadikannya sebagai emiten dengan market cap terbesar keenam setelah BYAN.


Hingga kuartal III/2023, AMMN mencatatkan penjualan bersih yang ambles 41,6% menjadi US$1,15 miliar. Hal ini sejalan dengan laba bersih yang merosot 91,5% menjadi US$62,67 juta.


Sebagai catatan, AMMN melakukan IPO pada bulan Juli 2023. Selama tiga bulan terakhir sahamnya melonjak 127,50% ke posisi saat ini di 6825.

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi emiten terbesar di BEI setelah BMRI dengan market cap Rp346 triliun. 


Per kuartal III/2023, pendapatan TLKM tumbuh 2,2% menjadi Rp111,23 triliun. Adapun laba bersih tumbuh 17,6% menjadi Rp19,49 triliun.


Sejak awal tahun, saham TLKM masih tercatat turun 5,87% ke level 3530.


Baca juga: Laba Bersih TLKM Tumbuh 17%, Segini Kontribusi Indihome ke Perseroan

Selanjutnya disusul oleh emiten lain milik Prajogo Pangestu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang memiliki kapitalisasi pasar mencapai Rp258 triliun.


Per kuartal III/2023, TPIA membukukan penurunan pendapatan 14,64% menjadi US$1,66 miliar. Sementara rugi TPIA menyusut 80,8% menjadi US$21,38 juta.


Saham TPIA sejak bulan Januari sudah naik 21% ke level saat ini 3100.

Emiten konglomerasi PT Astra International Tbk (ASII) memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp234 triliun. 


ASII mencetak kinerja yang solid, di mana hingga kuartal III/2023 pendapatannya naik 8,8% menjadi Rp240,91 triliun dengan laba bersih yang tumbuh 17,2% menjadi Rp25,69 triliun.


Sejak awal tahun saham ASII stagnan stagnan naik 1% ke level saat ini 5750.


Baca juga: ASII Catat Laporan Keuangan Solid per September, Secara Kuartalan Justru Menurun

Menyusul, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menduduki posisi terakhir dengan market cap senilai Rp177 triliun.


Per kuartal III/2023, pendapatan bunga bersih perseroan naik 3,1% menjadi Rp31,13 triliun. Di sisi lain laba bersihnya solid tumbuh 15% menjadi Rp15,75 triliun.


Jika dilihat dari pergerakan harga sahamnya, BBNI naik 5,15% sejak awal tahun ke posisi saat ini di level 4850.


Baca juga: Sektor Banking 101: Pemahaman dan Cara Analisisnya


Lalu, mana saham big caps yang paling menarik dan potensial? Bagaimana strateginya? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Jelang Lebaran, Gimana Potensi dan Kinerja Emiten Poultry Secara Historis?

4 Apr 2024, 11:55 WIB
article
ArtikelInsight

BEI Terapkan Mekanisme Full Call Auction, Simak Dampaknya ke Investor

26 Mar 2024, 12:18 WIB
article
ArtikelInsight

ADRO Punya Proyek EBT Jumbo, Begini Prospeknya

22 Mar 2024, 13:35 WIB
article
ArtikelInsight

Skema Right Issue INCO dan Proyek Jumbo yang Sedang Berlangsung

21 Mar 2024, 13:25 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi