Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Rupiah Melemah, Emiten Apa Saja yang Berpotensi Diuntungkan?

7 Okt 2023, 12:34 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Tahukah kamu? Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tren pelemahan sejak Mei 2023 hingga saat ini meski pada perdagangan hari Jumat (07/10) rupiah menguat tipis 5 poin ke level Rp15.612.

Namun, secara garis besar, sikap hawkish The Fed menekan nilai tukar rupiah karena suku bunga AS berpotensi mengalami kenaikan sebesar 25 basis poin di sisa tahun 2023. Adapun imbal hasil obligasi Indonesia tenor 10 tahun naik di angka 7,2%, berada di posisi tertinggi sejak November 2022 atau 10 bulan terakhir. 

Hal ini sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar yang menilai yield obligasi lebih menarik ketika suku bunga naik dibandingkan dengan pasar saham karena instrumen obligasi dinilai lebih aman pada kondisi ini.

Pertanyaannya, emiten apa saja yang kira-kira bakal diuntungkan saat rupiah melemah? Berikut ulasan singkatnya.

Baca juga: Ini Deretan Emiten yang Berpotensi Rugi Saat Rupiah Lesu

Batu Bara

Ketika rupiah lesu terhadap dolar AS, pendapatan dari ekspor batu bara yang dihargai dalam mata uang asing bisa meningkat nilainya dalam rupiah. Ini dapat meningkatkan pendapatan perusahaan batu bara karena mereka menerima lebih banyak rupiah untuk setiap ton batu bara yang diekspor. Dampak positif ini nantinya tercermin dalam kinerja keuangan perusahaan.


Di sisi lain meskipun beberapa emiten batu bara telah mengalami kenaikan saham yang signifikan di tahun komoditas 2022, pasar energi cenderung menjadi lebih volatil. The Fed yang masih berencana untuk menaikkan suku bunga acuannya di tahun ini dapat mendorong penurunan harga minyak global.


Karena batu bara adalah substitusi minyak, maka harga batu bara sangat terkait dengan harga minyak. Sehingga turunnya harga minyak bisa memengaruhi harga batu bara yang juga akan turun. Namun, jika melihat tren tahunan, permintaan yang tinggi menjelang musim dingin di akhir tahun masih tetap kuat.


Selain itu, secara umum, perusahaan-perusahaan pertambangan memiliki tingkat utang yang relatif rendah, sehingga mereka memiliki keterbatasan paparan terhadap obligasi global. 


Baca juga: Risiko Fluktuasi Rupiah, Begini yang Harus Dilakukan Investor


CPO

Sebagian besar produksi CPO Indonesia diekspor ke pasar internasional. Sama seperti sektor batu bara, ketika rupiah melemah, pendapatan dari ekspor CPO bisa meningkat dalam nilai dolar.  Ini dapat meningkatkan pendapatan perusahaan CPO karena mereka memperoleh lebih banyak pendapatan untuk setiap ton CPO yang diekspor.


Namun, tantangan utama berasal dari kondisi ekonomi global dan harga minyak nabati dunia. Contohnya seperti perlambatan ekonomi China yang diprediksi bisa menekan permintaan ekspor CPO, mengingat Indonesia adalah negara eksportir CPO ke China.


Adapun tantangan dari lesunya harga CPO global.  Hal ini bisa semakin menekan kinerja keuangan karena rata-rata harga jual (average selling price/ASP) CPO bisa turun.


Baca juga: Panik Karena Market Turun? Baca Ini Dulu!

Emiten Lain yang Ditopang Ekspor

Selain itu, ada beberapa perusahaan lain di luar sektor komoditas yang bisnisnya juga dipengaruhi oleh kinerja ekspor, salah satunya adalah perusahaan konsumer seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR).


MYOR telah lama mengandalkan ekspor sebagai salah satu sumber utama pendapatan mereka. Hal ini terbukti dengan strategi pemasaran agresif mereka yang telah merambah pasar hingga ke Korea.


Hingga semester I/2023 pendapatan MYOR dari ekspor naik 8,23% mencapai Rp6,31 triliun. Angka itu setara dengan 42,58% dari total penjualan bersih perusahaan yang mencapai Rp14,81 triliun.


Sementara itu dari sisi neraca laba rugi, sekitar 32,46% dari kas dan setara kas perusahaan, yang jumlahnya mencapai Rp5 triliun, disimpan dalam dolar AS, yang mencapai sekitar Rp1,62 triliun. Simpanan dalam dolar AS ini terdistribusi antara bank berelasi dengan perusahaan (Rp74,50 miliar) serta bank pihak ketiga (Rp1,54 triliun).


Baca juga: Alasan Nilai Tukar Rupiah Bisa Melemah dan Dampaknya Terhadap Negara


Lalu, bagaimana strategi trading di tengah era pelemahan rupiah? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Jelang Lebaran, Gimana Potensi dan Kinerja Emiten Poultry Secara Historis?

4 Apr 2024, 11:55 WIB
article
ArtikelInsight

HRUM Makin Fokus ke Nikel, Diproyeksikan Bisa Dorong Laba Bersih Naik 33% di 2024

27 Mar 2024, 13:44 WIB
article
ArtikelInsight

BEI Terapkan Mekanisme Full Call Auction, Simak Dampaknya ke Investor

26 Mar 2024, 12:18 WIB
article
ArtikelInsight

ADRO Punya Proyek EBT Jumbo, Begini Prospeknya

22 Mar 2024, 13:35 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi