Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

GIAA Akan Merger dengan Citilink dan Pelita Air Guna Tekan Biaya Logistik, Gimana Skemanya?

24 Agu 2023, 16:09 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Baru-baru ini tersiar kabar dari Kementerian BUMN yang berencana akan menggabungkan tiga maskapai penerbangan, yaitu PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Citilink Indonesia, dan PT Pelita Air Service. 


Sekadar informasi saja, Citilink merupakan anak usaha GIAA yang berada di segmen low-cost carrier (LCC). Sedangkan Pelita Air adalah entitas usaha PT Pertamina (Persero) di sektor penerbangan. 


Aksi merger ini memiliki skema di mana nantinya Pelita Air akan masuk dalam bagian grup GIAA dengan bergabung bersama Citilink. Sehingga keduanya akan berada di bawah naungan GIAA. Namun, sebelum itu, restrukturisasi akan terlebih dahulu dilakukan pada Pelita Air lantaran ada utang dengan Pertamina.


Apabila merger disetujui oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Kementerian BUMN akan memindahkan linsey dan pesawatnya saja tanpa melakukan pemindahan terhadap PT. Dengan begitu Citilink akan memiliki dua jenis lisensi, yaitu yang berfokus pada LCC dan yang ditujukan untuk segmen medium hingga premium. Sedangkan GIAA fokus di segmen premium.


Merger bertujuan untuk efisiensi dengan menekan biaya logistik. Seperti contohnya Pelindo yang semula dari empat perusahaan dengan biaya logistik mencapai 23%, sekarang menjadi satu entitas 11% saja.


Adapun alasan lain untuk membuat industri penerbangan semakin kuat. Dengan mempertimbangkan jumlah penduduk dan pendapatan kapita per tahun, Erick Thohir menyebut bahwa seharusnya Indonesia punya 729 pesawat. Namun, saat ini baru tersedia 550 unit pesawat.


Aksi korporasi ini dinilai bisa memperbaiki kinerja fundamental perusahaan. Apalagi didorong adanya potensi efisiensi jika nanti merger selesai. Sehingga bisa menguatkan kinerja bottom line GIAA.


Asal tahu saja, sepanjang semester I/2023 pendapatan GIAA tumbuh 59% secara tahunan menjadi US$139 miliar. Di sisi lain, justru perseroan mencetak rugi bersih US$76,5 juta dari periode sama tahun lalu laba bersih US$376 miliar. Namun, secara kuartalan, rugi bersih sudah membaik 30,54%.


Sampai artikel ini dibuat, merger masih dalam proses penjajakan.


Mau tahu potensi saham GIAA? Bagaimana strategi tradingnya? Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Jelang Lebaran, Gimana Potensi dan Kinerja Emiten Poultry Secara Historis?

4 Apr 2024, 11:55 WIB
article
ArtikelInsight

HRUM Makin Fokus ke Nikel, Diproyeksikan Bisa Dorong Laba Bersih Naik 33% di 2024

27 Mar 2024, 13:44 WIB
article
ArtikelInsight

BEI Terapkan Mekanisme Full Call Auction, Simak Dampaknya ke Investor

26 Mar 2024, 12:18 WIB
article
ArtikelInsight

ADRO Punya Proyek EBT Jumbo, Begini Prospeknya

22 Mar 2024, 13:35 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi