Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Spread Suku Bunga BI dan The Fed Menipis, Apa Risikonya?

27 Jun 2023, 16:11 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada pekan lalu mengumumkan suku bunga acuan ditahan untuk kesekian kalinya di 5,75%. Kebijakan ini memastikan inflasi tetap terkendali dalam kisaran sasaran 3.0±1% pada sisa tahun 2023. 


Di sisi lain The Fed selaku bank sentral AS juga menahan suku bunga acuan di sana. Untuk pertama kalinya suku bunga The Fed ditahan di di level 5,0%-5,25%. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah rencana untuk menaikkan kembali suku bunga sebanyak dua kali di tahun ini. Potensi kenaikan tersebut mengacu pada proyeksi The Fed yang memperkirakan posisi suku bunga di kisaran 5,5%-5,7% pada 2023.


Artinya, apabila BI rate tidak dinaikkan lagi, maka spread antara suku bunga BI dan The Fed sangat tipis hanya 0,25% saja. Atau bahkan tidak ada spread sama sekali jika suku bunga BI ditahan sampai The Fed naikkan suku bunga ke 5,7%, sesuai perkiraan. Perbedaan besar jelas terlihat jika dibandingkan dengan era suku bunga rendah pandemi Covid-19 di mana spread masih terjaga 3,25%.


Untuk diketahui, suku bunga acuan BI tidak pernah lebih rendah dari suku bunga negara adidaya tersebut. Salah satu tujuannya adalah untuk menjaga spread agar tidak menjadi negatif. Sebab kondisi spread yang menyempit dapat menyebabkan beberapa risiko. 


Apabila suku bunga BI masih terus ditahan, akan ada potensi likuiditas atau peredaran uang yang berlebih dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dampaknya akan terasa pada perusahaan-perusahaan yang perlu mengimpor bahan baku dari luar negeri atau punya utang berdenominasi dolar AS.


Kemudian apabila spread suku bunga BI dan AS menyempit atau bahkan sama hingga negatif, maka ini akan mempengaruhi yield atau imbal hasil obligasi AS yang lebih menarik. Alhasil investor asing akan memindahkan modal mereka kembali ke AS yang kemudian menciptakan capital outflow di pasar keuangan Indonesia seperti saham dan obligasi. 


Seperti diketahui, keluar-masuknya modal asing di Indonesia membawa pengaruh yang cukup signifikan. Biasanya kalau asing lagi tidak tertarik untuk masuk, market akan cenderung sepi dan sideways seperti tidak ada “booster” yang menggerakkan. Dalam kondisi asing sudah masuk, tapi memutuskan untuk exit, biasanya harga saham atau IHSG mengalami koreksi karena besarnya uang yang keluar.


Mengetahui beberapa risiko tersebut, tidak heran suku bunga BI akan ikut dipengaruhi oleh suku bunga AS guna menjaga spread yang sehat. Beberapa kali BI menaikkan suku bunga karena The Fed juga menaikkan suku bunga mereka.


Pertanyaannya, bagaimana strategi investasi maupun trading saham di saat spread suku bunga BI dan The Fed kian menipis seperti saat ini?

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi